Seorang gadis dengan ikat rambut yang dikuncir kuda mengendap-endap melewati sebuah bangunan. Matanya awas melihat sekitar, takut ada yang melihat keberadaannya di sini. Rumput ilalang yang tinggi ia injak, menimbulkan suara gemerisik pelan. Ia terus berjalan, mencari sesuatu dalam bangunan yang tampak sudah tua dan tak terawat. Namun ia tau, bangunan itu sebetulnya masih berfungsi. Beberapa kali kawannya dari SMA sebelah mengajaknya nongkrong di sini, tempat yang mereka sebut basecamp.
Gadis itu adalah Gita.
Sekali lagi ia melihat sekeliling, mencari celah yang dapat ia gunakan untuk mengintip. Ia tahu ada sesuatu di dalam gedung, dan dirinya memberanikan diri melongok melalui kisi jendela. Di dalam sana, tampak empat orang laki-laki berseragam putih abu seperti dirinya sedang menghisap rokok. Gita menghela nafas, jangan sampai ia ketahuan.
Matanya mengenali keempat laki-laki itu. Mereka adalah kenalannya, namun merupakan musuh dari kakaknya dan juga Kak Ray. Gita memang punya banyak kenalan dari SMA lain, reputasinya baik karena ia sering mentraktir sembarang orang. Hal itu sering ia lakukan karena kesepian. Untunglah, uang jajan yang banyak dari ayahnya berguna untuk pergaulannya. Namun ia juga tak tau, kenapa gerombolan kakaknya sering sekali bermusuhan dengan geng sekolah lain. Padahal, geng Zaki—pacar jadi-jadiannya— tidak memiliki banyak musuh seperti mereka.
Kembali ke awal. Gita masih memandangi ruangan gelap itu, menelisik sekitar. Bukan mereka yang Gita cari, tapi satu orang lagi.
Nadin.
Ya, gadis itu tengah mencari Nadin. Gita tahu, Nadin ada di sini. Dirinya benar-benar nekat, membuntuti Nadin bahkan hingga ke tempat seperti ini.
Tadi, sebelum jam istirahat berakhir, ia sempat mengikuti Nadin dari kantin. Tak ada yang menyadarinya, bahkan Nadin pun tidak. Ia membuntuti Nadin hingga ke belakang sekolah, dan menemukan Nadin tengah berbicara dengan dua orang tadi. Gita sebenarnya mengenal mereka, namun karena menyadari atmosfer pembicaraan mereka dengan Nadin tak baik, ia mengurungkan niat untuk ikut nimbrung.
Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Nadin dibawa paksa menaiki sebuah mobil. Ia hampir berteriak ketika melihat jilbab Nadin ditarik. Itu pasti sakit.
Firasatnya mengatakan, Nadin dalam bahaya.
Ia bingung, apa yang harus ia lakukan. Insting kepo dan cemas berbaur menjadi satu dalam benaknya.
Gita kemudian memutar otak, melihat kemana arah mobil itu pergi. Otaknya memikirkan satu tempat, yaitu gedung ini. Basecamp geng anak SMA sebelah, ia tahu persis. Dan Gita mengorbankan waktunya untuk memesan ojek online menuju kesini, mengendap-endap masuk melalui gerbang samping.
Gita gila. Pikirnya.
Jika ia ketahuan, bisa-bisa reputasinya sebagai kawan yang baik, dermawan, dan hobi nraktir akan hilang di mata mereka. Ia bisa saja disebut berkhianat pada mereka, meski sebenarnya ia tidak mengkhianati siapapun karena ia bukan geng SMA sebelah. Gita tau, ini bukan pilihan baik untuk mengendap-endap mencari Nadin.
Ia tak tau, apakah ia hendak menyelamatkan Nadin atau tidak. Ia hanya mengikuti insting untuk datang kemari. Lebih karena didorong oleh rasa ingin tahunya terhadap urusan Nadin-Kak Ray yang membuatnya pusing dan emosi.
Ah, bodo lah. Gita menggelengkan kepala pada pikiran lain itu. Yang terpenting sekarang ia harus melihat Nadin, memeriksa apa yang terjadi padanya. Geng SMA sebelah terkenal senang curang dan tidak baik pada lawannya. Ia penasaran sekali, mengapa sampai Nadin berurusan dengan mereka. Jika bukan karena Kak Ray yang tadi sempat disebut dalam pembicaraan mereka dengan Nadin, ia juga ogah mengikuti kemari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afterlight
SpirituellesBagaimana perasaanmu kalau siswa paling bandel di sekolahmu, ternyata adalah suamimu? Nadina, umur 17 tahun, tahu jawabannya. Bukan dijodohkan, apalagi married by accident. Ia sadar se sadar-sadarnya, dan menerima permintaan orang yang amat berjasa...
