Chapter 4

480 46 6
                                        

Angin berhembus pelan membawa kesejukan ditambah suara kicauan burung yang merdu begitu menenangkan bagi siapa yang mendengarkannya.

Namun berbeda dengan Alfia, Ajeng, Gifta dan Hany. Mereka nampak gusar dan bosan berdiam diri di taman ini yang sepi tidak ada anak-anak bermain layangan ini. Mungkin karena faktor cuaca yang panas mengakibatkan beberapa orang enggan bermain di taman asri nan bersih.

Alfia menghentak-hentakkan kakinya kesal seraya mengoceh tak jelas seperti mengikuti kicauan burung beo. "Ish, Felina sama Luna mana sih. Kok mereka gak muncul-muncul? Apa jangan-jangan mereka diterjang badai di tengah jalanan atau terseret tsunami dulu, baru mereka sampai kesini naik perahu?" Cerocos Alfia.

Ajeng menutup telinganya. Sifat Alfia hampir mirip dengan sifat Luna yaitu sama-sama cerewet.

"Mana gue tau. Gue kan daritadi disini dan tentunya gak ngantongin mereka." Lawak Ajeng sangat garing. Niatnya ingin mengikuti lelucon Luna, tapi nyatanya ia tidak bisa.

"Garing banget. Kek kerupuk." Balas Alfia meledek disertai memeletkan lidahnya.

"Apa lo gak suka?!" Tanya Ajeng yang sudah naik satu oktaf.

"UDAH-UDAH LO BERDUA GAK USAH RIBUT DISINI." Bentak Gifta.

"Gue cuman bercanda doang sama Ajeng." Ujar Alfia, lalu merangkul bahu Ajeng sambil cengengesan memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

"Apa? Alfia berjanda?"

"WHAT THE HELL? KALIAN UDAH JADI JANDA BERAPA DETIK?"

Suara teriakan yang sangat mereka kenali itu membuat mereka menoleh dan menatap datar kepada sang pelaku. Felina dan Luna yang baru datang, langsung memasang wajah panik ketika mendengar kalimat 'berjanda'.

Alfia ingin sekali meninju mulut Luna agar tidak berteriak di sembarang tempat. Tapi, niatnya harus diurungkan karena Luna adalah sahabatnya.

"Terserah lo, Lun." Ucap Alfia lalu memutar bola matanya malas.

"Kalian darimana sih?" Tanya Hany mulai membuka mulut, sebab ia sangat sibuk menghitung semut di semak-semak. Memang kurang kerjaan.

"Kita itu sampai lumutan tau disini. Emang dikira tugas gue nungguin lo doang apa?" Kalimat yang diucapkan Gifta terlalu nge-jleb banget sampai ke hati dan ginjal.

"Maaf. Ini nih gara-gara Luna yang tidur gak bangun bangun." Sindir Felina. Ia tidak ingin disalahkan.

"Emang dikira gue mati apa?!" Tanya Luna yang sudah tersulut emosi.

"Stop! Ini sebenarnya mau jalan-jalan atau berantem sih?" Ajeng berniat ingin memisahkan keduanya dengan nada sedikit bentakan.

Felina dan Luna terdiam.

"Woy, Cepetan! Sopir gue udah nunggu disana." Ucap Gifta, lalu pergi duluan meninggalkan tempat ini menuju parkiran.

Ajeng, Luna dan Felina mengikuti dari belakang dengan saling menyenggolkan bahu dan dorong mendorong. Mereka tersadar ada dua orang yang masih disana.

"234, 235, 236, 237..." Hany sangat serius menghitung jumlah semut yang berjalan berbaris memasuki sarangnya.

"238, 239, 240, 241, 242..." Alfia juga ikut menghitung jumlah semut karena ia sangat suka belajar membaca.

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang