Pagi ini Kinal dan Veranda dibuat stress oleh Juven. Bagaimana tidak? Juven tak hentinya menangis dan menolak untuk tidak pergi ke sekolah. Alasannya karena ia ingin menjaga adiknya.
Sedari tadi Kinal yang masih mengantuk terus menatap Juven yang masih menangis di atas tempat tidurnya. Sedangkan Veranda sedang menyiapkan baju seragam Juven.
"Udah dong, sayang nangisnya." Kata Kinal mendekati Juven. Tapi bocah itu justru memundurkan posisi duduknya.
"Ndak mau, Juven ndak mau sekolah!"
"Juven, nggak teriak-teriak kayak gitu. Papi nggak pernah ajar Juven teriak-teriak, ya?"
"Tapi Juven ndak mau sekolah."
Kinal menatap Veranda yang kini sedang mencari sepatu Juven. Setelah ketemu, Veranda meletakannya di samping ranjang.
"Ayo mandi sama Mami." Ucapnya mengulurkan tangannya pada Juven. Tapi bocah itu kembali menggeleng cepat.
"Juven ndak mau sekolah, Mami." Katanya dengan diiringi tangisan kerasnya.
"Enggak, Juven. Juven harus sekolah. Masa nggak mau sekolah sih? Nggak malu sama Dedek Al?" Juven tak menjawab, ia justru mengambil boneka Stitch-nya lalu ia peluk.
"Ya udah. Nggak mau sekolah, kan? Mami bawa Dedek Jeven ke rumahnya Kakak Nabilah aja. Biar Dedek Jeven di urus sama Kakak Nabilah." Mendengar ucapan Maminya, Juven reflek turun dari atas tempat tidur lalu mengejar Maminya.
Sedangkan Kinal? Ia malah tidur di kasur Juven. Semalam ia memang bekerja lembur, jadi wajar jika pagi ini ia masih mengantuk. Ia terbangun juga karena Veranda membangunkannya untuk membujuk Juven ke sekolah.
"Mami! Ndak boleh bawa dedek!" Suara tangisan Juven semakin kencang saja. Ia berlari mengejar Maminya yang masuk ke dalam kamar.
"Makanya sekolah. Kalo Juven ndak mau sekolah, Mami bawa Dedek Jeven ke Kakak Nabilah." Ucap Veranda menatap Juven yang kini berdiri di dekat lemari.
Bocah itu menggeleng pelan lalu menunjuk adiknya yang tertidur nyenyak di dalam box. "Juven mau jaga dedek." Katanya pelan.
Veranda menghela nafasnya pelan, "Iya Mami tau Juven mau jaga dedek. Tapi kalo pagi Juven harus ke sekolah. Nanti siang sampe malem, baru Juven jaga adeknya. Ngerti?" Pertanyaan Veranda membuat Juven mengangguk kecil.
"Sekolah, ya? Juven ndak boleh gitu. Inget ndak anak-anak yang ada di jalan itu? Mereka ada yang nggak bisa sekolah karena orang tuanya nggak punya uang buat bayar sekolah. Juven harus bersyukur Mami sama Papi punya uang buat sekolahin Juven. Jadi Juven harus sekolah, ya? Nggak kasian sama Papi? Kerja sampe malem-malem demi beliin Juven makan terus bayar uang sekolah Juven."
Bocah tampan itu terdiam mendengar ucapan Maminya. Ia jadi ingat dengan anak-anak jalanan yang biasa ia lihat di dekat lampu merah ketika ia berangkat sekolah dan pulang sekolah. Dan semalam ia yang mengajak Papinya untuk tidur karena sudah sangat malam Papinya itu bekerja. Hatinya jadi terenyuh mendengar ucapan Maminya.
"Kalo Juven ndak mau sekolah, ya udah. Gapapa kok. Nanti biar Juven tinggal di jalan, terus Mami ambil anak di jalan yang mau sekolah. Mami kasih kue item, kasih sayur sop makaroni, kasih boneka Thomas."
Veranda terus mengoceh agar anaknya itu mau ke sekolah. Dan rencananya itu berhasil.
"Endak, Mami. Juven ndak mau tinggal di jalan. Juven mau ke sekolah." Kata Juven mengelap air matanya dengan tangannya.
"Bener?"
"Bener."
"Sini peluk Mami dulu."
Dengan cepat Juven memeluk Maminya. Veranda tersenyum kecil, ia berhasil membujuk Juven. Tak lupa Veranda menggendong Juven menuju kamar bocah itu lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Are My Everything 2
Fiksi PenggemarAda banyak cerita yang bisa kita pelajari dalam hidup. Dari kesabaran sampai merelakan. Kisah cinta yang berawal dari sebuah rasa takut akan kehilangan dan berubah menjadi cinta sejati. Berbuahkan seorang putra tampan, pandai dan menggemaskan. Tak a...
