Chapter 29

170 39 2
                                        

Sepuluh menit berlalu, tetapi belum ada balasan apapun. Felina mulai jengah mendengar suara berisik dari balik pintu yang Felina yakini itu ulah Fahri, menggedor-gedor pintu. Gadis itu jadi tertawa sendiri.

Ting!

Felina menyalakan ponselnya dan ia mengangguk setelah membacanya.

Luna
Kak Luna lagi Sekolah.
Ini aku Caca.🙂

Felina
Ohh, ternyata Caca.

"WOY DEK BUKAIN PINTU!" Teriak Fahri terdengar semakin jelas sampai indera pendengaran Felina, di tambah lagi suara ketukan pintu berulang kali, hampir saja gadis itu melempar ponselnya ke sembarang arah.

Felina mendengus sebal lalu menatap pintu sekilas, meletakkan ponselnya sambil berjalan menuju pintu. Kalau terus dibiarkan begini, takutnya pintu kayu itu akan rusak.

Felina memegang gagang pintu dengan malas. Setelah terbuka lebar, ia langsung bersedakap dada. "Apa?!"

***

Cuaca ini entah kenapa sangat panas membuat Hany dan Ajeng bercucuran dengan keringat, padahal mereka berdua tidak bermain lari-larian. Sepertinya sekarang memang waktu yang tepat untuk membeli es krim. Kini, keduanya melewati koridor yang paling dekat dengan kantin hingga sampai juga di tempat penjualan es krim.

Ajeng lebih dulu membuka suaranya. "Ibu, saya mau beli es krim mangganya satu." Ucapnya, menyebutkan rasa es krim yang paling disukainya sejak kecil sampai sekarang. Ajeng merogoh sakunya, mengambil selembar uang untuk dibayarkan.

"Aku mau beli es krim cokelat." Ucap Hany. "Tapi aku beli tiga." Sambungnya, antusias sekali.

Ibu penjual memberikan es krim sesuai jumlah yang sudah diminta oleh Ajeng dan Hany, lalu keduanya menyerahkan uangnya masing-masing. "Makasih." Ucap Ajeng dan Hany berbarengan.

"Makasih kembali." Jawab ibu penjual.

Setelahnya Ajeng dan Hany meninggalkan tempat ini yang sudah mulai ramai, berdesak-desakan dan saling berteriak. Hampir saja mereka terdorong oleh murid yang memasuki kantin lewat jalan yang tadi keduanya lewati. Ajeng dan Hany berjalan dengan cepat sebelum jalan mereka terhalang dan semakin gerah akan hawa yang tidak ada celah sama sekali memasuki ke Kantin ini.

Cukup lama mereka telah menghindar keramaian, akhirnya keduanya dapat menghirup udara segar di sepanjang perjalanan menuju kelas. Sedikit demi sedikit, panas tergantikan juga oleh angin yang berhembus pelan ketika melintas di depan ruang guru.

"Han, beli es krimnya kok banyak? Buat siapa?" Tanya Ajeng. Ia berpikir mungkin saja ada yang menitip es krim kepada Hany atau untuk Hany sendiri. Tapi Ajeng tak yakin jika Hany menghabiskan tiga buah es krim.

"Buat aku lah." Jawab Hany kemudian menjilat es krimnya. Sementara dua es krim ini masih dipegang Hany. Ia sangat menyukai sekali yang namanya es krim, apalagi di musim kemarau ini.

"Doyan sih doyan, tapi jangan sampai segitu juga kali." Ajeng geleng-geleng, lalu ia baru membuka es krimnya yang masih terbungkus.

***

"Kalo Lo benci sama gue ya bilang langsung di hadapan gue! Jangan jadi pecundang, yang cuman bisa nulis di kertas doang! Hahaha..." Alfia mengikuti ucapan Ajeng waktu lalu sama persis saat orang yang tengah disindir kini tengah memasuki kelas dengan wajah santainya.

Baru setelah diingatkan oleh kata-kata itu, wajahnya sedikit berubah.
Ya... Ajeng merasa tersindir dan menjadi malu ketika mengingat perkataannya sendiri. Entahlah kenapa Ajeng bisa mengatakan itu dengan ketus, yang pastinya langsung keluar begitu saja dari mulutnya.

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang