Keesokan harinya, Nadin dan Rayhan berangkat sekolah seperti biasa. Pagi tadi ada kemajuan, Rayhan sudah bangun subuh padahal belum dibangunkan. Alhamdulillah, Nadin girang sekali. Ia jadi lebih semangat hari ini.
Nadin merasa, akhir-akhir ini ia sepertinya jadi lebih terkenal, karena banyak yang menatapnya mulai dari gerbang sekolah hingga ke kelas. Bahkan entah benar atau tidak, ia merasa anak SMA lain juga banyak yang menatapnya ketika di angkot. Harap maklum, sekolah Nadin ini termasuk SMA swasta terbaik di kotanya, dan biasanya berita apapun yang terjadi di sekolahnya akan menyebar ke sekolah lain.
Nadin sih, tidak masalah. Setiap pandangannya bertemu dengan siswi perempuan yang menatapnya, ia akan tersenyum. Itung-itung shadaqah, pahala.
"Aduh! Astaghfirullah,"
Tiba-tiba Nadin hampir terjatuh di halaman karena tali sepatunya lepas dan terinjak. Ia berjongkok, membenarkan ikatan tali. Alhamdulillah, ia tidak sampai jatuh.
Kalau jatuh, Nadin bisa kehilangan muka. Sakitnya tidak seberapa, tapi malunya.. luar biasa.
Ketika ia berdiri, ia terperanjat karena tiba-tiba di depannya berdiri seorang siswa laki-laki, sedang tersenyum kepadanya.
"Halo, Nadin. Apa kabar?"
Nadin bingung, kaget juga. Ia pernah melihat kakak kelas ini, tapi lupa.
"Oh.. anu..," Nadin menjawab ragu.
Laki-laki di depannya itu tertawa. "Lo lupa sama gue, ya? Gue Anton, yang lo tolong dulu,"
"Oalah.. Kak Anton. Iya ada apa, Kak?" Matanya berbinar-binar, senang karena sudah ingat. Ia agak meringis mengingat karena orang ini, ia jadi trauma pada darah. Tapi tak dapat dipungkiri, ia bersyukur kakak kelasnya ini sudah tampak baik-baik saja. Anton tersenyum lebar kepadanya.
Nadin tidak sadar, kalau lagi-lagi, ia sudah jadi pusat perhatian.
***
Anton terus tersenyum sepanjang pagi ini. Rayhan yang duduk sebangku dengan Anton sampai heran.
"Kenapa, lo? Waras?"
Anton terus tersenyum. "Habis ketemu bidadari..,"
Ia senang, karena hari pertamanya kembali ke sekolah setelah keluar dari tempat rehabilitasi ia sudah bertemu Nadin. Ia merindukan gadis itu, yang selama ini hanya bisa ia lihat dari jauh. Dirinya tidak memungkiri, perasaan sukanya pada Nadin bermula saat ia ditolong oleh gadis itu tahun lalu.
Dulu, ia sempat kehilangan arah karena perceraian kedua orangtuanya hingga memutuskan bunuh diri, keputusan yang sangat ia sesali. Beruntungnya, Allah masih memberinya kesempatan hidup dengan ditolongnya ia oleh Nadin dan Rayhan.
Yang paling ia ingat adalah ketika Nadin memberinya pesan dan ditulis lewat surat, yang bahkan masih sering ia baca hingga sekarang.
Meskipun ia gagal menjalani hidup dengan baik setelahnya, karena ia terjerat narkoba setelah itu, tapi surat dari Nadin yang dititipkan pada Rayhan selalu menjadi penyemangatnya.
Isinya hanya sederhana, "kak, saya tidak tau seberat apa hidup yang kakak jalani. Tapi saya hanya mau bilang, jangan sia-siakan umur kakak karena Allah sudah memberikan kakak hidup yang layak. Kakak boleh merasa menderita hidup di dunia, tapi jangan sampai merasa rugi nanti di akhirat. Karena orang mati bunuh diri itu langsung masuknya ke neraka. Lebih baik hidup kakak sekarang menderita gak papa, tapi nanti matinya masuk surga. Yakan?"
Itu saja, tapi mampu membuat hati Anton tergerak. Ia tidak tahu, bahwa yang ia sebut bidadarinya itu justru sudah terikat, dengan orang yang kini duduk di sampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afterlight
SpirituellesBagaimana perasaanmu kalau siswa paling bandel di sekolahmu, ternyata adalah suamimu? Nadina, umur 17 tahun, tahu jawabannya. Bukan dijodohkan, apalagi married by accident. Ia sadar se sadar-sadarnya, dan menerima permintaan orang yang amat berjasa...
