Nadin baru saja pulang dari mengajar TPQ. Ia melihat jam dinding, pukul lima sore. Sebentar lagi maghrib.
"Masak apa, ya?" Gumamnya. Ia terbiasa masak di sore hari dan juga pagi. Kadang jika ia sedang banyak tugas, ia hanya masak di pagi hari, lalu malamnya dihangatkan. Setidaknya ia bisa memasak, meskipun sederhana.
Nadin meraih sayur sawi di kulkas, lantas mengambil sebungkus tahu. Baiklah, saatnya berkreasi!
Mendekati maghrib, masakannya sudah jadi. Ia tersenyum senang, tinggal makan.
Keren ya, Nadin?
Sebetulnya tidak juga. Karena sejak dulu, ia senang membantu Bi Inah memasak saat di rumah Tante Rina. Ia merasa harus membantu sesuatu. Dan kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang, sehingga mereka tidak perlu membeli makan kecuali untuk makan siang.
Tante Rina? Tentu saja senang bukan kepalang, menyebut Nadin menantu idaman.
Jangan dikira menikah muda itu gampang. Bagi Nadin, menikah bukan hanya masalah baper dan cinta-cintaan. Ia malah sama sekali tidak memikirkan itu saat menjawab "iya" dulu. Baginya, menikah itu urusan menyempurnakan iman dan memikul tanggungjawab besar. Bukan hanya Kak Rayhan yang bertanggungjawab padanya, namun ia juga memiliki amanah yang harus ia jalankan.
Bukannya ia berpikiran pendek dengan menikah muda. Ia memikirkan untuk hidup selamanya dengan orang yang sama. Mungkin saat ini belum, namun saat lebih dewasa nanti ia dan Kak Rayhan-nya akan benar-benar menjalankan hidup mereka seperti orang yang sudah berkeluarga, begitu pikirnya.
Toh dengan menikah sekarang, ia bisa melindungi dirinya dari bahaya zina.
Sehabis maghrib setelah membaca Alquran, ia memakan masakan buatannya. Alhamdulillah enak, pikirnya.
"Kak Rayhan pulang kapan ya?" Ia bertanya pada handphone. Kasihan, udah nikah tapi tetep aja kayak jomblo ngenes.
Ia kadang suka bertanya-tanya, apa yang sebenarnya suka Kak Rayhan lakukan hingga sering pulang terlambat. Padahal ia tau Kak Rayhan tidak banyak tugas, juga tidak mengikuti bimbel apapun karena tak mau.
Nadin tak ingin suudzon, ia percaya pada Kak Rayhan. Meskipun ia tau Kak Rayhan bandel, ia juga tau bahwa Kak Rayhan tidak se-nakal itu. Kak Rayhan beda. Buktinya ia tidak merokok.
Brakk!!
Tiba-tiba pintu depan terbuka. Nadin berdiri, ia yakin itu adalah Rayhan. Sepertinya lagi-lagi suara motor Rayhan tidak terdengar. Ketika hendak menyambut dengan tersenyum dan menjawab salam,
"Astaghfirullah! Kak Rayhan!!"
Bruk. Badan Rayhan ambruk di depan pintu, penuh dengan simbahan merah di pakaian.
"KAK!!"
Nadin berdiri panik. Ketika hendak mendekat, wajahnya pucat melihat warna merah pekat itu. Ia terhuyung mendekati Rayhan, tiba-tiba kepalanya pusing karena melihat darah.
Terlalu banyak darah, terlalu banyak!
Tangannya dingin, ia seperti kehilangan kesadaran ketika sekelebat bayangan masuk ke pikirannya. Ia memegang kepala yang tiba-tiba pusing dan pandangannya berputar-putar. Allahuakbar! Bayangan itu terlalu menakutkan untuk diingat.
Nadin menunduk di samping Rayhan, lantas nafasnya tercekat karena bayangan itu makin jelas.
Bayangan setahun lalu, ketika ia harus berhadapan dengan warna merah yang sama, pekat yang sama, dengan simbahan darah yang amat banyak.
Trauma itu, trauma Nadin akan darah.
"Kak.." Nadin memanggil pasrah, tidak berani menyentuh Rayhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afterlight
SpiritualBagaimana perasaanmu kalau siswa paling bandel di sekolahmu, ternyata adalah suamimu? Nadina, umur 17 tahun, tahu jawabannya. Bukan dijodohkan, apalagi married by accident. Ia sadar se sadar-sadarnya, dan menerima permintaan orang yang amat berjasa...
