Arka menggandeng tangan kiri Cia saat mereka memasuki mall. Setelah menuruti Cia untuk membeli eskrim yang tidak jadi dibeli dengan cara drive thru, Cia merengek pada Arka untuk menonton film horror terbaru di bioskop. Arka tak habis fikir, padahal adiknya itu akan menjerit ketakutan ketika menonton hantu, apalagi menonton di bioskop, tapi tak apa, demi adiknya tersayang ia rela, karena apapun akan ia lakukan demi adiknya.
"Mbak tiket The Crucifixion, beli dua ya mbak. Di kursi ini."
Cia memesan tiket dan memilih bangku tengah, untung saja masih ada sisa beberapa kursi di tengah, meskipun sudah 20 menit film berlangsung.
"Kak mau popcorn." Arka yang tadi sibuk mengecek pekerjaan kantornya di ponsel, menoleh ke arah Cia di sampingnya, Arka yang melihat eskrim Cia yang belepotan di sekitar bibirnya, mengelap dengan kemejanya.
"Iya ayok."
Setelah mendapat popcorn manis, mereka menuju tempat diputarnya film. Cia menyenderkan kepalanya di lengan Arka, Arka mengelus rambut Cia dengan sebelah tangannya, satu tangannya sudah pasti mengecek pekerjaan di kantor yang tadi ditinggalkannya.
"Waaaa! Kaget gue ya Allah!" Teriak Cia membuat Arka terkekeh, kenapa adiknya itu sangat menggemaskan, fikirnya.
Di tengah film yang mendekati anti klimaks, Arka mendapat telefon dari Sheila, tangan Arka satunya masih mengelus rambut Cia, ia takut Cia tau Arka sedang mengangkat telefon Sheila, setaunya Cia sangat tidak suka dengan wanita itu.
"Halo"
"Sayang, aku udah di rumah kamu ini"
Arka menoleh pada Cia, ternyata adiknya itu masih asik dengan tontonannya.
"Lo tunggu di situ! Gue ada urusan bentar!"
Arka menghela nafasnya, tidak mungkin ia mengajak Cia pulang sekarang atau meninggalkannya sendirian, bisa-bisa adiknya itu ngambek dan tidak mau bicara dengannya, dan pasti hal itu akan menyiksa batin Arka.
"Ya udah sayang, aku tunggu di kamar kamu ya."
Arka hanya menggumam lalu mematikan panggilannya. Sekarang ia fokus memandang adiknya yang terlihat serius melihat film di depannya, karena gemas melihat keseriusan adiknya, Arka dengan iseng mencium pipi Cia, menciumnya dengan bertubi-tubi.
Cia yang merasa terganggu, mendorong kepala Arka menjauh dari pipinya. "Risih ih! Adek lagi nonton ini jangan di ganggu."
Karena Arka belum puas menjahili adiknya, ia mencubit kedua pipi adiknya sambil menggoyang-goyangkannya, Cia yang terfokus ke depan mencubit perut Arka keras.
"Auh, adek sama kakaknya kok gitu." Kepala Arka ia senderkan di bahu Cia yang sudah tidak menyenderkan kepala pada lengannya.
--------
Perjalanan menuju ke rumah, Cia tidur terlelap di samping Arka yang menyetir. Pasti ia lelah karena setelah pulang sekolah ia bermain dengan kakaknya sampai sore.
Arka membenarkan posisi kepala Cia yang menyender pada kaca mobil, ia merapikan anak rambut Cia yang sudah berantakan.
Sampai di rumah, Arka menggendong Cia di depan seperti koala, ia tidak tega membangunkannya.
"Emmhh." Cia menelusupkan kepalanya di leher Arka dan mengencangkan pelukan di tubuh Arka.
"Mbak nanti gantiin baju Cia ya, kasian udah keringetan. Nanti jangan lupa ke kamar Cia mbak!"
Mbak Sari yang sedang mengaduk teh untuk wanita yang mengaku sebagai kekasih tuan mudanya itu buru-buru menyusul Arka yang masih berjalan di tangga.
"Kak, tadi di cariin perempuan. Katanya calon istrinya kakak, ya udah Mbak bolehin aja waktu minta ke kamar kakak."
Arka menganggukkan kepalanya dan mengisyaratkan Mbak Sari untuk memelankan suaranya, takut Cia akan terbangun.
Sebelum menuju kamar Arka di sebelah kiri kamar Cia, Arka menghentikan langkah Mbak Sari.
"Mbak gantiin baju Cia ya, AC di kamarnya jangan dibiarin terlalu dingin mbak, suruh dia makan, kalau ga mau panggil aku aja. Bilangin jangan masuk kamar aku dulu. Temenin dia ya mbak, jangan sampek dia ngerasa kesepian. Aku ke kamar dulu, ngurusin itu cewek. Mana mbak minumnya aku aja yang bawa."
