Entah Dinda yang kepagian atau Rendy yang belum datang Dinda tak tau itu. Yang pasti saat ia ke kelas XI—IPS 2 cowok itu tidak ada.
Dinda melirik arloji putih di pergelangan tangannya. Sudah jam 7 kurang 20 menit. Harusnya cowok itu sudah ada di kelas jam segini.
Melihat seisi kelas yang lumayan sepi, Dinda menghampiri meja Rendy. Duduk di kursinya bersikap seolah-olah dia Rendy versi ceweknya.
"Tumben banget Rendy belum datang," ucap Dinda sembari menyenderkan punggungnya. Pandangannya lurus sampai ia temukan sesuatu yang membuatnya penasaran di laci.
Tangan Dinda bergerak merogoh laci. Mengeluarkan kotak bekal berwarna biru tersebut, dan saat itu juga Dinda dibuat bingung. Sejak kapan Rendy suka membawa bekal?
"Rendy suka bawa bekal, ya? Pantesan aja dia jarang ke kantin. Kalau tau begini Dinda buatin bekal juga tiap hari."
Dinda berujar sendiri sampai dilihatnya seseorang memasuki kelas, Dinda langsung meletakkan kembali kotak tersebut berniat untuk pergi.
"Ehh, ada calon adek ipar. Mau ngapain dek ke sini?" Cellin bertanya saat cewek itu baru selangkah memasuki kelas. Melihat Dinda di sana membuatnya sedikit terkejut.
"Gak ngapa-ngapain kok, Cell."
Cellin Clarista. Dinda pun mengenal cewek tersebut. Salah satu cabe-cabean terkenal di SMA Harapan Bangsa, body goals dan wajah paripurnanya terkadang mampu membuat Dinda iri. Tetapi, tidak dengan sikap sifatnya. Menggoda Kelvin untuk menjadi kekasih adalah salah satu kegiatan Cellin dalam mengisi kesepian hari.
Meskipun begitu, Cellin punya bakat juga dalam beberapa kegiatan sekolah. Contoh, dia adalah ketua cheers yang diadakan di sekolah yang membuat cewek itu semakin terkenal bukan hanya dikalangan murid lokal tetapi, murid dari sekolah lain pun mengenal Cellin.
"Kakak lo mana? Kok belum datang?"
"Ada sih tadi di parkiran, cuma gak tau deh sekarang ke mana."
Cellin mengangguk.
"Kalau gitu Dinda ke kelas dulu ya, Cell."
"Ehh, tunggu." Cellin menarik lengan Dinda, membuat cewek itu menghentikan langkah serta menatap orang dihadapannya dengan semburat kebingungan.
"Ada apa, Cell?"
"Kelvin masih suka deketin Syila?"
Tanpa berpikir Dinda mengangguk. "Setau Dinda sih masih, cuma gak tau deh, ya. Dinda gak ada waktu mikirin asmara Kelvin. Mikir asmara sendiri aja belum tentu bener."
Cellin tertawa sumbang. "Lo masih suka sama Rendy?"
"Masih dong. Sampai Limbat krimbat pun Dinda masih tetap suka sama Rendy."
"Lo itu cantik, mau aja jadi bucinnya Rendy. Cowok kek mayat hidup gitu aja lo perjuangin."
"Cellin mah sama aja kek Kelvin. Suka banget jelek-jelekin Rendy. Kalian gak tau aja sikap malaikat Rendy yang tertutupi."
Cellin mengangguk berulang. "Ya ya ya ... Kelvin bener, lo keras kepala."
Dinda tak mau menanggapi Cellin lagi. Dia kesal kalau sudah ada orang yang menjelek-jelekkan Rendy. Lantas cewek itu langsung beranjak pergi. Langkahnya terburu-buru sampai tak menghiraukan seseorang yang ditabraknya.
"Anjir tuh bocah."
Dinda kenal suara itu. Galang sang kaleng soda. Dan dia tak mau berkelahi sepagi ini.
"Kalau jalan mata dipake monyet! Orang di samping lo aja gak punya mata tapi gak nabrak!"
Mendengar itu membuat Dinda menghentikan langkahnya. Bulu kuduknya merinding lantas menatap Galang nanar. Bisa dibilang Dinda itu penakut akan hal berbau mistis.
