link ebook :
https://play.google.com/store/books/details?id=HOX5DwAAQBAJ
Arka memiliki adik yang sangat disayanginya, 2 tahun lalu orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil dalam perjalanan menuju hotel di New York untuk melanjutkan proyek aya...
"Friends with benefits?" sela Cia saat Arka akan menjelaskan hubungan yang sebenarnya dengan Diana, tadinya memang Cia menanyakan, bagaimana dengan Diana kalau memang Arka berniat untuk melamarnya.
Cia menggeleng. "Nggak. Gimana-gimana?"
"Would you be my life-mate?" Arka menatap Cia dalam, duh deg-deg an sebenarnya dia.
Cia balas menatap Arka dengan tatapan menantang. "Mendingan kakak lurusin dulu kelakuan kakak, kakak juga pasti nggak mau kan kalau Cia kelak punya suami yang 'brengsek'."
Arka menelan ludahnya kasar, paham kalau Cia sedang menyinggungnya. Ajaran siapa coba mulut pedesnya Cia.
"Terus, gimana tuh sama Mbak Diana?"
Padahal, Arka sudah mengira Cia akan semakin mendiamkannya karena pernyataannya yang tiba-tiba, atas saran Doni sih sebenarnya, takut kalau kelamaan mereka berdua tidak ada ikatan yang sah tetapi masih dalam satu rumah, takut terjadi hal-hal yang 'sangat diinginkan', keenakan deh nanti si Arka, lagian Cia udah lulus juga, dan Arka juga udah nggak digangguin sama Sheila. Dan tanggapan dari Cia yang terkesan santai seperti itu malah bikin Arka makin bingung, keliatan dewasa banget gitu sekarang.
"Yaampun dek, sumpah kakak Cuma temenan sama Diana."
Cia meneguk tropical float di depannya sebelum membalas lagi perkataan Arka. "Ya orang aku nggak percaya."
Duh rese amat diajarin siapa sih.
"Ya udah, tapi tolong kasih kesempatan kakak buat berjuang."
Cia mengangguk. "Oke, aku bakal lihat. Dan cincin ini boleh aku pake sekarang?"
Arka tersenyum. "Silahkan, calon istriku."
"Dek, mau jalan-jalan nggak?" tanya Arka saat mereka berdua sudah keluar dari restoran, Cia yang merengek ingin cepat pulang karena ia risih dengan pakaian dan make upnya.
"Ke?"
Arka membukakan pintu mobil untuk Cia.
"Ke Venice, ya?"
Sekarang, Arka sudah berada di kursi kemudi di sebelah Cia.
Cia menatap Arka tajam, jauh amat ke Itali. "Ngapain?"
"Ya refreshing aja, sekalian hadiah buat kamu." Arka menjalankan mobilnya sambil berfikir bagaimana biar Cia mau ke venice Cuma berdua sama dia, tanpa Hera, apalagi Doni.
"Hadiah? Aku aja nggak minta hadiah apa-apa."
"Duh rese lagi." Gumam Arka pelan.
"Kenapa? Ngatain aku rese? Rese an mana sama orang yang nyium tiba-tiba dan bikin kehabisan nafas?"
Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, nggak berniat bales Cia, singa banget Cia sekarang, lagi PMS mungkin tuh.
"Kak, berhenti!" perintah Cia saat mobil mereka melewati sebuah Sekolah Dasar.
"Mau kemana, kamu?" tanya Arka saat melihat Cia akan membuka pintu mobil.
"Beli Cilok, tuh." Cia menunjuk pedagang Cilok di depan SD itu.
Arka mengelus dadanya, kebanyakan bergaul sama Hera nih kayaknya makanya jadi rese gini.
"Ya udah kakak aja yang keluar beliin."
"Beliin yang pedes."
"Nih." Arka menyerahkan seplastik cilok kepada Cia.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kenapa warnanya putih?"
"Saosnya abis, sayang."
"Nggak mungkin lah, gimana sih tau gitu aku beli sendiri."
Arka hanya diam tidak menanggapi ocehan Cia, mana tega juga dia ngasih saus dari penjual cilok yang warnanya nggak tau dari pewarna apa, apalagi kentel gimana gitu, takut dia tuh Cia kenapa napa.
Sampai di rumah, Cia segera mengganti pakaiannya dengan kaos oblong crop warna putih dan hotpants hitam.
Ia lalu keluar kamar, pengen dibuatin seblak sama Mbak Asri dia.
"Mbaak." Panggil Cia pada Mbak Asri yang sedang menyapu ruang keluarga.
"Gimana, dek?"
"Buatin seblak ya, nanti deh gapapa selesain nyapunya dulu, nanti Cia bantuin."
Arka baru saja keluar kamar masih dengan setelan yang digunakannya tadi, ia melewati Cia yang memang sedang menonton Rillakuma and Kaoru di ruang keluarga.
"Mau kemana?"
Arka yang tadinya melewati Cia, memundurkan langkahnya mendekati Cia.
"Ada meeting, dek." Arka duduk di sebelah Cia dan mengusap rambut Cia yang sedang menyandarkan tubuh di sofa.
"Ikuut."
"Nanti kamunya bosen, lama soalnya."
"Ya it's Ok, males juga Cuma rebahan di rumah."
"Nggak usah sayang, nanti sore deh kita jalan."
Cia menegakkan badannya. "Emang kenapa aku nggak boleh ikut? Mau ketemu sama Diana? Atau mau silaturahmi ke Sheila?"
Arka meneguk ludahnya kasar, ganas banget nih anak, seneng sebenernya di posesifin Cia gini (lah?) tapi kenapa galaknya dia seksi banget sih, Jadi pengen---Astaghfirullah.
"Ya udah ayo, kamu ganti baju dulu sana."
Cia hanya memakai denim jaket warna mustard dan mengganti celananya dengan jeans warna hitam.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Mbaak, bikin seblaknya nanti ya, tunggu aku pulang." Teriak Cia, tanpa menunggu balasan Mbak Asri, dia keluar dibarengi Arka.