5

5.6K 448 32
                                        

Shania menatap bayinya yang kemarin malam baru saja dia lahirkan. Bayi yang amat manis. Anugerah terbesar untuknya karena di izinkan menjaga gadis kecil yang tertidur dengan lelapnya di samping tubuhnya.

"Seandainya Dady kamu liat kamu lahir ke dunia, pasti Dady kamu bakal seneng banget, sayang. Momy nggak tau apa yang udah terjadi. Tapi Momy janji, Momy akan selalu ada buat kamu." Ucap Shania mengecup kening buah hatinya itu.

Dia benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi selama ini. Bebynya di temukan dalam keadaan tidak bernyawa, dan kini gadis kecilnya lahir tanpa seorang ayah.

"Shan!"

Shania cepat-cepat menghapus air matanya dan menoleh pada orang yang baru saja datang. Dia berusaha tersenyum menyambut kedatangan sang General Manager JKT48.

"Gimana? Masih sakit?" Tanyanya duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Shania.

"Lumayan sih, Kak. Rada nyut-nyutan." Jawab Shania tersenyum tipis.

"Ya udah, istirahat aja. Jangan banyak gerak, takut jaitannya kebuka." Shania mengangguk dan menoleh pada tatapan Melody yang jatuh ke tubuh kecil sang buah hatinya.

"Gimana dia? Baik-baik aja, kan?" Tanya Melody berdiri dan berjalan ke dekat bayi kecil yang amat manis.

"Baik kok, Kak." Ucap Shania tersenyum melihat Melody menggendong bayinya secara perlahan.

"Kamu lucu banget sih, sayang? Manis banget kayak Momy sama Dady kamu." Ucap Melody menimang-nimang anak Shania.

"Kak Melody buruan nikah, minta Kak Lidya cepet biar bisa punya dedek hehehe." Melody terkekeh dan menatap Shania.

"Nanti aku bakal nikah kok, tapi nggak tau tuh, dia kapan mau lamar akunya." Shania mengangguk paham.

"Siapa namanya? Aku lupa." Ujar Melody kembali menatap bayi kecil yang dia gendong.

"Alice, Kak. Alice Vallery Chaesara." Gumam Shania menunduk. Dia merasa seperti tertusuk pisau jika mengingat nama yang berasal dari Beby. Dia akan selalu mengingat Beby jika menyebutkan nama bayi kecilnya.

"Shan, aku tau ini nggak mudah buat kamu. Tapi kamu harus kuat buat besarin gadis kecil ini. Dia butuh kamu. Dia butuh perhatian penuh dari kamu. Jadi, kamu harus selalu jaga kesehatan, ya? Jangan biarin penyakit dateng buat kamu." Shania mengangkat wajahnya dan tersenyum. Kepalanya mengangguk mengiyakan ucapan Melody.

"Oh iya, Kak Melody ke sini sendirian?" Tanya Shania menerima Baby Al dari gendongan Melody.

"Iya, aku kesini naik mobil. Lidya lagi sibuk sih, jadi nggak bisa jemput." Jawab Melody mengusap kepala Baby Al yang ada dalam gendongan Shania.

"Ooh. Kak Frieska gimana, Kak? Terakhir aku denger, dia ribut sama Bunda, ya?" Melody terkekeh mendengar ucapan Shania.

"Oh itu, enggak kok. Itu Naomi ngerjain dia. Aku kira juga mereka berantem, ternyata enggak." Shania mengangguk.

"Eh," Shania menimang-nimang Baby Al ketika bayinya itu sedikit terusik.

"Yah? Kok nangis? Gimana nih, Kak?" Tanya Shania kebingungan.

"Loh? Kok gimana? Kan kamu Momynya." Ucap Melody ikut bingung.

"Cup-cup, sayang. Ulululu anak Momy kok nangis?" Shania sedikit menepuk punggung kecil Baby Al yang di bedong.

"Kayaknya dia aus deh, Shan."

"Eh? Aus? Terus?"

"Ya, kamu kasih dia ASI lah, masa aku yang kasih ASI."

You Are My Everything 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang