"PAPIII!!! MAMIII!!! ADA KECOA!!!"
Baru saja akan turun dari atas tempat tidur, anakku tercinta itu sudah berteriak kencang sekali. Pasti dia ke kamar mandi dan melihat ada seekor kecoa yang berjalan di atas tembok. Juven, Juven, ganteng-ganteng kok penakut kecoa.
Aku segera berdiri sebelum Veranda menyuruhku. Karena aku tahu kalau saat dia melihatku masih duduk di atas kasur, dia akan mengomeliku.
"Nal, it-"
"Iya-iya aku tau kok." Ucapku sebelum dia melanjutkan ucapannya.
Aku segera berlari menuju kamar Juven yang berada tepat di samping kamarku. Kamar itu sudah terbuka dan sudah tampak rapi meski tidak rapi-rapi sekalih sih, ya maklum anak kecil kalau bersihin masih sedikit acak-acakan.
"Juven!" Panggilanku langsung mendapat respon darinya.
"PAPI! TOLONGIN JUVEN! KECOANYA JELEK!" Aku tertawa kecil mendengar suaranya yang berteriak-teriak di dalam kamar mandi. Baru juga kecoa satu, udah berisik.
"Kenapa sih? Kecoanya cuma satu itu, Ven." Kataku memasuki kamar mandi. Terlihat pangeranku itu sedang duduk di atas kloset.
"Papi! Itu kecoanya, kecoa terbang, Juven takut!" Serunya dengan keras.
"Hah? Kecoa terbang? VEEEE!!!"
*****
Veranda terlonjak bangun mendengar teriakan Kinal serta Juven yang bersamaan. Dia segera mencepol rambutnya dan berlari ke arah kamar Juven dengan sedikit mengantuk. Takut jika terjadi apa-apa dengan orang yang dia cintai.
"Kenapa sih kalian? Kok teriak-teriak?" Tanyanya menatap Juven dan Kinal yang sedang berpelukan di atas tempat tidur.
"Mami! Itu ada kecoa di kamar mandi. Juven mau mandi." Adu Juven melepaskan pelukannya dan berlari memeluk pinggang Maminya.
"Kecoa? Astaga, Kinal itu cuma kecoa." Omel Veranda menatap Kinal yang menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
"Itu terbang, Ve. Aku geli sama kecoa terbang, hiih!" Serunya memeluk bantal guling Juven.
"Ya udah sana, kamu mandi cepetan. Biar aku urusin Juven. Sama kecoa aja kayak sama hantu, penakut!" Ujar Veranda sembari mengambil obat nyamuk gas dan memasuki kamar mandi Juven.
Sedangkan Juven yang sudah kembali duduk di atas kasurnya menatap Kinal yang masih ikut duduk bersamanya. "Papi nggak mandi?" Tanya Juven polos.
"Takut."
"Tapi nanti Mami marah."
"Biarin."
"Nanti kalo nggak mau beliin Papi jajan?"
"Papi beli sendiri."
"Kalo-"
"KINAL MANDI!"
Reflek Kinal melompat dari atas tempat tidur Juven dan berlari ke kamar mandi kamarnya. Juven yang melihat Papinya lari seperti itu hanya menoleh ke arah Maminya dengan senyum manisnya.
"My Mom is hero!" Serunya melompat dan memeluk Veranda.
Veranda yang baru saja ingin menyuruh Juven segera mandi, mengurungkan niatnya dan membalas pelukan Juven. Pagi ini Juven benar-benar sudah membuat rumah seperti hutan. Berteriak-teriak tanpa mempedulikan tetangga sekitarnya.
"Lain kali jangan teriak-teriak, ya? Mami nggak ngajarin Juven teriak-teriak kayak di hutan." Ucap Veranda mengusap kepala Juven.
"Siap, Mami! Jadi, kecoa jeleknya udah nggak ada?" Tanyanya mendongakan kepala.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Are My Everything 2
FanficAda banyak cerita yang bisa kita pelajari dalam hidup. Dari kesabaran sampai merelakan. Kisah cinta yang berawal dari sebuah rasa takut akan kehilangan dan berubah menjadi cinta sejati. Berbuahkan seorang putra tampan, pandai dan menggemaskan. Tak a...
