38

4K 448 20
                                        

"Nay, kamu bisa pulang sekarang?"

"Sayang, aku baru sampe di kantor. Kenapa emangnya?"

"Aku pengen kamu gendong deh."

"Hah? Gendong? Nanti aja waktu pulang, sayang. Gapapa, kan?"

"Nggak mau, maunya sekarang. Kamu tega anak kita ngileran gara-gara nggak cepet di turutin? Aku beneran pengen di gendong kamu, Nay."

"Astaga... ya udah, aku pulang, ya? Kamu tunggu bentar."

Setelah mendapat jawaban dari Veranda, Kinal menutup panggilannya. Baru beberapa menit yang lalu ia sampai di kantornya. Dan tiba-tiba Veranda sudah meneleponnya meminta ia pulang dengan alasan ingin digendong. Bagi Kinal tak masalah jika Veranda meminta ia menggendongnya. Hanya saja ia baru sampai di kantor beberapa menit yang lalu. Mau tidak mau, Kinal harus pulang kembali demi istri dan cabang bayinya.

Kinal melangkah keluar dengan membawa tasnya. Baru saja melangkah, suara Aaron membuatnya menoleh.

"Kak Kinal!"

"Eh, Ron."

"Mau kemana, Kak?"

"Ini, mau pulang dulu. Kakak kamu tuh, dia lagi ngidam minta di gendong."

"Hah? Minta di gendong? Aneh-aneh aja. Eh? Ngidam? Sejak kapan hamilnya?"

Kinal tertawa dan menepuk keningnya pelan. Ia lupa memberitahu Aaron kalau kemarin ia pergi itu untuk mengurus kehamilan Veranda. Dengan tersenyum manis, Kinal mengatakannya, "Waktu kemarin aku pergi sama dia, kita ngurus kehamilannya." Ucapan Kinal sontak membuat Aaron berseru senang dan memeluk kakak iparnya itu.

"Akhirnya Aaron punya ponakan lagi! Selamat ya, Kak? Aaron seneng banget." Ucap Aaron menepuk-nepuk bahu Kinal bahkan matanya sampai mengeluarkan air mata.

"Sampe terharu." Gumamnya mengelap air matanya. Kinal terkekeh pelan dan berpamitan sebelum Veranda marah.

*****

Kinal menghentikan mobilnya di depan rumah dan segera masuk ke dalam. Saat dia masuk, tampak Veranda sedang duduk di atas sofa ruang tamu. Perempuan bak bidadari itu tampak tenang dengan buku novel di tangannya.

"Ve, jadi nggak?" Suara Kinal membuatnya mengangkat kepalanya. Tersenyum dan meletakkan buku novelnya ke atas meja. Kakinya pun perlahan melangkah mendekati Kinal dengan senyum manisnya.

"Sekarang, ya? Aku pengen keliling-keliling komplek." Ucap Veranda tersenyum lebar dan memeluk erat tubuh Kinal.

"Kamu kangen aku, ya?" Ujar Kinal terkekeh pelan sambil membalas pelukan istrinya.

"Iya nih, aku kayaknya kangen kamu."

"Ya udah, aku ganti baju bentar, abis itu aku gendong kamu keluar." Kinal mengecup kening Veranda sebentar dan hendak menuju kamarnya.

"Nay, kerjaan kamu gimana?" Tanya Veranda menghentikan pergerakan kaki Kinal.

"Udah, sayang. Aku minta tolong sekretaris aku. Kamu tenang aja, ya? Bentar, aku ganti dulu." Veranda mengangguk dan membiarkan Kinalnya pergi.

Semenjak kejadian dimana Veranda salah paham, Kinal meminta teman SMA-nya untuk menjadi sekretarisnya. Hanya itu yang Kinal bisa agar Veranda percaya. Dan untungnya Veranda percaya.

Beberapa lama kemudian Kinal kembali dengan pakaian rumah biasa. Dengan senyum lebarnya, Kinal merentangkan kedua tangannya. "Ayo, sayangnya Nanal!" Serunya membuat Veranda terkekeh pelan.

Perlahan Veranda menaiki punggung Kinal, dan dengan sekuat tenaga Kinal menggendong tubuh Veranda yang belum terlihat buncit. "Aduh, jadi makin-makin nih, sayangnya aku." Ucap Kinal membuat Veranda memukul pelan bahunya.

You Are My Everything 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang