AL- 41. Apa Kabar Hati Nadin

21.6K 1.6K 71
                                        

Mohon maaf gais, jadi sebetulnya part sebelumnya itu kepotong😂 dan ini lanjutannya.

Happy reading!💞

***

Intinya, kalau kamu mau lega, ikhlaskanlah.
Tapi kamu harus jujur pada dirimu sendiri.
Apa yang jadi hakmu, ambillah.
Kalau sudah berjuang, baru kamu boleh berhenti."

"Aku nggak mudeng, Rania!"

"Ihh!" Rania mengacak jilbab.

"Jangan mau nyerahin Kak Rayhan ke Gita tanpa perlawanan!"

***

Kata-kata Rania terus terngiang di telinganya.

Apa ia mau menyerah?
Tidak.

Dipandangi chatnya dengan Rayhan beberapa minggu lalu. Sepi, Rayhan tidak pernah lagi mengiriminya pesan.

Nadin menghela nafas. Saat ini ia sudah berada di rumah, baru selesai mengajar ngaji di mushala. Belakangan ini ia merasa bersalah karena kesibukannya membuatnya abai dari lingkungan sekitar.

Nadin rindu suara anak-anak mushala yang memanggilnya ceria, "Kakak Nadin!"

Ia menatap meja makan yang tak tersentuh. Sayur kangkungnya, tidak pernah dimakan.
Bahkan Rayhan belum pulang.

Tante Rina tak tahu apa yang terjadi di antara mereka. Nadin tidak bercerita bahwa hampir seminggu ini, keduanya tidak saling bicara satu kata pun.

Bagaimanalah ia akan memahami hati Rayhan.

Kriek..

Suara gerbang depan dibuka membuatnya terbangun dari lamunan.

Kak Rayhan baru saja pulang. Tumben, biasanya pulang tengah malam.

Nadin berdiri, menatap pintu. Bingung hendak melalukan apa.

Kata-kata Rania terngiang di telinganya. Nadin harus mulai bicara.

Yang ditunggu akhirnya menampakkan diri. Rayhan berjalan seolah Nadin tak ada, melewatinya tanpa menatap. Nadin menahan nafas, hatinya terasa diiris sembilu.

Lebih baik dimarahi sekalian, daripada diacuhkan.

"Kak," Nadin memanggil.

Rayhan menoleh sekilas. "Apa?"

"Eum..
Udah makan?"

Kenapa kalimat itu yang selalu refleks keluar, sih.

"Udah." Rayhan melanjutkan langkah.

"Kak!" Nadin buru-buru memanggil sebelum Rayhan pergi.

"Nadin mau ngomong."

Hening tercipta di antara mereka berdua. Rayhan tidak segera menjawab.

"Apa?"

"Hm.."

Suara detik jarum jam terdengar di sekeliling, seolah tak ada suara lain yang menginterupsi. Nyatanya, keduanya terdiam membisu padahal ada begitu banyak yang ingin disampaikan, dan terlalu banyak yang tersembunyi dalam hati.

"Kak Rayhan ngerasa aneh sama hubungan kita akhir-akhir ini?"

Akhirnya. Pertanyaan hatinya bisa Nadin keluarkan juga.
Pertanyaan yang selalu mengganjal, memberi luka setiap melihat Kak Rayhannya acuh apalagi bersama yang lain.

Rayhan masih diam. Diam-diam ia menghela nafas.

"Maaf. Aku udah pernah bilang..

....kita gak seharusnya menikah."

Apa kabar hati Nadin?

***

Assalamualaykum kawan2.. apa kabar?

Aku menghilang berapa minggu nih? :") mohon maaf ya guys huhuhu sibuk2 terus

InsyaAllah part selanjutnya aku update nanti malem, tunggu yaps! Stay tune💙

AfterlightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang