AL-52. Ngerepotin

24.6K 1.8K 139
                                        

Malam itu Gita terdiam. Hening melingkupi dirinya dan kakaknya, Anton saat cerita itu telah usai.

Hanya tersisa wajah Anton yang menyendu, dan hatinya yang terkejut.

"Lo.. pernah mau bunuh diri, Bang?" Gita bertanya pelan, berbisik pedih.

Anton tersenyum getir. Mengangguk. "Maafin Abang, Git. Gue bukan abang yang baik buat lo."

Gita terdiam. Hatinya sakit sekali. Kakaknya.. apa saja yang sudah ia lalui? Sesakit itukah? Kenapa ia bahkan tidak tahu?

Gita hancur. Kakaknya yang selama ini ia kira sangat kuat dan menghadapi ayahnya dengan kenakalan, ternyata tak lebih kuat darinya. Mereka sama-sama hancur.

Dan ia.. tidak pernah ada disana saat kakaknya itu butuh pertolongan. Ia hanya fokus pada dirinya sendiri. Ia hanya mengurusi lukanya sendiri, tanpa sadar bahwa sebenarnya ada yang lebih sakit darinya..

"Jangan benci dia, Dek. Nadinlah alasan gue masih hidup."

Gita terpekur, dan satu per satu air mata kembali jatuh dari pelupuknya.

"Kenapa lo nggak pernah cerita, Bang? Kita harusnya lewatin ini sama-sama..," 

Netra Anton mengembun. "Lo nggak perlu tau, Git..,"

Gita terisak. Hatinya belum menerima ini semua. "Jadi, Nadin yang nolongin lo?"

Anton mengangguk. "Ray juga. Dia yang bawa gue ke rumah sakit, dia juga yang bayarin biaya pengobatannya. Dan gue minta dia nyembunyiin ini dari semua orang,"

"Lo tau, Dek. Nadin yang nyadarin gue, kalau nggak seharusnya gue menyerah."

Gita menatap Anton penasaran. "Kenapa?"

"Dia nulis surat buat gue, waktu gue sekarat di rumah sakit."

Anton masih mengingatnya dengan jelas, surat yang Nadin tulis waktu itu. Adik kelasnya itu rupanya menitipkan surat itu pada Rayhan.

"tidak apa-apa sakit di dunia asal di akhirat bahagia. Kalau Kak Anton bunuh diri, rugi dua-duanya. Di dunia sengsara, di akhirat juga dapet siksa."

Ya juga, ya. Maka dari itu ia tidak ingin terlihat lemah lagi. Meski.. ada beberapa hal dari kalimat itu yang masih belum ia mengerti.

"Makanya gue nggak mau lo tau, Git. Karena gue nyesel pernah coba bunuh diri. Makanya juga, gue sama Ray sepakat untuk nggak pernah ngungkit masalah itu lagi, seperti semuanya nggak pernah terjadi. Kita sepakat untuk nggak pernah ngomongin itu meski sedetik." Ujar Anton mengakhiri ceritanya.

"Itu sebabnya lo nggak pernah nanya tentang Nadin ke gue?" Tanya Gita.

Anton mengangguk. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membicarakan apapun tentang hari itu, termasuk tentang Nadin, pada orang lain.

Gita menghela nafasnya.

"Gue.. selama ini udah jahat ke dia, Bang," ucapnya sambil menatap langit-langit. Hatinya sesak. Jadi selama ini.. ia sangat jahat pada orang yang justru, sudah menolong orang yang paling ia sayangi, kakaknya.

"Mungkin.. memang seharusnya gue dan Kak Ray nggak pernah ada, ya. Dari cerita lo, jelas Nadin udah kenal Kak Ray lama, jauh sebelum gue ada di kehidupan dia."

Anton menatap adiknya sendu.

"Lagian kenapa lo mesti kena narkoba, sih? Bikin repot aja, pake nyuruh Kak Ray jagain gue., lagi. Kan, gue jadi berharap banyak sama dia." Gita tertawa. 

Anton nyengir. "Maafin gue, Dek."

Gita tersenyum. Dihapusnya bekas air mata yang tadi menggenang. Hatinya jadi lebih tenang sekarang.

AfterlightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang