Pagi ini, Rayhan bersiul riang dari kamarnya. Nuansa hatinya sedang baik. Ia pandangi warna-warni bunga dari jendela, dengan tetesan embun yang masih nampak jelas di dedaunan. Juga yang paling dirinya suka, kabut putih di sela pepohonan menarik hatinya.
Ia sedang senang. Pagi tadi Nadin, sesuai janji, membangunkannya shalat tahajjud. Mereka berdua kembali shalat berjamaah dengan ia sebagai imam lagi. Hatinya senang, sebab selama semingguan ini Nadin mendiamkannya.
Ya, memang. Rasa bersalahnya teramat besar karena membuat Nadin dalam bahaya. Jika ada hal yang ingin ia lakukan, ia ingin mengubah masa lalu agar ia tak usah berurusan dengan Daniel sehingga hari itu tak pernah terjadi. Namun, itu tidak mungkin. Sekarang ia hanya bisa memperbaiki kesalahannya. Dan Rayhan, bertekad sepenuh hati untuk menjaga Nadin sungguh-sungguh. Ia tidak ingin Nadin terluka lagi, karenanya.
Setelah bersiap di kamar, ia menuju ruang makan. Bibirnya terangkat melihat Nadin masih sibuk dengan peralatan di dapur.
Dipandanginya gadis itu dari belakang. Rayhan menopangkan kepala pada tumpuan tangan, menatap Nadin dari tembok penyekat dapur dengan anak tangga.
Gadis itu tampaknya tidak menyadari kedatangan Rayhan. Nadin membuka penanak nasi, mengaduk nasi yang baru saja matang. Seketika kepulan uap menyerbu kepalanya. Ia menjauh sejenak, mencari udara segar.
Saat itulah ia melihat Rayhan.
"Eh,"
Ia terkesiap. Bahunya terangkat kaget. Pandangannya terarah pada Rayhan yang menatap lurus ke arahnya, masih dalam posisi tangan tertumpu ke kepala.
Nadin grogi.
"Halo, kak,"
Rayhan tertawa. Kemudian tanpa menjawab, ia beranjak menuju meja makan dan duduk rapi di sana. Nadin terdiam menahan debaran jantungnya yang bertalu. Malu.
"Masak apa?" Rayhan bertanya dari meja makan, membuat Nadin tersadar.
"Cuma goreng telur, gak papa ya?"
"Iya, nggak papa, enak ini,"
Dan Nadin tersenyum simpul. Untung Rayhan sudah baik padanya. Kalau dulu, pasti ia akan mencak-mencak minta digorengkan ayam.
Pagi itu, dalam hati Nadin terbesit sesuatu. Setelah ini, mereka berdua sudah akan baik-baik saja, kan? Semoga jawabannya adalah iya.
***
Suasana kelas tampak masih sepi ketika Nadin masuk dan duduk di kursi. Hari ini ia diantar Rayhan, namun tidak dengan motor. Karena naik mobil, Nadin jadi berani berangkat berdua. Kan, tidak terlihat dari luar, haha.
Beberapa lama ia menunggu, akhirnya Rania datang. Ia menyapa Nadin riang, bertanya apakah tugas Nadin sudah dikerjakan. Semalam suntuk, Nadin mengerjakan tugas biologi mengerjakan soal latihan. Untung saja, ada google.
Google memang penyelamat andalan Nadin dan Rayhan.
Tak lama kemudian, Fita datang dan ikut bergabung. Ia ribut sendiri karena tugas biologinya belum selesai. Untungnya masih ada waktu sebelum bel masuk dan ia masih sempat mengerjakan tugasnya.
Bel berbunyi nyaring, pertanda jam masuk sudah dimulai. Ketua kelas menyiapkan berdoa bersama dan wali kelas mereka mengumumkan beberapa hal. Itu adalah kebiasaan di SMA Persada setiap pagi, jam kewalasan agar guru dan murid bisa lebih dekat.
"Nadin, maaf boleh minta tolong sesuatu?" Wali kelas mereka bertanya saat jam pagi hampir berakhir.
"Ya, bu? Ada apa?"
"Buku campbell ibu ketinggalan di perpustakaan. Bisa tolong ambilkan?"
Nadin mengangguk, tersenyum. Jam pelajaran pertama ialah biologi, dan wali kelas mereka adalah guru biologi yang mengajar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afterlight
EspiritualBagaimana perasaanmu kalau siswa paling bandel di sekolahmu, ternyata adalah suamimu? Nadina, umur 17 tahun, tahu jawabannya. Bukan dijodohkan, apalagi married by accident. Ia sadar se sadar-sadarnya, dan menerima permintaan orang yang amat berjasa...
