AL-46. Setelah Kamu Pergi

26K 1.8K 27
                                        

Seminggu berlalu, sejak Nadin pergi.

Dunia masih berjalan normal. Matahari masih tersenyum cerah, kota mereka juga masih merayap padat. Kehidupan SMA Persada terus bergulir meski telah kehilangan salah satu siswi terbaiknya.

Namun ada hati yang patah setelah itu.

Patah, berserak.

Hancur.

Hari-harinya dipenuhi muram dan melamun.
Seperti saat ini.

"Kak Ray! Gita beliin jus jambu, nih. Diminum, ya biar sehat." Gita menyodorkan segelas penuh jus kepada Rayhan yang duduk diam di bangku kantin. Tadi teman-temannya menariknya pergi, mendorong-dorong agar ia mau berjalan.

Rayhan hanya bergeming. Matanya tak fokus menatap kerumunan di luar. Hatinya hampa.

Baginya semua orang kini hanya seperti potongan film yang bergerak bisu. Ia tidak peduli pada dunia luar. Jika bukan karena sebentar lagi ujian nasional, ia juga tidak akan berangkat sekolah. Lelah sekali ia harus terus terpaksa hidup seperti biasa. Agar orang-orang melihatnya baik-baik saja.

Padahal, hatinya tak pernah sama lagi.
Sudah hancur tak bersisa setelah Nadin pergi.

Orang-orang memang begitu. Setelah kehilangan, barulah sadar bahwa yang berharga telah pergi. Barulah sadar bahwa yang berharga telah ia sia-siakan.

"Kak Ray lagi kenapa sih, ih!" Gita mendengus sebal.

"Bang, Kak Ray kenapa? Lo jailin, ya?" Gita menuduh Anton yang juga sedang terdiam.

"Berisik, lo. Tanya aja sendiri sana," Anton yang belakangan ini bad mood karena kehilangan seseorang dari pandangannya, kini ikut kesal.

Gita mendecih.

Rayhan terkesiap begitu melihat Fita, Rania, dan Aina berjalan memasuki kantin. Ia langsung berdiri, mengejar mereka.

"Fita!"

Yang dipanggil mendengus kesal. "Apa?!" Jawabnya galak.

Ia masih kesal pada Kak Rayhan. Dan akhir-akhir ini, Kak Rayhan selalu menerornya dengan pertanyaan tentang Nadin.

"Nadin udah ngehubungin kalian, belum?"

Fita memutar bola mata. Yang salah siapa, yang sekarang nyesel siapa.

"Belum." Ujarnya cuek.

Rania yang sedari tadi menghindari pandangan aneh orang-orang di kantin tentang mereka kini beralih menatap Rayhan.

"Udah. Nadin udah hubungin kita." Ia mengatakan yang sebenarnya.

Fita menatap Rania tak percaya. Gimana mungkin, Rania menghianatinya? Kan, Fita pengin bikin Kak Rayhan galau terus.

"Rania, ih!"

Rayhan langsung berbinar menatap Rania. "Bener? Ngomong apa aja? Apa dia ngomong sesuatu tentang gue?"

Fita memutar bola mata lagi mendengar Rayhan mengatakan lo-gue. Kebiasaan lamanya sudah kembali. Sebel, Rayhan lambat laun lupa dengan ajaran Nadin.

"Ngomongnya nanti aja ya, Kak. Nggak enak dilihatin orang." Rania menjawab cuek. Rayhan kembali muram.

Kini satu-satunya harapan ada di Aina. Ia melihat Aina dengan tatapan memohon, "Aina?"

Aina meringis. "Maaf, Kak. Nanti aja, ya."

Rayhan kembali ke bangkunya dengan membawa harapan yang sudah hancur. Gita langsung memberondongnya dengan pertanyaan, "Kak Ray ngapain nyamperin mereka?"

AfterlightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang