Sore ini, Nadin harus tertahan di sekolah. Rapat rohis baru selesai pukul lima sore. Dan setelah itu, hujan turun dengan derasnya, membuat ia tak bisa kemana-mana. Ia duduk di pelataran masjid sendirian. Teman-temannya sudah pulang sedari tadi. Ia masih disini karena rapat pengurus inti. Nadin jadi menyesal karena menolak tawaran ditunggui oleh Fita dan Rania, ia tak ingin merepotkan orang lain. Dan alhasil, kini ia kerepotan sendiri.
Nadin melirik jam besar di dinding masjid. Jarumnya terus berdetik, seirama dengan guyuran hujan. Ia menatap langit, kelam seperti suasana di sekitarnya. Sudah tak ada lagi temannya yang perempuan. Hanya ada beberapa anak laki-laki di dalam masjid yang sepertinya memang menunggu datangnya maghrib.
Terakhir tadi ia ditawari membonceng teman perempuannya naik motor, namun Nadin menolak karena lagi-lagi, tak ingin merepotkan. Karena sedang hujan dan jalur rumah yang tak searah, Nadin akhirnya memilih menolak dan berniat naik ojek online.
Nadin berjengit kaget ketika bunyi gemuruh menggelegar di langit. Ia mengusap lengan, mulai kedinginan. Diurungkannya niatnya untuk masuk ke dalam masjid karena malu, semuanya laki-laki.
Di tengah kedinginannya, ponsel Nadin berdering. Ia melihat layar, terkejut karena ternyata Rayhan menelponnya.
Kak Rayhan is calling..
Nadin tersenyum simpul sebelum menjawab panggilannya.
“Halo, Assalamu’alaykum. Kenapa, Kak?”
“Waalaykumussalam. Dimana?” Suara dari seberang menjawab pendek.
“Nadin masih di sekolah, kejebak hujan,”
Rayhan tak banyak bicara. Ditutupnya panggilan setelah berkata akan menjemput Nadin, membuat gadis itu kebingungan. Menjemputnya? Yang benar saja?
Sedari tadi, Rayhan memang khawatir. Biasanya Nadin tak pulang terlalu sore, namun hari ini ia bahkan belum pulang ketika hampir waktu maghrib. Apalagi dalam keadaan hujan deras, membuat Rayhan bertambah cemas.
Tanpa menunggu lama, ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, menembus hujan.
***
Dan di sinilah ia sekarang. Rayhan merutuki dirinya sendiri yang tak berpikir panjang ketika bilang hendak menjemput Nadin.
Ia tak menyangka, kehadirannya di masjid sekolah ketika waktu maghrib saja sudah membuat heboh. Apalagi jika ada yang melihatnya menjemput Nadin?
Rayhan turun dari motor dengan ragu. Dilihatnya Nadin di pelataran masjid sedang memandanginya khawatir. Mau tak mau ia tersenyum juga.
“Hai, Bro. Assalamualaykum,”
Seseorang menepuk pundak Rayhan. Ia menoleh, kaget mendapati Yanuar tengah tersenyum menyambutnya di pintu masjid. Sejak kejadian ia membantu Yanuar mengambilkan file cctv untuk msalah foto mading, hubungan mereka memang agak melunak. Mungkin Yanuar merasa berterimakasih padanya.
Rayhan menjawab pelan salam Yanuar. Hatinya masih ragu memasuki masid. Meski ia hafal seluruh penjuru sekolah, masjid adalah tempat yang paling jarang ia kunjungi di sekolah ini.
“Mau shalat maghrib di sini?”
“Hah?” Pertanyaan Yanuar membuat Rayhan kebingungan menjawab. Ia tak berpikir orang akan mengiranya bertujuan untuk shalat. Namun apa lagi jika bukan itu tujuannya, untuk orang yang datang ke masjid di waktu menjelang adzan maghrib?
Rayhan tidak tahu, Nadin di balik pembatas dinding menahan senyum. Ternyata, ia bisa juga membawa Rayhan untuk shalat berjamaah di masjid. Ya, meskipun secara tidak langsung.
“Yuk, wudhu,” Yanuar mendorong pundak Rayhan, menuntun menuju tempat wudhu. Rayhan tak bisa berkutik. Ia tak mungkin berkata akan menjemput seseorang, terlebih orang itu adalah Nadin. Bisa gawat kalau orang lain tau.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afterlight
EspiritualBagaimana perasaanmu kalau siswa paling bandel di sekolahmu, ternyata adalah suamimu? Nadina, umur 17 tahun, tahu jawabannya. Bukan dijodohkan, apalagi married by accident. Ia sadar se sadar-sadarnya, dan menerima permintaan orang yang amat berjasa...
