"Nadin kapan balik, Ray?"
Pertanyaan itu terasa bagai guntur di siang hari bagi Rayhan. Anton, menanyakan itu dengan wajah polos tak berdosa saat mereka tengah istirahat siang hari di sekolah. Suara murid yang berseliweran di koridor terdengar riuh rendah. Khas waktu istirahat yang panjang.
"Nggak tau," jawab Rayhan pura-pura acuh. Tangannya membalik lembaran buku soal di hadapannya, namun pikirannya berkelana tentang Nadin lagi, Nadin lagi. "Ngapain lo nanyain dia?" Tanyanya.
Anton tertawa. "Santai, santai. Gue udah move on." Rayhan mendengus.
"Cuma mau minta maaf sama dia." Ucap Anton tulus.
Rayhan mendesah panjang. "Doain aja Nadin cepet balik. Semoga mama gue cepet acc."
"Acc apaan?"
"Ya nge-acc gue biar bisa ketemu dia, lah."
"Oo.."
Anton menatap Rayhan jahil. "Gimana rasanya nikah?" Alisnya dinaikkan ke atas ke bawah.
"Diem lo! Masih rahasia, awas aja lo ember."
Anton terbahak. "Iye iye. Emangnya gue lambe turah,"
Keduanya larut dalam pembicaraan. Selepas kemarin, mereka sudah akur kembali. Meski sejujurnya Anton masih belum terbiasa dengan fakta sahabatnya itu sudah menikah dengan.. gadis pujaannya. Ia menertawai kebodohannya sendiri menyukai Nadin sejak dulu, padahal teman dekatnya sudah curi start duluan.
"Lu mau masuk univ mana? Kan lo pinter." Ujar Anton. Ia mengetuk-ngetuk meja, frustasi karena semalam ayahnya memarahinya (lagi) soal kuliah.
"Yang deket rumah aja biar ga jauh dari Nadin," ucap Rayhan tanpa beban.
"YEUU! Ngeselin bener dengernya. Gini amat ya rasanya jadi jomblo."
Rayhan tergelak.
Ah, rasanya hatinya ringan sekali sekarang. Antara ia dan Anton, semua sudah diluruskan. Bahkan Gita pun sudah bersikap normal padanya. Ia mulai nyaman dengan kondisi hatinya. Kecuali fakta bahwa Nadin masih pergi jauh.
Mamanya masih belum mau memberikan kontak maupun alamat Nadin. Katanya, "fokus ujian aja sekarang! Kalau nilai kamu bagus kan Nadin jadi gak malu punya suami kayak kamu."
Uh, menusuk jiwa. Untung mama sendiri. Ia juga tak kunjung mendapat jawaban kapan gadis itu akan pulang.
Kemungkinan terburuk, Nadin dan ia akan berpisah sebenar-benarnya. Tapi itu tidak mungkin, kan? Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Rayhan sudah bertekad mengambil kesempatan kedua ini dengan sebaik-baiknya. Ia tidak ingin gagal lagi.
"Ray, gua ntar kuliah dimana ya," Anton berucap pelan. "Pusing gue mikirin tuntutan bokap, mikirin nasib Gita kalo gue tinggal. Bingung gue,"
Rayhan menepuk bahu sahabatnya itu. "Tenang, ada Allah. Sabar dan shalat. Itu penolongnya. Ngadu aja sama Allah."
Anton meringis mendengarnya. "Emang Allah masih mau nerima shalat gue? Udah taunan gue absen solat kecuali kalo lo suruh. Dosa gue kebanyakan, pasti Allah males sama gue."
"Nggak boleh gitu. Allah itu maha pemaaf dan selalu nungguin hamba-Nya."
Anton menerawang. Iya, ya?
Selama ini, ia sangat jauh dari tuhan. Berbanding terbalik dengan Rayhan. Bodohnya, ia ingin Gita bersanding dengan laki-laki baik-baik seperti Rayhan, namun ia sendiri sebagai kakaknya tidak bisa memberi adiknya itu teladan.
Selama ini, ia sangat jauh dari Allah.
"Ajarin gue dong, Ray,"
Rayhan tersenyum. "Tenang. Gue juga masih belajar. Ntar kita sama-sama belajar sama Yanuar. Kalo perlu ajak yang lain."
KAMU SEDANG MEMBACA
Afterlight
SpiritüelBagaimana perasaanmu kalau siswa paling bandel di sekolahmu, ternyata adalah suamimu? Nadina, umur 17 tahun, tahu jawabannya. Bukan dijodohkan, apalagi married by accident. Ia sadar se sadar-sadarnya, dan menerima permintaan orang yang amat berjasa...
