Hari sudah sore saat Rayhan kembali ke rumah. Awan di atas langit memayunginya pulang dengan temaram, menunggu senja. Suasana sore makin terasa ketika ia sampai di rumah, semakin sepi. Pintu rumah masih terkunci, berarti tak ada orang yang masuk.
Itu berarti, Nadin belum pulang juga.
Rayhan memarkirkan motor, lantas melangkahkan kakinya masuk ke rumah yang nampak sepi itu. Ia mengucap salam, untuk menyadari tak ada yang menjawab apalagi menyambutnya.
"Nadin?"
Laki-laki itu masih berharap. Siapa tau saja Nadin sudah pulang dari "nginep" nya di rumah teman.
Ia duduk di sofa. Menatap siluet bayang sinar matahari sore yang memerah, menembus kaca jendela.
Ia mulai berpikir.
Apa dirinya keterlaluan?
Rayhan sungguh tak bermaksud mendiamkan gadis itu begitu lama. Hanya saja, egonya terlalu besar untuk mengajak bicara terlebih dahulu.
Saat di rumah, seperti tak ada waktu untuk mereka bicara. Dan di sekolah, Gita menempelinya terus seperti perangko. Ia tak kuasa menolak, semenjak kejadian Gita dilecehkan oleh Zaki. Batinnya terus menerus membiarkan Gita seperti itu, meski hatinya sebetulnya menolak.
Dan lagi, rasa cemburunya terhadap Yanuar teramat besar. Rayhan tau, ia tak bisa mendefinisikan perasaannya kepada Nadin hingga melihat gadis itu bersama orang lain sebentar saja pun, ia tak suka.
Sungguh Rayhan bingung sendiri dengan kondisi hatinya.
Rayhan tetiba mengingat chat dari Fita.
Pergi?
Apa maksudnya pergi?
Ia mengetik balasan.
Nadin bener-bener nggak sama kalian?
Balasan datang beberapa detik kemudian. Fita gercep sekali.
Nggak.
Dan di sisi lain, Fita sudah jumpalitan. Bagaimana mungkin ada orang se-tidak peka seperti Rayhan?
Dahi Rayhan berkerut memandangi balasan Fita. Lalu Nadin dimana?
Kakinya melangkah menelusuri sudut rumah. Memasuki kamar Nadin yang kosong. Seperti tidak mungkin Nadin pergi tanpa pamit.
Lalu kemana Nadin pergi? Pesannya tak dibaca sama sekali.
Rayhan berjongkok memandangi laci meja Nadin yang rapi. Menelusuri buku-buku, mencari apa saja yang bisa membawanya menemukan penjelasan. Siapa tahu Nadin sedang ada acara rohis dan lupa memberi tahunya.
Lalu ia terdiam menyadari sesuatu.
Tunggu dulu.
Mengapa kamar Nadin harus dikosongkan jika hanya pergi sebentar?
Mengapa Fita marah padanya dan bilang Nadin pergi?
Rayhan tersentak, menoleh ke belakang. Batinnya meneriakkan sesuatu yang tak menyenangkan, bahwa Nadin tak ada lagi di sampingnya.
Pikirannya tak mungkin benar, bukan? Mana mungkin Nadin betulan pergi.
Ia menengok kembali seisi kamar Nadin. Menerawang seluruh lemari, bahkan hingga setiap laci. Berharap ada petunjuk.
Rayhan mulai takut. Apakah Nadin benar-benar pergi jauh?
Tidak mungkin, kan?
Ia semakin kalap saat menemukan sebuah lipatan kertas di bawah meja.
Ia menarik kertas lusuh itu pelan, berharap-harap cemas apa isinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afterlight
SpiritualBagaimana perasaanmu kalau siswa paling bandel di sekolahmu, ternyata adalah suamimu? Nadina, umur 17 tahun, tahu jawabannya. Bukan dijodohkan, apalagi married by accident. Ia sadar se sadar-sadarnya, dan menerima permintaan orang yang amat berjasa...
