Suara bising siswa mengisi telinga Nadin yang baru saja selesai shalat ashar di masjid sekolah. Hari ini siswa pulang sore karena ada eskur pramuka yang hendak dilaksanakan. Suasana sekolah tidak sesepi biasanya meski harusnya sudah jam pulang. Istirahat kedua ini, Nadin sedang menetralisir hatinya dari sesak di dada. Hatinya yang kacau, ia ingin menyiraminya dengan dzikir agar tenang.
"Na, jangan ngelamun. Mukenanya dilipet," Fita mengingatkan. Nadin tersenyum. Sahabatnya itu memang sangat blak-blakan, tapi Nadin suka sifat seperti itu, karena Fita itu jujur meski kadang salah tempat.
Jam besar di dinding masjid menunjukkan pukul tiga lebih lima belas menit. Sepuluh menit lagi, eskur pramuka akan segera dilaksanakan. Minggu ini kelas sebelas mendapat tambahan khusus. Beberapa siswa tampak mondar-mandir di masjid setelah shalat dan memakai atribut pramuka, begitu pula mereka. Aina memakaikan hasduk pada Fita, sementara Rania sedang melipat hasduknya sendiri.
"Nadin, buruan pake hasduknya,"
"Iya," Nadin tersenyum lagi. Selepas kejadian tadi siang, ia sama sekali tak bisa konsentrasi. Kejadian saat Gita menariknya dari kantin, lantas meneriakinya. Dan kemudian Kak Rayhan datang, hingga Gita memeluknya. Ugh, Nadin tak bisa lupa.
Dan yang paling penting, Gita mengatakan sesuatu yang sangat membuat ia penasaran. Gita bilang, Kak Rayhan punya sesuatu yang tak bisa ia ingkari. Sebuah janji.
Tapi apa? Dan apa hubungannya dengan Gita? Kan Nadin sebal sekali, dia saja tidak tahu. Namun hatinya merasa tersentuh melihat Gita menangis. Hatinya ikut sedih melihat air mata Gita. Ia tahu itu tak dibuat-buat, air mata itu jujur meski naif. Nadin rasa.. Gita memang membutuhkan pertolongan. Gadis itu perlu bantuan untuk menyelamatkan dirinya dari perasaan kesepiannya. Dari traumanya.
Nadin tahu. Karena ia pun punya trauma, sama.
Bel berbunyi nyaring dan dapat jelas terdengar dari masjid. Keempat gadis itu saling tatap, lantas langsung terburu-buru meninggalkan masjid dengan gerutuan. Selalu seperti ini, jam pramuka hampir menabrak waktu ashar jika saja dulu anggota rohis tidak memprotes untuk merubah jadwal. Untungnya jadwal pramuka bisa diubah dan menyesuaikan waktu shalat, meskipun masih membuat terburu-buru. Bel berbunyi, berarti sebentar lagi eskur akan dimulai dan tidak ada kata terlambat dalam pramuka SMA Persada.
"Astaghfirullah, aku malah pengin pipis," Fita menggerutu kesal saat hendak menuju lapangan sekolah, tempat siswa berkumpul untuk apel pramuka.
"Ditahan aja," suruh Rania. Fita menggerutu sebal. Ia akan izin ke kamar mandi nanti, saat apel sudah selesai dilaksanakan.
"Nggak papa, nanti aku temenin. Aku juga mau ke kamar mandi," ucap Nadin. Fita bersorak.
Lapangan seluas hampir setengah lapangan bola itu dipenuhi oleh tiga ratusan murid kelas sebelas yang hendak mengikuti apel pramuka. Barisan siswa berseragam coklat memenuhi lapangan, namun tak membuat lapangan itu sesak. Suara berisik dari para peserta pramuka berdengung seperti kawanan lebah yang sedang berkumpul.
Dan di tengah-tengah, anggota pramuka senior kelas dua belas mengatur adik kelasnya agar tenang. Seharusnya anggota Dewan Ambalan kelas dua belas sudah tak bekerja lagi, namun hari ini khusus karena kelas sebelas yang seharusnya sudah tidak ada acara pramuka hendak mengikuti eskur terakhir kalinya.
Beberapa senior nampak kesal karena kerumunan siswi tidak bisa diam. Penyebabnya, tak lain dan tak bukan adalah karena kemunculan Rayhan di tengah para senior.
"Kak Ray cakep banget!"
"Ada Kak Ray, liat!"
Dan lain sebagainya, kalimat itu terlontar saat para siswi kelas 11 melihat Rayhan sedang asyik duduk di rerumputan, menonton teman-temannya sibuk mengatur adik kelas. Dasar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afterlight
SpiritualBagaimana perasaanmu kalau siswa paling bandel di sekolahmu, ternyata adalah suamimu? Nadina, umur 17 tahun, tahu jawabannya. Bukan dijodohkan, apalagi married by accident. Ia sadar se sadar-sadarnya, dan menerima permintaan orang yang amat berjasa...
