"Na, ayo pulang. Udah malem, besok kamu harus sekolah," ujar Rayhan saat mereka turun dari bianglala.
Senyum Nadin luntur. Yaah, kapan lagi Kak Rayhan baik hati mau diminta apa saja. Ia masih ingin menaiki semua wahana.
"Nadin belum ngantuk.. pengin naik yang lain."
"Besok-besok lagi ya. Kamu besok harus upacara, jangan sampe terlambat."
Nadin manyun. "Ya udah.. ya udah. Kita naik satu wahana lagi. Oke?"
Yeeay. Nadin berseru tertahan. "Roller coaster, boleh?"
Rayhan pucat pasi. "Apapun asal jangan itu." Nadin tertawa.
"Hmm.. apa ya?"
Jika boleh jujur, ia tak ingin naik wahana apapun lagi. Ia hanya ingin menikmati malam berbintang ini sedikit lebih lama.
"Nonton atraksi aja mau?" Tanya Nadin riang. Ada atraksi motor balap yang sampai malam masih ramai ditonton. Orang-orang berkerumun di pinggir arena, menatap antusias atlet pasar malam itu beraksi dengan motor trek yang sudah diatur lintasannya sedemikian rupa.
Rayhan mengiyakan. Apa sajalah untuk Nadin. Mereka membeli tiket, berdesakan dengan pengunjung. Beruntung, kata mbak penjual loketnya, ini putaran terakhir atraksi malam ini. Nadin mengangguk-angguk. Diabaikannya tatapan si embak karcis yang menatap mereka penuh selidik.
Mungkin penasaran, dikira mereka ABG pacaran hingga hampir larut seperti ini belum juga pulang. Terlebih, penampilan Nadin seperti ustadzah dari pondok yang sedang keluar, hihi. Masa anak alim seperti Nadin pacaran. Pasti banyak orang yang heran.
"Wuoow!" Nadin berseru senang menatap atlet itu menggerung-gerungkan mesin motor, lantas mulai melaju.
Rayhan berdecih. "Aku juga bisa kayak gitu.. kamu belum pernah liat aku balapan motor, sih.."
Nadin menoleh. "Apa Kak Rayhan bilang? Ngomong sekali lagi, sini Nadin jewer!" Ucapnya menceramahi. Rayhan meringis. Ia lupa, kan ia sudah tobat.
Suasana makin ramai ketika si atlet beratraksi di lintasan melingkar. Nadin fokus menatap ke depan, berseru riang. Sementara Rayhan yang sekarang kesal, ia diabaikan. Tau gitu lebih baik naik bianglala satu putaran lagi, deh..
Udara malam makin dingin, tapi suasana bertambah ramai. Rayhan meraih jemari Nadin yang hampir beku tertiup angin dingin.
"Eh?" Nadin menoleh. Rayhan tersenyum. "Akhirnya kamu liat aku."
Nadin tersipu. Rayhan menggenggam erat tangannya, menggosok pelan, menghangatkan.
Di tengah ramai kerumunan orang yang asyik menonton atraksi, di sela angin dingin yang berhembus, di bawah langit gelap yang berbintang, dan di tengah gemuruh dada yang bertalu, ada genggaman tangan tersembunyi di keramaian.
Hingga..
"Mas, mbak, udah malem. Masih ABG kok pacarannya sampe malem banget!"
Seketika genggaman tangan itu terlepas. Nadin kaget, Rayhan apalagi. Ada seorang ibu-ibu yang menggendong anak kecil yang sedang tertidur, serta suaminya yang sedang merokok disapingnya, menatap Nadin dan Rayhan sinis.
"Memangnya besok nggak sekolah?"
Lha? Nadin keki. Ibu ini kepo sekali.
Tak ayal, orang-orang di sampingnya ikut menoleh. Mau tak mau mereka penasaran juga karena ibu tadi bersuara cukup keras.
"Heran ya, anak sekarang. Jilbabnya gede gede kaya di pesantren, tapi kelakuan sama bejatnya kalo pacaran."
Nadin membisu, kesal. Rayhan lebih-lebih. Ibu ini sok tahu sekali.
Padahal tak jauh dari mereka, juga ada sepasang muda-mudi yang tengah berpelukan. Kenapa ibu itu tak menasehati mereka saja yang sepertinya jauh dari kata sudah halal?
"Maaf Bu, kami.."
"Nggak usah jelasin, Mas. Saya tau kok.. tau. Dijaga ya, pergaulannya. Mbaknya juga jilbabnya panjang tapi mau dipegang-pegang tangannya. Apa nggak malu sama pakaian?"
Nadin berusaha menahan emosi yang naik ke ubun-ubun. Ia berusaha sekuat tenaga menampilkan senyum, berusaha mengabaikan pandangan orang-orang sekitar yang jadi ikut menonton. Apalagi mbak-mbak karcis yang tadi, kelihatannya senang sekali ia dipermalukan seperti ini.
"Ibu, mohon maaf ya, Bu.. Bukan saya lancang. Tapi sebelum bicara ada baiknya ibu berkaca dan bertanya dulu.
Kami ini SUDAH menikah, ibu. Kalau tidak percaya tanya aja deh sama orang tua kami. Dan omong-omong, mungkin nasehat ibu bisa ditujukan kepada pihak yang lebih membutuhkan." Ujarnya tegas, sambil melirik pasangan anak muda yang tak ragu berpelukan dan pacaran di sebelahnya. Mereka nampak salah tingkah.
Ibu itu tampak terkejut. Begitu juga dengan mbak-mbak karcis tadi.
"Kami permisi ya, Bu." Nadin cepat-cepat menggandeng Rayhan pergi dari situ, sambil menahan dongkol setengah mati. Rayhan meringis.
Ibu tadi hanya garuk-garuk kepala saat diomeli suaminya. Orang-orang yang tadi menonton mereka kini fokus lagi pada permainan.
Sungguh, Nadin kesal setengah mati. Ada-ada saja ibu itu.
Mungkin niatnya baik, tapi caranya salah dan tidak etis sama sekali. Terlebih, membawa-bawa jilbab. Padahal kan, mengingatkan orang pun ada adabnya; yaitu di kala sepi dan sendirian saja agar tak menyinggung perasaan.
Nadin tak habis pikir, jilbab seolah menjadi penilaian sosial yang menjadi beban. Padahal, jilbab itu kewajiban. Tidak semua wanita berjilbab itu sempurna tanpa cela, berjilbab bukan berarti bebas dari dosa. Namun, dengan berjilbablah yang akan menghindarkan kita dari dosa. Karena wanita shalihah pasti akan taat.
Dan yang lebih parah, kenapa seolah lingkungan sosial mewajarkan perempuan tak berjilbab untuk melakukan perbuatan di luar batas, ya. Seperti muda-mudi tadi yang sudah jelas berpelukan padahal bukan mahram, tapi malah diwajarkan.
Haduh, jika begini orang yang berusaha mengamalkan syariat berpakaian jadi banyak menanggung ekspektasi sosial.
"Udah keselnya?" Tanya Rayhan di dalam mobil, mereka memutuskan pulang karena Nadin keburu bad mood.
Nadin tersadar dari pikirannya, lantas mendengus sebal. "Ngeselin, ih.."
Rayhan hanya tersenyum. "Kamu keren kalo lagi marah kaya tadi,"
Nadin tambah dongkol. "Tau, ah!"
Rayhan terkekeh. "Udah, jangan dipikirin. Mungkin ibunya niatnya baik meski udah suudzan duluan sama kita.
Ya gimana lagi. Muka kita masih imut-imut, sih.."
Nadin mau tak mau tertawa. "Aku kali yang imut. Kak Rayhan mah, amit-amit. Hahaha."
"Heh, durhaka yaa kamu sama suami,"
Keduanya tergelak bersama-sama. Rasa kesal Nadin menguap begitu saja. Huuf, sudahlah.
Malam ini cukup lucu. Karena genggaman tangan tersembunyi di keramaian, mereka malah jadi tontonan. Hihihi.
***
Bersambung.
Part ini intermezzo aja. Hihi.
Aku up cepet kann? Haha itung2 permohonan maaf deh udh ngilang
Work tanyatanya masih dibuka ya. QnA masih ditunggu, Nadin sama Rayhan masih siap nerima pertanyaan seaneh apapun🙄 wkwk
Cek part sebelumnya untuk QnA.
Sampai jumpaa🌞
KAMU SEDANG MEMBACA
Afterlight
SpiritualBagaimana perasaanmu kalau siswa paling bandel di sekolahmu, ternyata adalah suamimu? Nadina, umur 17 tahun, tahu jawabannya. Bukan dijodohkan, apalagi married by accident. Ia sadar se sadar-sadarnya, dan menerima permintaan orang yang amat berjasa...
