"APA YANG SALAH DARI JATUH CINTA?!"
Jam pendeteksi detak jantung yang melingkar di lengan kiri Dinda lebih dulu berbunyi sebelum Dinda mengejar cowok yang berada jauh di depan—berjalan tanpa memperdulikan teriakannya.
Dinda membungkuk memegang dada kiri, meminimalisir sakit di dalam sana sembari menetralkan kembali detak jantungnya. Saat jamnya berhenti berbunyi Dinda berdiri tegak dan kembali mengejar cowok yang sudah sampai di koridor sekolah.
"Rendy kenapa pesan Dinda gak dibalas?"
Rendy tidak menghiraukan Dinda yang sudah berada di sampingnya, bersikap acuh seperti biasa jika tidak ingin menghabiskan emosi sepagi ini.
"Rendy mau langsung ke kelas?"
"Itu muka Rendy keringatan lho, mau Dinda lapin?" Tidak direspon Dinda berjalan mundur menghadap Rendy, tidak tahu takut kalau-kalau ia tersandung dan terjatuh. "Rendy kenapa pesan Dinda gak dibalas?"
"Minggir, Din."
"Enggak, jawab dulu pertanyaan Dinda."
"Yang mana?"
"Kenapa pesan Dinda gak dibalas?"
"Jangan jalan mundur-mundur begitu."
"Jangan ngalihin pembicaraan."
"Din—"
Bruukk
Hal yang diantisipasi Rendy terjadi, Dinda terjatuh secara tidak estetik akibat tersandung kakinya sendiri. Yakinlah, Dinda pasti akan merepotkan.
Rendy menatap Dinda tenang tak menampilkan ekspresi apa pun, tidak membantu ataupun menolong, hanya memperhatikan Dinda yang tengah mengelus kakinya. "Gue bilang juga apa?"
"Rendy jangan ceramah dulu, bantu Dinda, gendong Dinda ke UKS," ujar Dinda sembari terus mengelus kakinya.
"Harus?"
"Iyalah."
"Gak mau."
"Kenapa?"
"Lo berat."
Dinda berdecak kesal, sampai kapan Rendy terus bersikap acuh padanya? Dinda langsung berdiri menatap Rendy dengan wajah memerah, bukan merah karena amarah, namun merah karena terkena sinar matahari tadi.
Rendy menaikan sebelah alisnya. "Itu bisa berdiri?"
"Ya bisalah, nunggu Rendy bantuin Dinda sampai perang dunia kelima juga gak bakal mau."
"Tumben pinter."
"Reeennnddyy!!"
****
Jam istirahat. Dinda, Syila, Feysi dan sabrina berjalan menuju kantin, empat serangkai yang wajah cantiknya mampu menarik perhatian para kaum Adam. Walaupun begitu, tidak ada yang berani mendekati dua diantaranya yaitu Dinda dan Syila, mereka adalah dua cewek yang dijaga ketat anak Zeleon. Dinda yang notabene kembaran Kelvin dan Syila ... cewek incaran Kelvin.
Mengapa begitu? Kelvin sangat tau otak bulus musuh-musuh jaman sekarang yang menjadikan keluarga sebagai tumbal barang taruhan, oleh karenanya Kelvin tak pernah melihatkan Dinda di depan para musuh jika pun ada yang bertanya siapa Dinda, Kelvin akan menjawab dengan berbagai macam alasan, contoh; Anak pembantu gue. Nyesek!
Diperjalanan menuju kantin, mereka dihadapkan oleh kelakukan Kelvin beserta antek-anteknya di koridor sekolah.
"Mita, ya?" tanya Kelvin pada adik kelas yang tengah asik membaca buku.
Gadis itu menautkan alis, sekaligus terkejut akan kehadiran ketua Zeleon ini.
"Bukan, kak."
"Masa bukan, sih? Perasaan bener deh nama lo Mita."
"Bukan kak, nama ku Sinta."
"Ohh Sinta." Kelvin mengulurkan tangan. "Kenalin gue Kelvin. Salam kenal Sinta."
Modusan! Syila berdecak kala melihat Kelvin melakukan hal seperti biasa. Hal yang membuat dirinya tak tertarik oleh pesona seorang Kelvin Pramata Hilton. Cowok modus, genit, play boy, PHP, sok ganteng, sok keren yang membuat Syila membatin 'ada aja cowok kayak gitu di dunia ini'.
"Ehh, hai Syila mau kemana?" tanya Kelvin yang kini sudah berada dihadapan Syila.
"Ke kantin," jawab Syila disertai senyuman hangat. Syila itu tipikal cewek pendiam, ramah, baik dan cukup pintar, penyabar hingga membuat Dinda, Sabrina maupun Feysi betah berteman baik dengan seorang Syila Florenza, cewek murah hati yang patut dicontoh sikap sifatnya.
"Mau bareng?"
"Gak usah, makasih."
Setelah mengucapkan kalimatnya Syila bergegas pergi, diikuti dua sahabatnya hingga meninggalkan Dinda seorang diri.
Dinda maju satu langkah menghadap Kelvin.
"Dinda bilangin ya Kelvin. Syila itu anak pendiam, baik-baik, mana mau dia sama Kelvin yang banyak gaya dan tingkah, sok ganteng, sok keren dan sombong."
"Syila itu sukanya sama cowok pendiam yang satu sifat sama dia, yang gak genit dan modus sama cewek lain. Gak kayak Kelvin, satu kampung semua dipacari."
Kelvin mendengus, sudah biasa mendengar sindiran kembarannya ini.
"Lebih baik jadi diri sendiri dan dibenci banyak orang, dari pada sok baik tapi munafik demi disukai banyak orang."
TO BE CONTINUED
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐀𝐃𝐈𝐑𝐄𝐍
Ficção Adolescente[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] "Ada yang lebih simpel. Gue minyak, lo kecap Indomie, gak akan pernah nyatu."-Bukan Mariposa Rendy Arselio. Cowok pendiam penuh misteri. Memiliki aura lain membuat orang-orang takut untuk mendekati. Selain sifat diam-di...
