Pagi menjelang; matahari datang. Kabut tipis berkemilauan tertimpa sinar hangat pagi. Cahanya lembut matahari menerobos masuk melalui celah jendela, membangunkan Nadin yang masih terlelap.
"Alhamdulillah. Udah pagi." Nadin berujar pada diri sendiri. Diucapkannya doa bangun tidur dalam hati.
Ia menatap jam, pukul enam pagi dan Nadin baru bangun!
Nadin tertawa. Semalam memang ia sengaja tidak menyetel alarm agar ia tidur sepuasnya, secukupnya. Mumpung ia sedang udzur.
Ia menatap cermin,
Meski hari ini hari sekolah, Nadin sudah berniat membolos. Ia tidak ingin wajah bengkaknya ditertawai Fita. Membolos sekali tidak apa, kan, ya.
Ia ingin. Sekali saja, bertingkah seenaknya seperti Kak Rayhan.
Mengingat nama itu membuatnya tersenyum. Semalaman Nadin sudah puas menangis. Sekarang ia tidak akan menangis lagi.
Nadin turun ke bawah. Ia hendak menyiapkan sarapan untuk Rayhan. Namun saat ia menengok kamarnya, ternyata si empunya kamar sudah pergi. Motor Kak Rayhan pun sudah tidak ada, berarti Kak Rayhan sudah berangkat pagi buta sekali.
Nadin menghela nafas.
Yasudah.
Ia batal memasak ayam goreng kesukaan Rayhan. Nadin hari ini mau masak makanan kesukaannya saja, telur bumbu asam manis.
Menjelang siang setelah ia beres-beres rumah, Fita dan Rania heboh menelponnya.
"KENAPA KAMU GAK MASUK? NADIN SAKIT???"
Ia tertawa. "Aku nggak papa. Mau bolos aja hari ini."
"Astaghfirullah!!" Fita dan Rania di seberang berseru dongkol. "Aku bilangin bu guru!"
"Silahkan. Wek." Nadin tertawa menantang.
"Aku bilangin Tante Rina!"
"Eee, jangan, jangan!"
Keduanya terbahak. "Lemah kamu, sama mertua!"
Ia tertawa hingga sakit perut. Tertawa pada nasibnya.
"..Seharusnya kita nggak pernah menikah.."
Ucapan Rayhan semalam terngiang-ngiang. Nadin menghela nafas lagi.
Ayolah, ia sedang tak ingin menangis. Tak bisakah semesta mendukungnya?
"Kamu gimana sama Kak Rayhan?" Fita bertanya hati-hati.
"Biasa aja."
Bohong. Ia berbohong lagi.
"Bener? Kalo ada apa-apa cerita, ya."
"Iya."
"Yaudah, aku tutup, ya. Udah bel. Assalamualaykum."
"Waalaykumussalam."
Pip. Panggilan itu terputus.
Nadin tersadar kembali pada kenyataan. Bahwa ia sekarang sendirian.
***
Nadin kira, dalam waktu seminggu mungkin hubungan mereka akan kembali normal. Rayhan mungkin akan mengajaknya bicara, lalu dengan tengilnya berkata bahwa kemarin ia sedang khilaf.
Namun ternyata, seminggu tak mengubah semuanya.
Nadin terbangun di pagi hari, hanya untuk mendapati Rayhan sudah pergi. Dan kemudian, Rayhan akan pulang saat malam sudah menjelang.
Nadin bahkan hampir tak pernah melihat Rayhan di sekolah.
Gosip bahwa Rayhan dan Gita berpacaran sudah merebak luas. Namun Nadin bahkan tak pernah sempat untuk mempertanyakan itu pada Rayhan.
Kak Rayhannya, seolah menghindar dengan beribu alasan. Nadin khawatir, terlebih Rayhan sebentar lagi akan mengikuti Ujian Nasional. Tapi melihat Rayhan belajar pun Nadin tak pernah.
Nadin harus mengesampingkan sakit hatinya, ketika di sekolah ia mendapati Gita tersenyum bangga padanya saat menggandeng Rayhan. Ia hampir tak pernah melihat Rayhan, dan sekalinya mereka bertemu, Rayhan seolah lupa dengan keberadaannya.
"Kamu beneran nggak papa sama Kak Rayhan?" Rania yang peka akhirnya bertanya saat sedang berdua saja.
"Sejak kejadian Kak Rayhan berantem, aku tau kalian ada masalah."
Nadin mengaduk-aduk minumannya tanpa selera. Saat ini, seisi kantin juga sedang membicarakan gosip terhangat yaitu Gita dan Ray.
"Aku nggak papa, Ran."
Rania mendengus. "Aku nggak suka kamu bohong, Na."
"Maaf."
"Jangan minta maaf ke aku! Minta maaf sama dirimu sendiri!"
Nadin menatap heran. "Apaan?"
"Kamu juga berhak bahagia, Nadin. Kamu berhak lepas dari bebanmu, jangan memberatkan hatimu sendiri.
Menangislah kalau kamu mau menangis. Marah kalau kamu mau marah.
Jangan kamu pendam sampai hatimu sakit sendirian."
"Ngomongnya kok muter-muter, Ran?"
"Yee dasar.
Intinya, kalau kamu mau lega, ikhlaskanlah.
Tapi kamu harus jujur pada dirimu sendiri.
Apa yang jadi hakmu, ambillah.
Kalau sudah berjuang, baru kamu boleh berhenti."
KAMU SEDANG MEMBACA
Afterlight
EspiritualBagaimana perasaanmu kalau siswa paling bandel di sekolahmu, ternyata adalah suamimu? Nadina, umur 17 tahun, tahu jawabannya. Bukan dijodohkan, apalagi married by accident. Ia sadar se sadar-sadarnya, dan menerima permintaan orang yang amat berjasa...
