"Kenalin, Aina. Saya suaminya Nadin."
***
Nadin dan Aina tengah duduk berjajar di meja makan. Suasana hening, hanya terdengar dentingan sendok dan piring. Suara tv yang masih menyala juga tak membuat ramai suasana.
Wallahi, Nadin bingung harus berbuat apa. Ia merutuki keteledorannya yang selalu tak mendengar suara pintu terbuka atau motor Rayhan memasuki garasi. Dan saat ini, ia harus menanggung akibatnya di depan Aina, yang sejak tadi hanya memandanginya dengan tatapan bingung.
"Kamu.. mau ngomong, Ain?" Nadin bertanya takut-takut, memecah keheningan.
"Bukannya Nadin yang mau ngomong?"
Jawaban spontan Aina membuat Nadin meringis. Benar juga, ia harus menjelaskan. Namun hatinya bimbang, haruskah ia membongkar rahasia ini?
Pikirannya mengawang, teringat kenapa ia dan Rayhan bisa menikah. Namun ketika teringat kejadian beberapa menit lalu, ia langsung geram. Bisa-bisanya Rayhan dengan santainya mengatakan hal tersebut kepada Aina, lantas langsung pergi lagi. Ia bilang hanya mau mengambil sesuatu yang ketinggalan, namun haruskah Kak Rayhan membuat semuanya terbongkar sekarang? Meski tak dapat ia pungkiri, hatinya menghangat mendengar pengakuan Rayhan.
Nadin berdeham untuk menghilangkan kegugupan. "Ehm.. jadi gini, Ain. Kalo-kalo kamu bertanya-tanya nih, perkataan Kak Rayhan tadi itu.. bener, kok," ujarnya sambil garu-garuk kepala.
Aina bergeming, masih dengan wajah kalemnya. "Iya, lalu?"
Nadin garuk-garuk kepala lagi. "Ehm.. kira-kira udah empat bulan lebih..,"
Aina mengangguk-angguk paham, masih kalem.
Nadin gemas dengan reaksi sahabatnya satu itu. "Kok kamu biasa ajah siiihh, Ainn??"
Aina bingung, lantas terkekeh. "Maaf, Na.. habisnya aku bingung harus bereaksi kayak apa. Aku takut kalau aku nunjukin ekspresiku, bisa-bisa kamu tertekan gara-gara aku. Hehehe..,"
Ya ampun. Nadin memandang wajah Aina yang super-innocent. Ia lantas tertawa, "baik banget sih, kamu, Ain,"
"Tapi aku penasaran.. kok bisa, siih?"
Nadin tertawa lagi, melihat reaksi Aina sesungguhnya. Dan akhirnya, malam itu mereka habiskan dengan Nadin yang bercerita, dan Aina mendengarkan.
***
Malam ini, di kamar Nadin, Aina masih setia mendengarkan cerita panjang tentang Nadin dan Rayhan. Ia bahkan jadi kehilangan rasa kantuknya ketika nadin menunjukkannya album foto ketika akad dulu. Malu-malu, ia membuka album foto yang sering ia pandangi sebelum tidur.
Di halaman pertama, tertulis namanya dan Rayhan yang diukir dengan indah. Aina tertawa, mengatakan kalau Nadin sudah mendahului Fita, karena Fita berkata ia akan menjadi yang pertama menikah di antara mereka berempat.
Aina takjub melihat foto di halaman selanjunya. "MasyaAllah, Na.. kamu cantik banget..," ia memandang foto Nadin yang terbalut gaun putih yang sederhana namun cantik, dengan sedikit pulasan make up di wajahnya. Nadin yang dipuji hanya terkekeh, Aina tak tau seberapa gugupnya ia ketika itu, apalagi tanpa satu pun teman di sampingnya.
Dan halaman selanjutnya membuat Aina bertambah takjub. "Ya ampun. Foto ini jangan sampe dilihat Fita apalagi Gita, ya." Ia segera membalik halaman, beralih dari foto Rayhan yang terbalut kemeja, sedang melafalkan akad nikah. Nadin langsung tertawa.
Dan pandangan Aina tehenti pada satu foto, gambar diri Nadin bersanding dengan Kak Rayhan. Keduanya tampak gugup di depan kamera. Aina tertawa melihatnya. "Lucunya..,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Afterlight
EspiritualBagaimana perasaanmu kalau siswa paling bandel di sekolahmu, ternyata adalah suamimu? Nadina, umur 17 tahun, tahu jawabannya. Bukan dijodohkan, apalagi married by accident. Ia sadar se sadar-sadarnya, dan menerima permintaan orang yang amat berjasa...
