3

6.3K 459 29
                                        

"Mami, Papi kenapa belum pulang?"

Pertanyaan Juven membuat Veranda yang sedang mendesain pakaian langsung menoleh.

"Sabar dong, sayang. Papi pasti masih sibuk kerja." Ucap Veranda tersenyum dan mencubit pipi gembul Juven.

"Tapi ini udah malem banget, Mami. Papi kan, biasanya cepet pulangnya." Veranda tersenyum. Tangannya meletakan buku serta pensilnya ke atas meja dan memeluk tubuh kecil Juven.

"Sabar, ya? Mungkin Papi lagi sibuk banget, makanya pulang telat." Jelas Veranda pada Juven yang masih cemberut.

"Tapi Juven kangen Papi, Mi." Kata Juven ikut memeluk Veranda.

"Iya, Mami tau kok. Mami juga kangen Papi. Mendingan, sekarang Juven naik ke kamar. Bobo, ya? Kan, besok masih sekolah." Ucap Veranda mengusap kepala Juven.

"Tapi Juven mau nemenin Mami tunggu Papi. Kata Papi, kalo Papi nggak ada di rumah, Juven harus jagain Mami." Veranda tersenyum mendengar ucapan Juven. Anak sekecil Juven sudah merasa memiliki tanggungjawab.

"Iya, Mami tau maksud Juven. Tapi sekarang Juven tidur, ini udah malem dan besok harus sekolah. Juven ngerti kan?" Juven menunduk dan menganggukan kepalanya. Perlahan tubuhnya melepaskan pelukannya dari Maminya dan turun dari atas sofa.

"Juven akan nurut sama Mami, tapi kalo ada apa-apa, Mami harus teriak ya? Biar Juven pukul yang ganggu-ganggu Mami." Veranda tertawa kecil dan mengacungkan jempolnya dengan tersenyum lebar.

"Oke! Sekarang, Mami anter Juven ke kamar, ya?"

Sepanjang jalan menuju kamar Juven, bocah kecil itu tak hentinya bercerita. Saat sudah ada di depan kamar Juven, dia berhenti dan berbalik menatap Veranda.

"Mami, inget ya? Kalo ada apa-apa, teriak yang kenceng. Oke?"

"Oke, sayang. Sekarang Juven tidur, ya?" Juven mengangguk dan mulai masuk ke dalam kamarnya, namun kakinya berhenti saat mendengar suara bel rumah berbunyi. Tanpa berkata apapun, Juven berlari meninggalkan Veranda yang mengejarnya.

"Juven!" Veranda terus memanggil-manggil Juven yang berlari ke arah pintu rumah.

Bocah laki-laki itu mengambil payung yang memang di letakan di dekat pintu. Tangan kanannya memegang payung itu dan tangan sebelahnya lagi membuka pintu rumahnya. Dia terdiam saat melihat orang yang ada di depan pintunya.

"Maaf, bapak cari siapa, ya?" Tanya Juven menurunkan payung yang tadi dia bawa. Mata bulatnya mengerjap beberapa kali dan menoleh ke arah Veranda yang baru datang.

"Maaf, cari siapa ya, Pak?" Tanya Veranda yang baru saja datang.

"Ini, Non, ada bunga." Kata pria di hadapannya itu.

"Da-"

"Dari siapa, Pak?" Tanya Juven menyela ucapan Veranda. Veranda memejamkan matanya melihat Juven yang amat sangat menjaganya.

"Silahkan di lihat sendiri ya, tuan kecil." Ucap pria itu tersenyum melihat tingkah Juven dan memberikan bunga itu kepada Juven. Perlahan tangan kecil itu menerima sebuket bunga mawar merah itu dari tangan sang pria. Tangan lainnya sudah menjatuhkan payung yang tadi dia bawa. Membuat Veranda menghela nafasnya dan berterimakasih kepada pria itu.

"Juven, angkat payungnya." Ucap Veranda pada Juven yang sudah berjalan ke ruang tamu sambil melihat-lihat isi bunga yang baru saja dia dapat.

"Tolong angkatin ya, Mi? Juven mau liat siapa yang kirim." Kata Juven dengan nada seriusnya. Veranda terkekeh mendengar nada bicara sang buah hati. Tangannya mengambil payung itu dan meletakannya di tempat semula.

You Are My Everything 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang