Matahari masih berselimut mimpi ketika Nadin bangun pagi ini. Ia bersemangat berwudhu, membasuh sisa kantuk di wajahnya. Ia sudah menunggu-nunggu hari ini datang.
Ya, benar. Hari ini adalah hari spesial untuk Nadin.
Tidak, sebenarnya harusnya spesial untuk Rayhan. Tapi ia tidak excited dengan tanggal lahirnya sendiri.
Setelah berwudhu, ia segera keluar dari kamarnya. Ia mengetuk pintu kamar Rayhan, hendak mengajak shalat tahajjud. Kali ini ia harus berhasil, sebab ia ingin menjadikan momen pertambahan umur Rayhan menjadi bermakna. Caranya? Dengan mengajak Rayhan shalat tahajjud.
Simpel, kan?
Baginya, tidak ada istilah ulang tahun. Milad, atau apapun itu, tak ada. Sebab ia tidak ingin ikut-ikutan merayakan perayaan yang tak seharusnya ada dalam agamanya. Itu namanya tasyabbuh.
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 403)
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ
“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319)
Haditsnya sudah jelas, bukan? Ia tak ingin mendebat sabda Rasulullah, sebab beliau-lah yang kelak akan menyelamatkan kita di yaumul qiyamah dengan syafaatnya.
"Kak," Nadin memanggil sambil mengetuk pintu. "Kak Rayhan..,"
"Yuhuu.. bangun dong!"
Ia terus mengetuk tanpa bosan. Tak lama, usahanya berbuah hasil. Rayhan membuka pintu sambil mengucek mata.
"Apa? Ini kan belum subuh,"
Nadin tersenyum. "Tau nggak, hari ini hari apa?"
Rayhan mengerutkan alis. "Selasa?"
"Ya emang hari selasa.. tapi ada yang lebih spesial dari itu," jawab Nadin masih sambil tersenyum.
"Apaan, sih? Ngomong aja, gue ngga pinter nebak kode,"
Nadin terkekeh. "Hari ini usia Kak Rayhan bertambah, lho. Dan umur Kakak di dunia berkurang..,"
"Ooh." Jawab Rayhan cuek.
"Jadi.. untuk memperingati bertambahnya ketuaan Kak Rayhan, kali ini Kak Rayhan nggak boleh nolak ajakan aku,"
"Apaan emang?"
"Shalat tahajjud!" Nadin menjawab dengan berseri-seri.
***
Setelah melalui perdebatan yang alot, Rayhan akhirnya mau diajak shalat tahajjud bersama Nadin. Mereka shalat sendiri-sendiri, Rayhan belum sampai pada tahap bisa mengimami Nadin.
"Kak Rayhan shalat, lalu berdoa sama Allah.. renungin umur Kakak selama ini udah dipake buat apa aja. Muhasabah diri dan bersyukur masih diberi waktu untuk beribadah..," jelas Nadin. Rayhan hanya mengangguk, entah karena paham ataupun mengantuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afterlight
SpirituellesBagaimana perasaanmu kalau siswa paling bandel di sekolahmu, ternyata adalah suamimu? Nadina, umur 17 tahun, tahu jawabannya. Bukan dijodohkan, apalagi married by accident. Ia sadar se sadar-sadarnya, dan menerima permintaan orang yang amat berjasa...
