37

4.3K 416 49
                                        

Pagi-pagi sekali, Kinal sudah bangun dan membereskan rumah. Dia yang belum sempat mencari asisten rumah tangga untuk Veranda, memutuskan untuk membereskan rumah sendiri. Tidak hanya membereskan rumah saja, tapi Kinal juga mencuci pakaian, mencuci piring dan mengurus segala keperluan Juven.

Veranda yang masih tertidur di dalam kamar, tidak tahu kalau Kinal membereskan rumah dan mengurus anak tampannya yang sudah terbangun. Bocah tampan itu beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah ke bawah. Saat dia sudah di bawah, matanya melihat Papi kesayangannya sedang memasak.

"Papi, kok Papi yang masak?" Tanya Juven menarik kursi dan naik ke atasnya.

"Eh, sayang, Kok udah bangun?" Tanya Kinal nenoleh sebentar dan kembali sibuk dengan masakannya.

"Juven mimpi main sama dedek bayi, Pi. Dedeknya cantiiik banget. Terus, pas Juven bangun, ternyata cuma mimpi. Terus Juven ke bawah liat Papi lagi masak." Ucap Juven berdiri di atas kursi sambil menatap Kinal yang masih saja masak.

"Dedeknya cantik? Kayak tau cantik itu gimana." Kata Kinal tertawa kecil.

"Tau dong, Pi. Cantik itu kayak Mami." Kinal terkekeh pelan dan mematikan kompor. Dia berjalan ke dekat Juven sembari membawa piring yang sudah berisi makanan. Di letakannya di atas meja dan duduk di samping Juven yang masih berdiri di atas kursinya.

"Duduk dong, sayang. Masa berdiri gitu." Juven tersenyum dan duduk dengan benar.

"Papi, Juven boleh minta sesuatu ndak?"

"Apa tuh?"

"Juven pengen punya adek lagi. Kalo punya adek banyak, pasti Juven ndak sendirian."

Kinal terdiam sesaat mendengar ucapan Juven. Bocah tampan itu membuatnya ingin mengatakan apa yang belum dia dan Veranda katakan. Veranda ingin mengatakan pada Juven kalau dirinya sedang mengandung adiknya, tapi wanita cantik itu masih menunggu perutnya lebih besar agar Juven mengerti.

"Iya, nanti pasti Tuhan kasih adek buat Juven. Sekarang, Juven sarapan dulu, ya? Abis itu mandi." Ucap Kinal mengusap kepala Juven dan mulai mengambilkan bocah itu sarapannya.

"Papi, Juven boleh bilang sesuatu?" Gumam Juven melipat kedua tangannya di atas meja.

"Boleh dong, sayang. Apa?" Tanya Kinal meletakan piring Juven di depan bocah itu.

"Juven mau bawain sarapan ke Mami, jadi kita sarapan di kamar sama Mami aja." Kinal mengangguk seuju dan mengambil makanan untuk Veranda. Selanjutnya Kinal dan Juven membawa makanan mereka ke kamar atas.

Sesampainya mereka di kamar, Juven yang membawa makanan Veranda perlahan melangkah mendekati Maminya yang masih terlelap. Senyum manis Juven mengembang dan tangan kecilnya mengusap lembut pipi Veranda. Kemudian bocah itu mengecup pipi Veranda dengan sayang. Kinal yang melihatnya hanya bisa tersenyum. Anaknya begitu mencintai istrinya.

Tak lama setelah Juven mengecup pipi Veranda, wanita bak bidadari itu mulai membuka matanya. Senyum manisnya mengembang dan tangannya ia rentangkan, menyuruh Juven untuk memeluknya. "Peluk Mami." Katanya masih tersenyum. Dengan patuh Juven naik ke atas tempat tidur setelah meletakan piring yang ia bawa ke atas nakas. Di peluknya Veranda dengan kuat dan tidak lupa ia mengecup pipi Maminya.

"Mami, Papi udah masakin kita sarapan. Mami mau mam sama Juven di sini, kan?" Tanya Juven di hadapan Veranda yang sudah terduduk.

"Mau dong, anak Mami. Mana mamnya Mami?" Juven berbalik dan mengambil piring yang sebelumnya dia letakan di atas nakas.

"Ini!" Serunya dengan gembira.

"Makasih, sayang." Ucap Veranda mengambil piring dari Juven dan menyuruh Kinal untuk duduk.

You Are My Everything 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang