AL-51. After Everything

22.3K 1.6K 58
                                        

Sebelum membaca bagian ini, disarankan membaca ulang bagian-bagian sebelumnya. Takut lupa jalan cerita.

happy reading! 

***

Malam membungkus diri dengan selimut kabut. Bintang-gemintang tak nampak, tertutup awan mendung yang menggantung. Suara burung hantu bersahutan dengan suara jangkrik, berlomba mengisi malam dan tak ingin kalah pada kesiur gerimis yang mengguyur.

Nadin, tengah bergelung dalam selimutnya. Di bawah temaram lampu kamar, ia tidak bisa tidur. Rumah bude yang berada di pinggir sawah membuat suara angin terdengar berderu kencang, ditambah alunan serangga malam yang ribut.

Ia tak bisa memejamkan mata malam ini. Penyebabnya satu hal; apalagi kalau bukan pikiran tentang Rayhan. Sore ini ia mendapat kabar dari Aina, Kak Rayhannya berulah lagi. Bertengkar dengan Kak Anton, berkelahi di depan masjid sekolah.

Ya ampun.. di depan masjid. Sudah tidak bisa ditolerir lagi, mereka.

Entah harus bagaimana lagi Nadin menanggapinya. Padahal ia pergi jauh agar terbebas dari pikiran tentang laki-laki itu, namun nyatanya tidak bisa. Kemanapun ia pergi, sejauh apapun ia melangkah, tetap satu nama itu ikut membersamainya.

"Kak, i really miss you a lot. More than you can imagine."

Gadis itu mendesah, lalu masuk ke dalam selimut dan mulai menintikkan air mata. Malam ini saja, ia ingin jujur pada perasaannya. Dan pekatnya malam menjadi nina bobo untuknya.

Sementara di seberang sana, Rayhan pun sama, tak bisa menutup mata. Pikirannya kalut, dipenuhi ingatan tentang perkelahiannya tadi siang.

Tentang Gita yang selalu mengharapkannya, tentang Anton yang selalu mengandalkannya. Dan juga tentang Nadin, yang selalu ia rindukan.

Rayhan tahu cepat atau lambat janjinya pada Anton harus dipertanggungjawabkan. Ia tidak ingin menjadi tidak bertanggung jawab, namun ia lebih tidak ingin menyakiti Nadin untuk yang kesekian kalinya.

Baiklah. Ia bangkit dari kasur, lalu menuju meja belajar. Tekadnya sudah bulat untuk menyelesaikan semuanya. Sekarang yang perlu ia lakukan adalah: belajar. Besok ada ujian sekolah yang menunggunya.

***

"Sori, kali ini kita impas karena lo udah bikin Nadin pergi."

Kata-kata itu terngiang-ngiang terus di kepalanya. Sejak itu, pikirannya tak tenang. Betulkah ia yang membuat gadis itu pergi? Betulkah gadis impiannya sudah pergi?

Orang itu, Anton, sedang termenung menatap layar handphone dan mengacak rambut frustasi. "Aargh!" Ia menendang kursi sambil berteriak.

Ditatapnya sekali lagi laman instagram Nadin yang sejak sebulanan ini tak pernah ada tanda-tanda unggahan. Gadis itu menghilang. Benar kata Rayhan.

Nadin, gadis itu yang menyinari dunianya. Gadis itu yang membuat ia merasa diterima, merasa bahwa ia bukan sampah seperti yang dikatakan orang-orang. Nadin yang membuat ia bangkit, meski masih terus gagal. Nadin yang dulu membuat ia sadar bahwa hidupnya bermakna. Nadin pula yang menyelamatkannya dari kematian. Bahkan.. membuatnya ingin terus hidup. 

Yang ingin Anton lakukan hanyalah mengistimewakan gadis itu. Ia ingin mengenal Nadin lebih dekat. Ia ingin membuat Nadin merasa dicintai. Ia ingin membuat Nadin merasakan apa yang ia rasa. Dengan mengiriminya surat, hadiah, dan bunga-bunga tanpa nama.

Namun ternyata.. selama ini apa dia salah?

Jangan-jangan betul kata Rayhan, ia yang membuat Nadin pergi?

Ia terpekur.

"Bang, Gita masuk, ya?" Suara Gita yang tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya mengembalikan kesadaran Anton.

AfterlightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang