AL-11. Kita Bukan Mahram

33.6K 2.4K 47
                                        

Rayhan mengernyit melihat sebuah kotak kado yang terbungkus rapi dalam tasnya. Sore ini ia baru pulang sekolah, lantas langsung pulang ke rumah. Ia menolak ajakan teman-temannya untuk balapan motor malam nanti dengan alasan tidak enak badan. Padahal, sebetulnya ia malas.

Ia membolak-balik kado di tangannya. Dari siapa, ya? Batinnya bertanya-tanya.

Daripada terus penasaran, ia akhirnya membuka kado tersebut. Dan dalam hitungan detik, kertas kado dan pita yang membungkus rapi kotak tersebut sudah sobek dan berhamburan di lantai.

Rayhan mendengus melihat isinya. Ia menatap pada sebuah surat berwarna pink yang ditulis besar-besar: FROM GITA.

Ia tidak peduli apa kado yang Gita berikan, sebelum itu ia malah hampir melempar kado tersebut ke dalam tempat sampah di pojok kamar.

Namun pikirannya berkata lain. Ia melihat lagi kado itu sebentar, lantas beranjak pergi. Menuju kamar Nadin.

***

Nadin yang baru saja pulang sekolah terkejut melihat sebuah kotak di atas kasurnya.

Apa, nih. Ia bertanya-tanya.

Matanya membelalak melihat tulisan FROM: GITA di surat berwarna pink yang ada di dalam kotak. Ia langsung tau bahwa ini milik Rayhan. Lantas kenapa ada di kamarnya?

"Kak Rayhan, ini kadonya kenapa ada di kamar aku?" Nadin mengetuk kamar Rayhan.

"Buat kamu," Rayhan menjawab dari dalam.

Nadin menggeleng-geleng heran. Jelas-jelas ini pemberian dari orang lain untuk Rayhan, masa dengan seenaknya diberikan kepada Nadin.

Tapi ya sudah. Toh juga Nadin ujungnya akan cemburu kalau Rayhan memakai pemberian Gita, haha.

Nadin memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan melihat isi kotak. Ia menatap kado itu, sebuah jam tangan berwarna hitam yang terlihat mengkilap.

Nadin menghela nafas. Ini untuk laki-laki, mana mungkin Nadin bisa memakainya.

Iseng, ia memfoto jam tangan itu dan mengirimnya ke grup.

Ting! Handphonenya berbunyi tak beberapa lama.

raniaar: Heeh itu jam tangan wenney! Kok kamu beli begituann

fitaanaksholihah: Wadaaw nadin beli wenney

nadina: Emang knp sih? Itu aku nggak beli

fitaanaksholihah: Itu paling murah harganya 2 juta na

Nadin terbeliak menatap pesan dari Fita.

Hah?! 2 juta?!

Gita benar-benar menghabiskan banyak biaya untuk membeli kado Rayhan. Ia jadi tidak tega karena Rayhan malah memberikannya kepada Nadin.

Lalu jam tangan ini akan ia apakan? Harganya mahal, apa ia jual lagi saja ya.

Ia jadi teringat dengan ekspresi Gita saat melihat gantungan kuncinya tadi. Ia terlihat sangat heran dan penasaran.

Apa jangan-jangan, gantungan kunci yang dibelikan oleh Tante Rina harganya mahal juga? Batin Nadin. Karena ia pikir, Gita paham sekali dengan barang-barang mahal.

Namun ia akhirnya kalah dengan rasa letih yang mendera tubuhnya sejak sepulang sekolah. Setelah ia berganti pakaian, ia membenamkan wajahnya di kasur, tidur.

***

Matahari masih tenggelam di alam mimpi ketika Nadin terbangun oleh alarm handphone. Ia menutup mulut saat menguap, lantas berdoa sehabis bangun tidur.

AfterlightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang