Tampak dua anak kecil yang baru saja keluar dari pintu sebuah rumah sedang berlari saling mengejar. Keduanya terus berlari mengelilingi halaman yang cukup luas itu.
Seorang bocah laki-laki yang sedaritadi mengejar gadis kecil berbando biru itu terus memanggil dan berusaha menangkap sang adik yang tak mau berhenti.
"Dedek! Jangan lari-lari, nanti dedek jatuh. Alice! Jangan jauh-jauh!"
"Kakak Juven kejar Al dong! Hahaha."
"Alice nanti ja... tuh... kan, Kakak Juven udah bilang, nanti jatuh. Jadinya jatuh beneran kan."
"Huaaa! Kakak Juven, sakit!"
Juven segera berlari ke arah adik kesayangannya itu. Dia berusaha mendiamkan Alice yang belum juga diam. Hingga sebuah suara membuat keduanya terdiam dan menatap wajah orang yang menyapa mereka.
"Hai, Alice! Hai, Juven!" Sapa pria itu tersenyum lebar ke arah keduanya.
"Kalian kok main sendiri di sini?" Alice yang tampak takut langsung bersembunyi di balik tubuh Juven yang lebih tinggi darinya. Tangannya mencengkeram erat baju yang Juven kenakan.
"Jangan takut, ada Kakak Juven." Bisik Juven menenangkan adik kecilnya itu.
"Permisi, Om. Juven sama Alice harus masuk." Ketika Juven dan Alice akan berbalik, pria itu kembali membuka suara.
"Kalian mau ikut Om sebentar, nggak? Nanti kalo kalian mau ikut, Om bakal kasih banyak kue dan mainan yang keren." Alice yang memang dasarnya tak bisa jauh dari kata mainan, langsung berbalik dan menatap pria yang kini tersenyum lebar.
"Beneran, Om?" Tanya Alice dengan mata berbinar. Juven yang mendengar Alice bertanya seperti itu langsung menarik pelan lengan Alice.
"Al, kata Papi Kakak, kita nggak boleh ikut sama orang yang nggak kita kenali. Ayo, masuk!" Ajak Juven menarik tangan Alice. Tapi pria berkacamata hitam itu kembali membuka mulutnya.
"Nanti Om bakal hubungi Papi dan Mami kalian. Jangan takut, orang tua kalian sangat kenal dengan Om. Jadi... Apa kalian mau ikut?" Mendengar hal itu membuat Alice tersenyum lebar dan melepaskan tangannya dari genggaman Juven.
"Ayo, Om! Al mau ikut, Om. Tapi janji, ya? Bakal anterin kita pulang? Kakak Juven nggak mau ikut?" Pria itu mengangguk dan melirik Juven yang kini sudah memasang wajah marahnya pada Alice.
"Kakak Juven kan, belum izinin Al buat ikut Omnya, kok Al langsung setuju gitu?!" Marah Juven pada gadis kecil yang kini tampak menundukan kepalanya.
"Maaf, Kakak Juven. Tapi Al cuma mau dapet mainan baru. Kemarin Dady marah sama Al karena Al nggak nurut. Jadi hari ini Dady nggak kasih Al mainan. Boleh ya, Kakak Juven? Kalo mau, Kakak Juven boleh ikut." Ucap Alice memanyunkan bibirnya.
Pria itu menghela nafasnya dan matanya sesekali melihat kiri-kanan, takut akan ada orang yang melihat mereka.
"Tapi Kakak Juven harus bilang Papi dulu. Nanti kalo Momy sama Dady kamu khawatir, gimana? Ayo! Bilang Papi sama Dady kamu dulu!" Juven kembali mencoba membujuk sang adik. Namun Alice menggeleng dengan wajah cemberutnya.
Sebelum Juven kembali membuka mulutnya, pria itu langsung menggendong Juven dan Alice. Juven yang sebenarnya tidak mau langsung memberontak. Tapi tubuh kecilnya kalah dengan tenaga orang dewasa itu.
Saat mereka akan melewati pintu gerbang satu-satunya yang ada di sana, dua satpam yang berjaga langsung menghalangi pria yang kini menggendong dua bocah yang sangat mereka kenali.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Are My Everything 2
Fiksyen PeminatAda banyak cerita yang bisa kita pelajari dalam hidup. Dari kesabaran sampai merelakan. Kisah cinta yang berawal dari sebuah rasa takut akan kehilangan dan berubah menjadi cinta sejati. Berbuahkan seorang putra tampan, pandai dan menggemaskan. Tak a...
