Assalamualaykum.. welcome back yeay🙆
Cuma mau ngabarin, AL udah update ya.. tapi chapter sebelum ini yaitu chapter 21 nggak muncul notifnya kemarin, jadi siapa tau kalian belum baca part sebelumnya. Silahkan baca dulu.
Trims, selamat membaca😊
***
"Allahu akbar.. Allahu akbar.."
Nadin terbangun oleh sayup-sayup suara adzan subuh yang menggema. Matanya menyipit, pandangannya kabur. Ia memandang sekeliling dengan mata yang masih sedikit terpejam, kantuknya belum hilang sepenuhnya. Nadin berusaha mengumpulkan seluruh kesadaran dengan membaca doa sehabis bangun tidur. Ia lantas memegang kepala, terasa ada sedikit rasa pusing yang menjalar.
Loh, tunggu. Apa ini?
Nadin meraba dahinya, ada sebuah handuk di sana. Ia berusaha bangkit, lantas mengucek mata. Ia tidak berada di kamarnya.
Ruangan gelap ini meski temaram, Nadin tau jelas bahwa ini adalah kamar Kak Rayhan. Kenapa aku ada di sini? Hatinya betanya-tanya.
Ah iya, Nadin ingat. Kemarin setelah menadi sehabis berhujan-hujanan, ia jatuh tertidur di kasurnya tanpa sempat mengganti seprei yang basah. Mungkinkah karena itu Kak Rayhan memindahkannya kesini?
Waduh, memikirkannya Nadin langsung merasa malu. Ia menepuk-nepuk pipinya. "Waaa.., malunya.."
Nadin turun dari tempat tidur dengan sedikit terhuyung. Ia penasaran, di mana kak rayhan tidur? Pasalnya, kamar tamu mereka jarang digunakan hingga mungkin harus dibersihkan dulu sepreinya jika ingin tidur di sana.
Lampu ruangan lantai atas temaran, pertanda Rayhan mematikannya tadi malam. Hanya ada lampu remang yang menyala. Nadin menuruni anak tangga perlahan, sambil memijit dahinya yang terasa pening. Tapi ia yakin, ia sudah lebih baik dari semalam karena Kak Rayhan sudah mengompresnya.
Ruang TV tampak redup, tak ada tanda keberadaan Rayhan di sana. Sepertinya Rayhan sudah berangkat ke masjid. Ah, namun sofa di depan TV masih ada selimut di atasnya, itu berarti Rayhan tidur di sini semalam. Nadin meringis, karenanya Rayhan harus tidur di sini. Tak bisa ia pungkiri, hatinya menghangat. Ia tersenyum sendiri.
Nadin memutuskan untuk menunggu Rayhan dengan menyalakan murattal. Ia menyiapkan air hangat untuk mandi. Tak beberapa lama kemudian, Rayhan sudah kembali dari masjid.
Nadin yang sedang duduk di sofa setelah membereskan bekas tidur Rayhan langsung berjengit kaget ketika mendengar gerbang dibuka. Ia tidak siap bertemu Rayhan, mengingat jika Rayhan menggendongnya tadi malam. Malunya..
"Assalamualaykum..,"
Nadin menjawab salam Rayhan dengan lirih, menyembunyikan wajah dengan berpua-pura sibuk di dapur.
"Udah bangun?" Rayhan bertanya padanya. Ia menumpukan tangan di meja dapur, memandangi Nadin yang sedang (pura-pura) sibuk dengan panci dan wajan. Nadin hanya bergumam untuk mengiyakan.
"Masih demam?" Rayhan bertanya lagi. Ia mencopot peci, menyisir rambut dengan tangan. Nadin yang melihat itu langsung mendelik, "ya Allah.. ganteng banget sih..," ia bergumam dalam hati, sambil mengalihkan pandangan karena malu. Untung sudah halal.
"Udah enggak. Makasih ya, Kak," jawabnya.
"Kamu minum obat dulu," perintah Rayhan. Ia mengambil panci yang sedari tadi Nadin pegang, lantas berujar menambahkan, "jangan mainan panci,"
Nadin tambah mendelik. Malunya, ketahuan sedari tadi hanya kurang kerjaan memegang panci. "Iyaa..,"
Rayhan mendekat, mendekatkan punggung tangannya ke dahi Nadin yang langsung melangkah mundur, menjauh. "Sini, dicek dulu panasnya..,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Afterlight
SpirituellesBagaimana perasaanmu kalau siswa paling bandel di sekolahmu, ternyata adalah suamimu? Nadina, umur 17 tahun, tahu jawabannya. Bukan dijodohkan, apalagi married by accident. Ia sadar se sadar-sadarnya, dan menerima permintaan orang yang amat berjasa...
