Arka menarik tangan Cia agar menduduki kursi yang tadi didudukinya, karena memang hanya ada 2 kursi di meja itu. Sebenarnya, Arka bingung bagaimana menjelaskan tentang Andre, surat-surat dan beberapa foto yang menyimpan hal tentang Cia, yang dapat memunculkan kemungkinan bahwa Cia sadar Arka memang untuknya atau bisa saja setelah terungkap tentang keluarga Cia yang sebenarnya, Cia akan hidup bersama keluarga kandungnya, meninggalkan Arka, dan Arka tidak sanggup hal itu terjadi, sekedar membayangkannya pun ia tak sanggup.
"Andre itu paman kita, nanti setelah Sheila keluar dari rumah sakit, akan kakak jelasin." Jelas Arka.
Cia mengangguk, berusaha percaya dan paham dengan penjelasan singkat Arka.
"Mauu." Hera membawa sebuah eskrim mochi yang baru saja dibelinya di kantin itu, membuat Cia menginginkannya karena memang ia menyukai segala makanan yang terasa kenyal di lidah.
"Gak usah." Sela Arka.
Cia menatap Arka yang berdiri di samping kanannya, lalu mencubit lengan Arka dengan cubitan kecil yang menyakitkan karena gemas Arka terlalu lebay, difikir dia anak balita yang mudah sekali terserang influenza.
Di luar memang hujan dan Arka tidak mau Cia batuk atau flu karena makan eskrim.
"Hemm. Lebay lu!" Ejek Doni.
--------
Arka menggendong Baby K dengan kagok, andai saja bayi ini tidak lahir dari rahim Sheila tetapi Cia---eh, Arka akan dengan ikhlas menerima bayi yang dia akui memang terlihat cantik dengan pipi merah yang lucu.
"Baby K senang sekali digendong daddynya." Kata Sheila yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Arka, tunggu saja, sebentar lagi ia akan mengungkap kebenaran tentang apakah ia memang ayah kandung Baby K.
Diam-diam, Arka memang sudah melakukan tes DNA Baby K, tinggal menunggu hasilnya saja.
---------
"Kenapa ya, Ra hidup gue complicated banget?"
Cia dan Hera duduk di taman rumah sakit karena merasa sumpek berada di ruangan Sheila.
"Gini Ci, sebenarnya lo itu beruntung masih ada Kak Arka yang segitu sayangnya sama lo sampai lo mau makan eskrim aja dia takut dia takut. Coba lo liat gue." Hera menghela nafas, menatap Cia yang juga menunggu lanjutan ucapannya.
"Dari bayi gue cuma diasuh babysitter, ya gue tau emang ga ada masalah dengan keharmonisan kedua orangtua gue, tapi lo tau? Mereka menganggap seakan-akan gue itu beban mereka, ya mungkin itu cuma persepsi gue, tapi apa pernah mereka dateng disaat gue pentas TK, disaat kelulusan SD, SMP gue, mereka aja pulang cuma setahun sekali, itu pun waktu idul fitri doang. Bahkan telfon tanya keadaan gue gimana mereka ga pernah, beruntung gue ada lo Ci, lo udah gue anggap saudara perempuan gue, dan perlu lo tau, lo beruntung masih punya Kak Arka." Hera berkata sesuatu yang selama ini menganggu hatinya, menjelaskan tanpa keluar air mata karena kemandiriannya membuatnya menjadi gadis yang tegar.
Cia mendekati Hera lalu memeluknya erat, mencoba menguatkan Hera yang mengalami pergolakan hati yang tidak jauh berbeda dengannya.
--------
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother Conflict (sudah terbit ebook)
Randomlink ebook : https://play.google.com/store/books/details?id=HOX5DwAAQBAJ Arka memiliki adik yang sangat disayanginya, 2 tahun lalu orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil dalam perjalanan menuju hotel di New York untuk melanjutkan proyek aya...
