Hidupnya bagaikan berada di atas kapal yang terus terombang-ambing karena ombak yang tak kunjung berhenti. Usaha dan semangat yang terus dia keluarkan untuk sang buah hati yang kini sudah berumur 3 tahun.
Berjuang sendiri tanpa seorang pendamping setelah Tuhan mengambil nyawa orang yang paling di cintai. Dia terus berjuang demi hidup pangeran kecilnya yang tidak pernah berhenti membuatnya tersenyum.
"Mami!"
Panggilan itu membuatnya menghentikan tangannya yang sibuk akan pekerjaannya. Dia menoleh dan melihat sang buah hati sedang tersenyum ke arahnya.
"Juvennya Mami!" Serunya dan berlari ke arah putra tunggalnya itu. Di peluknya sang buah hati dan di balas tak kalah erat oleh pangeran kecil dengan baju sailornya.
"Mami, tadi Juven bikin mahkota dari kertas. Coba Mami pake." Dengan perlahan tangan Juven meletakan sebuah mahkota kertas ke atas kepala Maminya.
"Gimana? Cantik nggak?" Tanya sang Mami tersenyum sangat manis.
"Cantik dong, kan Mami Juven!" Seru Juven dengan gembira. Sang Mami kembali memeluknya dengan setetes air mata yang mengalir.
"Nay, lihat anak kamu, dia udah mulai besar. Dia udah sekolah, Nay. Harusnya kamu lihat gimana dia saat di sekolah." Batin Veranda, Mami Juven.
"Mami? Mami nangis, ya?" Tanya Juven pada Maminya sembari menghapus air mata Maminya.
"Enggak, sayang. Mami bahagia punya Juven." Ucap Veranda mengecup pipi gembul buah hatinya.
"Juven lebih bahagia punya Mami yang selalu ada buat Juven. Mami jangan nangis lagi, ya? Juven akan jagain Mami."
Betapa sangat bersyukurnya Veranda memiliki putra kecil seperti Juven. Pangeran kecil yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah dan selalu bersikap dewasa pada siapa saja yang berani menyakitinya.
"Juven mau makan?" Tanya Veranda menatap wajah Juven.
"Iya nih, Mi. Kayaknya perut Juven udah teriak-teriak minta makan masakan Mami." Keduanya tertawa akan ucapan Juven yang mengusap perutnya.
Veranda menggandeng Juven yang terus berteriak gembira ke arah meja makan. Juven yang sangat menyukai masakan Maminya langsung menghabiskan makanan yang Veranda siapkan dengan sangat lahap.
"Dia mirip kamu, Nay. Andai kamu bisa lihat dia sekarang ini." Gumam Veranda dalam hati.
*****
Veranda duduk di atas kursi ruang kerja Kinal yang belum sempat di pakai oleh Kinal. Dia menatap foto yang dulu Kinal letakan di atas mejanya itu. Senyumnya mengembang mengingat bagaimana ekspresi Kinal ketika meletakan fotonya dan Veranda serta Baby Ju. Foto saat Juven baru berumur dua bulan.
Dalam foto itu, tampak senyum keduanya mengembang dengan sempurna karena mereka baru di karuniai seorang anak laki-laki yang sangat tampan dan menggemaskan.
Suara pintu yang di buka membuat Veranda kembali meletakan pigura itu dan menoleh. Dia tersenyum melihat Juven yang berdiri masih memegangi gagang pintu.
"Mami belum bobo?" Tanya Juven masih dalam posisi awalnya.
"Juven sendiri kok belum bobo?" Tanya Verand balik.
"Juven bakal tidur kalo Mami juga bobo. Juven kan, anak laki-laki. Kata Onty Viny, anak laki-laki harus jagain Maminya dan nggak boleh bikin Maminya sampe marah apalagi sedih." Juven perlahan berjalan ke arah Maminya yang masih tersenyum padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Are My Everything 2
FanfictionAda banyak cerita yang bisa kita pelajari dalam hidup. Dari kesabaran sampai merelakan. Kisah cinta yang berawal dari sebuah rasa takut akan kehilangan dan berubah menjadi cinta sejati. Berbuahkan seorang putra tampan, pandai dan menggemaskan. Tak a...
