Chapter 58

103 31 2
                                        

Dalam keadaan temaram tangan Luna meraba dinding kamarnya untuk mencari saklar lampu berada. Setelah mencapainya ia menekan saklar tersebut, dan kamarnya menjadi terang.

Lalu Luna menaruh tasnya asal di atas lantai, tubuhnya ia baringkan di atas kasur tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu. Karena kini ia sangat lelah.

Pandangannya menatap langit-langit kamar dengan pikiran kosong, merasa bosan di rumah sendirian.
"Sebenarnya gue bingung milih otak atau hati." Gumamnya tiba-tiba, masih posisi yang sama.

"Otak gue bilang harus percaya kalau Alfia itu yang hampir membuat nyawa Clarissa melayang."

"Sementara di satu sisi, hati gue bilang harus percaya kalau Alfia bukan orang seperti itu." Lanjutnya dengan wajah bingung.

"Tapi sih biasanya gue ngandelin otak buat mencari jalan keluar, daripada hati yang kadang-kadang gak tepat sama apa yang gue pikirin."

"Apalagi mata gue udah pernah ngeliat kejadiannya langsung, dan benar kalau Alfia yang salah, kan?"

"Terus kenapa Clarissa yang dikeluarin dari Sekolah? Bukannya dia jadi korban?"

"Gue yakin pasti ini ulah Alfia yang buat Clarissa dikeluarin dari sekolah."

"Gue juga yakin pasti gara-gara Alfia, Clarissa jadi nge-block nomor gue dan yang lainnya karena diancem sama dia. Licik emang"

Luna melanjutkan omongannya lagi sambil tersenyum aneh. "Beberapa hari ini emang Lo masih hidup tenang dan damai di sekolah karena punya dua teman. Tapi jangan harap kami semua takut dengan ancaman dia."

"Lo hanya bertiga, sedangkan satu sekolah udah membenci Lo dan menjauh dari Lo."

"Lihat aja gue dan yang lainnya pasti akan buat bukti sendiri dan akan kita laporin ke kepala sekolah."

"Tinggal tunggu beberapa hari lagi, bukti itu akan jadi."

Lalu ia bangkit dan mengambil ponselnya diatas nakas. Ia membuka galeri yang baru ia sadari jarang sekali ia buka, dan langsung ia terdiam melihat beberapa foto berjumlah enam masih tersimpan disitu.

Kemudian Luna mulai menghapus semua foto-foto yang terdapat Alfia, Hany dan Ajeng dengan hati penuh kebencian. Setelah itu, Luna mengecek WhatsApp nya dan ia baru sadar kalau Luna belum keluar dari Grup FAGLAH.

Luna tersenyum sinis, lalu ia menekan tulisan keluar dari grup.

Sebelum Luna menaruh ponselnya, ia juga menyempatkan diri untuk mengecek kontak Clarissa.
Profilnya tidak terlihat, status WhatsApp tidak terlihat, Last seen di profil tidak update, chat tidak lagi bisa terkirim dan tidak bisa melakukan panggilan telepon. Hingga Luna kesusahan untuk menanyai kabar Clarissa.

Namun otak dan hatinya tetap meyakini karena Alfia, Clarissa memblokir nomor semua orang.

Lagi-lagi ia hanya berpikir karena Alfia.

"Seperti keinginan yang pernah Clarissa bilang ke gue, gue bakal berusaha mungkin buat ngeluarin Alfia dari sekolah. Balas dendam tetap berlaku."

Sebentar lagi, Luna akan menyelesaikan bukti palsu yang telah dibuat oleh beberapa orang yang disuruhnya.

Kata Luna, yang penting punya duit banyak buat bikin bukti palsu yang meyakinkan, pasti jadi dah.

Memang mata hati Luna sudah tertutup. Dia tidak mau mencari kebenaran, dia yang justru membuat kebenaran palsu. Entahlah sampai kapan Luna terus begini. Bukan hanya Luna saja, tapi Felina dan Gifta.

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang