"kak, nadin sdh di rumah."
Pesan itu berkedip-kedip di layar handphone Rayhan, membuat si empunya terkaget. Ia menatap layar sekali lagi, memastikan apa yang ia baca barusan adalah benar.
"kak, nadin sdh di rumah."
Pesan itu masih sama, dikirimkan sepuluh menit lalu. Rayhan yang saat ini tengah berada di pelataran masjid langsung bergegas memakai sandalnya, kemudian berlari menuju gerbang masjid. Pikirannya hanya dipenuhi satu nama, Nadin.
Ia tak memedulikan beceknya tanah yang ia injak. Genangan air yang tersisa bekas hujan tadi masih membanjir di jalanan. Rayhan berlari, mempercepat langkah menuju rumah. Beberapa kendaraan melintas, jalanan mulai ramai karena hujan sudah reda.
Sungguh lucu, orang-orang bersembunyi dalam rumah ketika adzan berkumandang, lantas keluar saat waktu maghrib sudah di ujung. Apakah batas keimanan dipengaruhi oleh hujan?
Rayhan melintasi jalanan perumahan yang tadi dilewatinya. Ia sempat melambaikan tangan pada salah satu kenalannya yang kebetulan melintas dengan sepeda motor besar di jalan raya. Mungkin temannya itu bertanya-tanya, untuk apa ia malam-malam berjalan kaki seorang diri. Ya, jika bukan karena Nadin, sepertinya Rayhan juga ogah.
Nadin.. bagaimana sebuah nama itu bisa membuat dirinya khawatir sampai seperti ini. Padahal dulu ia sempat menyangsikan perasaannya sendiri.
Awalnya, ia merasa jika ia hanya menganggap Nadin sebagai adik. Ia merasa perasannya hanya sebatas empati. Namun, rasa tidak rela tiba-tiba muncul ketika ia tau salah satu temannya menyukai Nadin. Perasaan itu menyusup ketika melihat Nadin tertawa riang, jauh dari jangkauannya semasa SMP.
Sebelum mereka berdua menikah, bukan hal yang baru bagi Rayhan untuk melihat nadin di rumahnya. Namun anehnya, Nadin bisa rapat sekali menjaga auratnya hingga tak pernah sehelai rambut pun ia lihat. Ia tidak pernah melihat telapak kaki Nadin tanpa dibalut kaos kaki, padahal mereka berpapasan di dalam rumah. Atau jika tidak, Nadin bisa segera menyembunyikan diri dengan sangat cerdik.
Awalnya ia heran, sejak kapan Nadin menjadi begitu tertutup dengannya. Padahal sewaktu mereka belum terlalu remaja, mereka sering bermain monopoli berdua. Nadin dan Rayhan pernah dekat, sebelum akhirnya Nadin menyadari bahwa Rayhan bukanlah mahramnya.
Nadin bisa menjaga diri sepenuhnya, menghindarkan dirinya dari apa yang Allah larang, menempatkan diri sesuai apa yang Allah suka. Dan itu, alasan pertama dirinya sadar bahwa ia telah jatuh hati pada gadis sederhana itu. Meski dirinya tau ia tidaklah alim apalagi shaleh, tapi perasaan itu terus tumbuh tanpa bisa ia cegah.
Sepanjang jalan, kenangan-kenangan itu muncul begitu saja. Seperti potongan memori yang terfragmen rapi dalam sanubari, lantas mencuat keluar ketika pemiliknya sedang mengingat semuanya.
Rayhan mempercepat langkah untuk sampai ke rumah. Ia merutuki dirinya yang ceroboh, membiarkan Nadin pulang sendiri. Gadis itu memang keras kepala.
Pintu depan rumah ia tutup hingga menimbulkan suara berdebam, lantas ia bergegas menaiki anak tangga ntuk mencari Nadin di kamarnya.
"Na..,!"
Bruk. Pintu terakhir ia buka, pintu kamar Nadin.
"Nadin," panggilnya.
Di hadapannya, Nadin tertidur tanpa selimut di kasur yang dingin akibat bekas seragamnya yang basah. Sepertinya, sehabis mandi Nadin lagsung tepar dan tertidur begitu saja. Nafasnya naik turun teratur, namun keringat bercucuran di dahinya.
Rayhan menghela nafas. Hatinya diliputi kelegaan luar biasa melihat Nadin di hadapannya. Ia terduduk di kasur, membiarkan euforia kelegaan itu membanjir. Dipandanginya wajah yang tengah terpejam di depannya, sambil berucap syukur dalam hati, karena Allah masih membawakannya Nadin. Membawakan Nadin-nya kembali padanya.
Namun kemudian, Rayhan berjengit begitu menyadari bahwa kasur serta seprei yang Nadin tiduri dalam kondisi basah, sama sekali tidak kondusif bagi orang yang habis kehujanan. Matanya tiba-tiba menangkap gurat wajah Nadin yang tampak menggigil.
Dan begitu ia memberanikan diri menyentuh dahi nadin, ia kaget. Badan Nadin panas sekali!
Ia kebingungan, apa yang harus ia lakukan?
Tenang, rayhan, tenang. Ia mencoba menata pikirannya. Ia berpikir apa yang harus dilakukan jika seseorang sedang sakit, karena sepertinya Nadin terserang demam.
Perasaan bersalah kembali menghampiri hatinya. Andai ia lebih perhatian sedari dulu, Nadin tidak akan jatuh sakit. Jika saja ia lebih peka, Nadin akan baik-baik saja sekarang.
Astaghfirullah, tidak boleh berandai-andai.
Rayhan bingung, ia harus apa? Menelpon mamanya terlalu gengsi untuk dilakukan. Biasanya jika ingin mencari tahu sesuatu.. kita bertanya kemana?
Aha! Selintas pikiran tiba-tiba muncul di kepalanya. Mbah Google!
Rayhan segera mengetik di tab pencarian. "Bagaimana jika seseorang sakit demam?"
Rayhan garuk-garuk kepala, menyadari betapa bodohnya dirinya. Ia lalu membaca instruksi. Langkah pertama, pastikan pasien berada di tempat hangat.
Ia tambah bingung. Kasur Nadin basah, ia harus bagaimana?
Kata-kata Mbah Google ia baca, 'pindahkan pasien ke tempat yang hangat'. Rayhan termenung. Ia harus memindahkan Nadin? Tiba-tiba ia malu sendiri.
Ayolah, lo suaminya! Kata hatinya menginterupsi. Rayhan tambah keki. Suami?
Akhirnya dengan hati-hati dan penuh gerakan kaku karena takut salah, Rayhan memindahkan Nadin ke kamarnya. Ia terhenti sejenak di pintu ketika Nadin dalam gendongannya menggeliat pelan. Duh, ia baru pernah seperti ini.
"Jangan bangun.. jangan bangun..," bisiknya yang berharap-harap cemas, takut Nadin terbangun saat ia menggendong Nadin. Jangan sampai wajahnya yang memerah ini ketahuan.
Rayhan bisa bernafas lega setelah berhasil memindahkan Nadin ke kasurnya. Setelah itu, ia menyelimuti Nadin dengan selimut tebal supaya hangat. Dipandanginya wajah Nadin yang penuh keringat.
Instruksi selanjutnya dari Mbah Google, kompres dengan air dingin. Secepat kilat, ia menuju kamar mandi untuk mengambil air. Setelah itu ia mengambil handuk kecil unntuk mengompres dahi Nadin yang panas.
Nadin terbatuk pelan ketika Rayhan mengompresnya dengan hati-hati. Rayhan menahan nafas, berharap Nadin tidak terbangun. Gadis itu kini wajahnya sepucat kertas, meski bibirnya tak lagi menggigil. Rayhan mengusap dahi Nadin, menahan tangannya di sana beberapa lama, membiarkan panas itu berpindah dari dahi Nadin ke telapaknya.
Setelah memandangi Nadin beberapa lama, ia lantas lanjut ke instruksi selanjutnya. Siapkan obat!
Rayhan turun menuju dapur untuk mencari kotak obat-obatan yang biasanya ditaruh mamanya di atas kulkas. Setelah menemukan apa yang ia cari, ia kembali ke samping Nadin. Ia harus menunggu supaya Nadin bangun agar bisa minum obat.
Menurut Mbah Google, instruksi selanjutnya yaitu biarkan pasien beristirahat. Rayhan akhirnya memutuskan untuk membiarkan Nadin tidur meski belum meminum obat. Besok pagi saja Nadin meminum obat supaya sakitnya segera hilang. Dan ia berharap, ketika terbangun besok, Nadin sudah pulih seperti biasa.
Setelah menatap wajah tertidur itu sampai puas, Rayhan mematikan lampu kamar. Ia lantas menutup pintu dengan hati-hati, menuju lantai bawah. Ia berniat tidur di depan televisi. Sebelum itu, ia sempatkan berkata kepada yang terpejam di depannya,
"semoga lekas sembuh, Nadin."
***
bersambung.
Assalamualaykum..
Alhamdulilah, im back. Part ini ditulis sekaligus memenuhi request yang waktu itu, ada yang minta gantian dong Rayhan yang peduli, jangan Nadin terus. Wkwkwk sudah yaa, begini nih kelakuan Rayhan.
Author minta doanya yaa supaya dimudahkan dalam menulis, hehe. sampai berjumpa di part depan! :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Afterlight
DuchoweBagaimana perasaanmu kalau siswa paling bandel di sekolahmu, ternyata adalah suamimu? Nadina, umur 17 tahun, tahu jawabannya. Bukan dijodohkan, apalagi married by accident. Ia sadar se sadar-sadarnya, dan menerima permintaan orang yang amat berjasa...
