Alfia memprotes, "Lo siapa sih?! Sok tau banget sama masalah gue! Ketemu aja gak pernah! Udah deh mending Lo pergi aja dari sini, daripada gue bunuh Lo disini!" Saking kesalnya dengan gosip itu, Alfia sengaja asal ngomong dan sekalian mengetes, apa dia sama halnya ketakutan? Alfia yakin, dia pasti jadi percaya karena mendengar omongan terakhirnya.
Terdengar suara tawa pecah yang keras hingga membuat suaranya sedikit menggema di ruangan ini. Alfia menurunkan tangannya dari bahu dia, tanpa menghilangkan rasa keterkejutannya. Suara tawa sangat ia kenal, bahkan sudah hapal.
Alfia baru ngeh siapa orang yang kini membelakanginya. "Lo-lo, kenapa bisa?..." Tak sanggup bertanya, suara Alfia menjadi terbata-bata dan tak percaya. Mulutnya masih terbuka lebar, tanpa mau menutup terlebih dahulu, tanda rasa terkejutnya.
Dia membalikkan badannya cepat dengan suara tawa yang tersisa lalu menurunkan tudung jaketnya sehingga tampaklah wajah dia, sempurna. "Gimana akting aku? Bagus gak? Bagus gak? Kamu pasti ngira aku Felina atau Ajeng, kan, kan, kan?" Dia menyerang dengan berbagai pertanyaan beruntut-runtut sambil ia memegang kedua telapak tangan Alfia dengan mata berbinar.
Pasti kalian sudah tahu siapa dia.
Alfia menutup mulutnya dan menggertak giginya tanda ia sangat geram. "Hanyyyy!" Alfia ingin marah-marah plus mengoceh, tapi melihat wajah Hany yang polos dan tak mengerti apa-apa, jadi Alfia memilih meredamkan emosinya.
"Oh, maaf." Dia segera melepaskan tangannya. Dan tertawa tidak jelas menunjukkan giginya yang rapi. Mungkin dia senang.
"Aktingnya bagus kok, bagussssssss banget. Sampai-sampai aku ngira Felina sama Ajeng, atauu Giftaa yang ucapannya pedes bangett." Jawab Alfia, menekankan seluruh perkataannya. Di waktu ini sepertinya tidak tepat menemui Hany sebab keadaannya acak-acakkan.
Hany tertawa lagi, senang banget. Akhirnya Hany berhasil membohongi Alfia. Aktingnya ampuh membuat Alfia geram dengan ucapannya yang lumayan menusuk.
Karena dulu biasa mendengar omongan pedasnya Gifta, Hany belajar mengikuti. Karena Felina terkadang menyebut Clarissa dengan panggilan Melissa, Hany mengikutinya. Serta karena suara tawa Ajeng bagaikan mbak kunti, Hany berusaha mencobanya.
Hany berusaha mengingatkan Alfia dengan aktingnya itu, namun entahlah bagaimana dengan mereka. Kata Hany, walaupun sejahat-jahatnya mereka, tetap perbuatan mereka tak akan terlupakan bahkan sampai selamanya akan terus begitu.
Mata Alfia berkaca-kaca, bukan ia sedih, melainkan bukti ia terharu.
Hany menggenggam erat tangan kanan Alfia berusaha menguatkan satu sama lain. "Aku gak percaya dengan berita itu!" Ucapnya dengan tegas.
"Aku tidak sama dengan mereka. Aku berbeda. Aku Hany yang sedang mengucapkan janji hari ini akan mendukungmu dari belakang dan tidak akan meninggalkan seorang sahabat sejati menangis sendirian." Lanjutnya membuat Alfia benar-benar tertegun. Kejutan ini diluar dari dugaan Alfia.
Apakah ini mimpi? Kalau mimpi, tolong bangunkan Alfia! Bangunkan! Alfia mohon!
Namun penglihatan Alfia tidak berubah, masih tetap Hany menggenggam salah satu tangannya erat seakan memberikan kekuatan. Kata senang yang cocok disandingkan dengan keadaan sekarang. Terimakasih.
Isak tangis terharu perlahan mulai terdengar. Alfia melepas tangannya lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian Alfia menurunkan telapak tangannya, gantian Alfia yang memegang dahulu tangan Hany tapi indera penglihatannya masih berlinangan air mata.
"Makasih, Han. Aku gak nyangka hiks--masih ada sahabat yang masih peduli dan percaya. BILANG KE GUE KALO INI BUKAN HALUSINASI, Please, kamu jangan halusinasi doang dan tiba-tiba menghilang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]
Aktuelle Literatur"Persahabatan sejati kami tidak akan mudah hancur bila tak ada satu pengkhianat." Berawal dari Hany, Felina, Ajeng, Alfia, Luna dan Gifta memasuki SMP Winanta. Mereka menjadi sebuah sahabat sejati dan berjanji akan saling menjaga satu sama lain. Ala...
![Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/205211547-64-k671310.jpg)