Pagi ini Beby bangun dengan mata sembab karena semalaman dia menangis. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Shania saat ini. Dan hari ini, dia bermaksud akan pergi ke rumah orang tua Shania untuk membawa Shania pulang.
Selesai dia membasuh wajahnya, kakinya melangkah menuju kamar Alice. Ketika pintu terbuka, gadis kecil itu tampak masih terlelap. Padahal biasanya sebelum Shania membangunkannya, gadis kecil itu sudah bangun.
Beby terdiam sebentar dan berjalan perlahan mendekati ranjang bergambar Mickey mouse itu. Matanya menatap sendu pada gadis kecilnya yang kemarin menangis tiada henti. Di tangannya, ada pigura kecil yang biasanya ada di atas nakas dan kini berada dalam pelukannya. Pigura yang berisi foto mereka. Betapa sakitnya hati Beby melihat pemandangan pagi seperti ini.
Setetes air mata mengalir dari kelopak matanya dan segera di hapusnya air mata itu karena Beby tak mau kalau gadis kecilnya itu melihat air matanya. Tangannya terulur untuk mengusap kepala Alice. Namun, saat jarinya menyentuh kening gadis kecil itu, dia benar-benar terkejut merasakan panas tubuh Alice yang sangat tinggi.
"Alice! Sayang! Ayo, kita ke rumah sakit, nak." Beby langsung menggendong tubuh kecil Alice yang masih tertidur. Saat dia akan melepaskan pigura yang Alice pegang, tangan gadis kecilnya itu tampak terus menggenggamnya seakan tidak ingin melepaskannya. Akhirnya, Beby membiarkan pigura itu terbawa. Sesegera mungkin dia membawa Alice menuju rumah sakit terdekat.
Selama perjalanan, Beby sesekali melirik Alice yang dia baringkan di kursi belakang. Ini pertama kalinya Alice demam begitu tinggi hingga membuat tangan Beby bergetar sangat hebat. Dalam hati dia terus berdoa agar anaknya itu tidak apa-apa.
Sesampainya di rumah sakit, Beby langsung menggendong Alice dan membawanya ke ruang dokter yang biasa menangani Alice. Setelah itu, gadis kecil itu sudah di tangani dokter dan Beby menunggu dengan harap-harap cemas.
"Gimana, dok?" Tanya Beby saat dokter selesai memeriksa keadaan Alice.
"Kamu kembali lagi kemari tiga hari lagi, Beb. Kalo demamnya belum turun juga, kita langsung pemeriksaan darah." Jawab dokter sembari menuliskan sesuatu.
"Tapi beneran nggak apa-apa kan, dok? Saya takut Al kenapa-napa." Ucap Beby yang sesekali melirik gadis kecilnya itu.
"Untuk sekarang, kita belum bisa mendiagnosa, Beb. Tapi kalau sampai tiga hari demamnya belum turun juga, kamu bawa kemari lagi buat tes darah. Tenang, Al kan udah biasa demam kayak gini." Penjelasan sang dokter tidak membuat Beby merasa tenang.
"Tapi ini pertama kalinya Alice demam tinggi, dok." Kata Beby tampak gelisah.
"Iya, Beb, saya tau. Pokoknya, kalo demamnya belum turun juga atau ada gejala lain, kamu langsung bawa dia kemari. Kamu tau kan maksud saya?" Beby mengangguk dan menerima kertas yang di berikan sang dokter.
"Kamu tebus obatnya dan minumkan ke Alice seusai yang saya tulis. Ngomong-ngomong, Shania kemana?" Pertanyaan sang dokter membuat Beby menghela nafasnya beberapa kali dan mencoba tersenyum.
"Shania lagi keluar kota, dok. Jadi Alice sama saya." Dokter mengangguk mengerti dan keduanya langsung menoleh ke atas ranjang saat mendengar lirihan Alice.
"Dady..." Beby langsung bangun dari duduknya dan mengusap kepala Alice yang masih terasa panas.
"Kenapa, sayang?" Tanya Beby tersenyum tipis.
"Al aus." Beby tersenyum dan tak lama dia menerima segelas air putih dari dokter.
"Ini, sayang." Alice langsung meminum habis air putihnya dan melihat ke arah dokter yang masih tersenyum padanya.
"Onty dokter makasih." Ucap Alice tersenyum.
"Al, pusing ndak?" Tanya Beby mengusap kepala Alice.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Are My Everything 2
Hayran KurguAda banyak cerita yang bisa kita pelajari dalam hidup. Dari kesabaran sampai merelakan. Kisah cinta yang berawal dari sebuah rasa takut akan kehilangan dan berubah menjadi cinta sejati. Berbuahkan seorang putra tampan, pandai dan menggemaskan. Tak a...