"Sekali lagi Galang jailin Dinda, Dinda kutuk Galang jadi suka sama Dinda!"
"Cih, anjlok amat selera gue suka sama botol kecap macam elo!"
Dinda menggeram. Tetapi bel masuk sudah berdering lebih dulu membuatnya menghela napas berat sembari berbalik badan dan memilih beranjak ke kelasnya. Tak menghiraukan kicauan Galang yang terus menakut-nakutinya.
-oOo-
Istirahat ini Dinda dan ketiga sahabatnya sedang berada di kantin. Menikmati makan siang dengan Dinda yang sibuk meminum es teh nya. Dari pintu masuk kantin seorang cowok menghampiri sekumpulan siswi tak lupa dengan tampang sok cool nya. Membuat siswi itu memekik kegirangan sembari menyenggol bahu salah satu siswi yang dihampiri.
"Hai, boleh kenalan gak?"
Cewek itu mengangguk gugup. "Bo-boleh."
"Kenalin gue Kelvin."
Sudah tau. Ingin rasanya cewek itu berteriak demikian. Tetapi tak sampai untuk mengucapkan itu, lidahnya terasa kelu sekaligus gugup untuk sekadar menatap manik mata hitam cowok tersebut.
"Kalau nama lo siapa?" tanya Kelvin kemudian.
Cewek itu membalas uluran tangan Kelvin. Dan dapat Kelvin rasakan tangannya yang dingin. "Krisdiana Swita Bella Angelina Salsabila."
Ini nama apa rel kereta api? Panjang banget.
Awalnya Kelvin dibuat cengo, namun beberapa detik kemudian senyumnya mengembang.
"Punya nama gak usah panjang-panjang. Ntar juga kalau pacaran gue panggil sayang."
Jdeerr!
Dinda mendesis melihat tingkah kembarannya itu lagi. Membuatnya malu sekaligus tak ingin orang-orang tau jika mereka bersaudara. Tetapi, mau bagaimana lagi, sudah terlanjur orang-orang mengetahuinya.
Setelah berhasil meluncurkan aksinya cowok itu beranjak pergi diikuti dua sahabatnya yang mengikuti. Sampai akhirnya langkah cowok itu berhenti tepat di meja Dinda membuat Dinda menatap kesal.
"Ngapain ke sini? Kayak gak ada tempat lain aja," cibir Dinda tak suka.
"Songong amat lu. Gue ke sini juga buat datengin masa depan gue."
"Habis godain adek kelas masih aja sok iye dekatin Syila. Gak tau malu banget."
Seketika wajah Kelvin dibuat sok dramatis. "Lo lihat, Syil?"
Tanpa beban Syila mengangguk. "Lihat lah, gue punya mata dan dua telinga yang berfungsi."
"Santai aja Syil jangan dimasukin ke hati, lo kan tau sendiri kalau gue cuma bercanda gak ada niat serius."
Syila mendongakkan wajah menatap Kelvin. "Berarti yang lo bilang sayang gue itu juga cuma bercanda?"
"Gak lah, kalau yang itu gue serius. Kenapa? Lo sudah mau nerima cinta gue?"
Syila mendelik. "Bangun Vin, jangan tidur terus."
Mendengarnya Dinda dibuat tertawa, sampai tawanya terhenti kala Galang melemparkan gumpalan tissue tepat masuk ke mulut Dinda.
"Gooooolllll!"
"GALANG GILA!"
TO BE CONTINUED
Maaf part nya pendek-pendek, seperti yang aku bilang aku mau selow aja gak grusa grusu😁
Jadi, kalian tim mana?
Rendy + Dinda?
Galang + Dinda?
Komen sebanyak-banyaknya gaes!!!
See you next part!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐀𝐃𝐈𝐑𝐄𝐍
Jugendliteratur[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] "Ada yang lebih simpel. Gue minyak, lo kecap Indomie, gak akan pernah nyatu."-Bukan Mariposa Rendy Arselio. Cowok pendiam penuh misteri. Memiliki aura lain membuat orang-orang takut untuk mendekati. Selain sifat diam-di...