Mbak Sari menyerahkan nampan yang dibawanya. Menerka apa lagi yang tuan mudanya perbuat.
--------
"Nih minum teh nya." Arka mendudukkan dirinya di sofa sebelah Sheila. Sheila yang menyadari kedatangan Arka mencium bibirnya dengan brutal.
Dengan sedikit kasar, Arka menghentikan ciuman sang wanita yang sekarang ia rutuki keberadaannya itu.
"Lo ngapain disini?" Tanya Arka dingin.
Untuk kesekian kalinya, Sheila duduk dipangkuan Arka tanpa persetujuannya, karena menghindari keributan yang bisa saja membuat Cia terbangun, Arka memilih membiarkannya.
"Aku kan mau tinggal disini sama kamu sayang, kamu kan katanya mau nikahin aku."
Arka tak habis pikir dengan wanita yang sedang menggambar pola abstrak di dadanya ini, ia saja belum bilang bahwa akan menikahi Sheila, tapi wanita itu bicara seakan-akan mereka sudah menyiapkan segala keperluan pernikahan.
Mendengar nada dering dari ponselnya, Arka melepas paksa Sheila yang berada di pangkuannya.
"Gue keluar dulu, telepon penting."
Sheila mengangguk lalu mencium bibir Arka sekilas.
Di luar kamar, Arka segera mengangkat telefon dari Doni.
"Halo?"
"Bro, mending lo turutin kemauan si Sheila aja"
Arka mengerutkan keningnya, dikira perkataan sahabatnya yang menyuruhnya menikahi Sheila hanyalah gurauan, tapi kenapa ini serius.
"Gila lo mah!"
"Beneran gue tuh, gue denger dia akan ngelakuin apa aja buat kebahagiaan dia sendiri. Lo mau apa nanti adek lo suatu saat disandera sama dia karena lo ga mau nikahin dia"
"Lo ngomong sekali lagi kaya gitu jangan harap lo masih temen gue!"
"Beneran bro. Turutin dulu lah maunya dia, walaupun gue yakin itu emang bukan anak lo, tapi seenggaknya nikahin dia dulu, gue bantu nyari bukti kedok busuknya dia"
"Yaudah makasih Don"
"Masama bro!"
Sebelum masuk ke kamarnya, Arka menyempatkan memasuki kamar Cia. Ia memandangi adiknya yang tertidur damai dan terlihat seperti bayi karena wajah polosnya, melihat itu entah kenapa ia teringat kejadian enam belas tahun lalu.
Sejak berumur 2 bulan, Arka diasuh oleh Oma opanya, karena kedua orang tuanya bekerja di luar negeri, dan karena keadaan Arka yang masih sangat rawan, ia ditinggal dengan Oma Opanya.
Saat ia berumur 8 tahun, kedua orang tuanya pulang dengan membawa seorang bayi perempuan berumur 5 bulan yang sangat lucu, karena Arka tidak pernah memiliki teman saat di rumah, ia sangat senang dengan kehadiran peri kecil yang kata mamanya, itu adalah adiknya. Sejak saat itu ia berjanji akan menjaga dan menyayangi adiknya melebihi ia menyayangi dirinya sendiri.
Arka mengecup kening Cia dengan sayang, tidak menyangka adik yang dulu suka menangis karena tidak pernah satu sekolah dengannya karena memang jarak usia mereka cukup jauh, sudah tumbuh menjadi remaja cantik yang menggemaskan.
"Kakak sayang adek, as always forever."
---------
Arka melihat Sheila tertidur di kasurnya, dress di atas lutut yang dikenakan Sheila tersingkap ke atas memperlihatkan dalaman warna hitamnya. Arka dengan cepat menutupinya dengan selimut.
Amit-amit mempunyai istri penggoda seperti Sheila, batinnya sambil bergidik.
Meskipun sejak kematian orang tuanya ia sering melampiaskan kesedihannya pada wanita sebangsa Sheila, tapi ia tetap tidak mau menikahi wanita seperti Sheila, menurutnya wanita-wanita tersebut hanya pantas digunakan untuk pemuas nafsu, akan jadi apa anaknya nanti jika ibunya saja seperti Sheila.
Memang dasar laki-laki brengsek, berani berbuat tidak berani bertanggung jawab, kenapa tidak mau menikahi kalau suka dengan wanita penggoda. Bukannya perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother Conflict (sudah terbit ebook)
Randomlink ebook : https://play.google.com/store/books/details?id=HOX5DwAAQBAJ Arka memiliki adik yang sangat disayanginya, 2 tahun lalu orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil dalam perjalanan menuju hotel di New York untuk melanjutkan proyek aya...
