Malam tengah menghamparkan gelapnya di langit bumi. Bintang-gemintang tertutup awan dan kalah oleh kelip lampu kota. Kali ini hening, suara hujan tak menyapa seperti biasanya. Malam ini, Rayhan termenung memandangi layar tv di hadapannya. Acara komedi yang ia tonton sangat lucu, namun ia tak bisa tersenyum.
Selepas maghrib, ia mendapati Nadin belum juga keluar dari kamarnya. Ditunggu hingga menjelang isya, tak juga muncul bahkan untuk sekadar menyapa. Dan ketika ia mulai khawatir, ia berencana menagajaknya makan malam bersama. Namun..
"Kak Rayhan nggak ngerti!"
Bayangan Nadin berbicara seperti itu dengan air mata di pipi membuatnya merasa campur aduk. Ia belum pernah melihat Nadin menangis, setelah ibunya meninggal dahulu. Dan kini, gadis itu menangis. Dan hatinya remuk.
Ada apa dengan Nadin-nya? Ia frustasi. Baru saja semalam ia kebingungan mencari Nadin, dan kini ia mendapati Nadin tengah menangis. Masa iya dirinya harus mencari di google, "bagaimana cara mengetahui kenapa perempuan menangis?" Tidak lucu. Dan ia juga tidak ingin bertanya pada google, "bagaimana cara membuat perempuan berhenti menangis?"
Cukup hanya sampai mencari cara memasak sup yang baik dan benar untuk tadi pagi, ia tak lagi ingin mengandalkan google.
Apakah ia melakukan kesalahan?
Tentu, banyak. Namun ia bingung kenapa Nadin menangis.
Hingga akhirnya.. beberapa menit kemudian ponselnya bergetar.
Sepuluh pesan dari Aina tertera di layar. Otaknya langsung bekerja, pasti Nadin sedang tak baik-baik saja.
Dan ketika ia membacanya, ikut bingung pula hatinya.
***
Fita mengusap air mata yang jatuh dengan sapuan mukena. Ia terduduk di sajadah, menangis selepas shalat isya. Sedari tadi dirinya mecoba terlihat baik-baik saja. Ia tak memikirkan Nadin, tak juga memikirkan hatinya terluka karena Nadin menyembunyikan sesuatu darinya.
Sepulang ia dari sekolah, selepas pertengkarannya tadi, ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa, bahkan ia pura-pura tak peka dengan wajah mendung Rania yang pulang bersamanya. Namun kali ini, pertahanannya runtuh oleh hati yang lirih berdoa.
Mungkin bagi orang lain, ini hanyalah masalah sepele, tak usah terlalu diributkan. Lebay sekali mereka bertengkar seperti itu. Namun nyatanya, urusan hati tak pernah sederhana. Persahabatan yang tulus dan kokoh tak se-remeh itu. Justru karena ikatan mereka kuat, masalah ini mengganggu hatinya.
Eh, tunggu.
... justru karena ikatan mereka kuat, ...
... justru karena ikatan mereka kuat, ...
Fita mengulangi pemikirannya tadi dalam benak.
Benarkah persahabatan mereka se-kokoh itu?
Ia kembali membenamkan wajah ke lipatan mukena, tersadar akan satu hal. Betapa dirinya egois, melihat satu hal hanya dari satu sisi, tak memikirkan alasan serta kepentingan pribadi Nadin. Ia terisak, menangisi ketidaksabaran serta keegoisannya.
Hatinya kelu, ia kesal namun juga merasa bersalah. Merasa dirinya tak dihargai karena Nadin menyembunyikan sesuatu darinya, sementara Aina mengetahuinya. Ia menyesal karena tadi sore ia mengacuhkan nasehat Rania untuk tidak bertindak gegabah seperti tadi.
Namun, nasi telah menjadi bubur. Ia gengsi, namun juga sangat penasaran akan rahasia Nadin yang tak ia ketahui. Ia kepo berat, penyakitnya mulai kumat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afterlight
SpiritualeBagaimana perasaanmu kalau siswa paling bandel di sekolahmu, ternyata adalah suamimu? Nadina, umur 17 tahun, tahu jawabannya. Bukan dijodohkan, apalagi married by accident. Ia sadar se sadar-sadarnya, dan menerima permintaan orang yang amat berjasa...
