Chapter 32

145 40 2
                                        

Bu Mira keluar dari kelas dan tepat bersamaan bel berbunyi mengisyaratkan jam istirahat telah tiba. Untungnya di luar sana gerimis sudah berhenti. Jadi istirahat kali ini bisa jajan di Kantin. Secara bersamaan para murid hendak keluar kelas, namun Clarissa lebih dulu berjalan dengan tergesa-gesa. "Misi-misi gue mau lewat duluan! Jangan halangin jalan gue!" Ucapnya memakai sarung tangan lengkap dengan antiseptik guna berjaga-jaga. Murid yang tadinya ingin keluar kelas, terpaksa minggir daripada mendengar suara Clarissa yang cempreng dan lebay pada stylenya.

Setelah Clarissa pergi, Gifta yang melihat kejadian itu tanpa sadar meremas kertas menjadi gumpalan dan melemparnya asal. "Tuh anak kayaknya mau ngajak ribut ya!" Ujar Gifta mengeluarkan semua kekesalan di dalam hatinya.  Hello, memangnya Clarissa siapa seenaknya berkelakuan seperti itu.

Felina dan Ajeng menoleh, sama-sama khawatir. Takutnya akan terjadi pertengkaran dahsyat sesama siswi versi jambakan ala emak-emak rempong. Bisa-bisa mereka akan dipanggil oleh kepala sekolah dan dihukum berjoget didepan umum menggunakan lagu semar mesem. No, no, no, I mean masing-masing orang tuanya akan dipanggil ke Sekolah dan dilanjutkan pertekarannya oleh orangtua mereka. Sama aja sih.

"Jangan ribut sama Clarissa, Gif." Felina melarang.

"Mending main Barbie-barbiean aja yang lebih menyehatkan." Saran Ajeng, ngawur.

Hany menambahkan. "Barbie nya minjem sama Caca aja. Aku yakin pasti dia punya. Ya gak, Lun?" Tanyanya kepada Luna, namun dia masih dalam mode diamnya.

Kekesalan Gifta semakin menjadi-jadi, alhasil Gifta menjitak Luna yang tidak bersalah. "Ajeng! Hany! Lo berdua jangan bercanda!" Ucap Gifta dengan ketus.

"Yaudah siiihhh..." Jawab Ajeng malas, terlalu terbawa perasaan.

'Salah gue apa?' Batin Luna mengasiani dirinya sendiri sekaligus merenung. Dari tadi Luna hanya diam, tidak menjawab komentar-komentar mereka. Lalu mengapa ia yang harus dijitak?! Sungguh ini, TIDAK ADIL.

"Lunaaa, kok kamu dari tadi gak ngomong sih?" Tanya Hany yang mulai menyadari.

Luna tidak menjawab.

Ketika diamati, sepertinya sifat Hany tengah berpindah ke dalam diri Luna, I think so. Ucapan Luna waktu lalu ditepati hingga sekarang. Padahal dalam hatinya Luna sudah meminta untuk berteriak.

Melihat sifat Luna yang sekarang menyadarkan Felina dan teringat akan sesuatu. "Lun, lo keinget sama omongan gue yang nyuruh Lo diem?" Tanyanya.

Luna mengangguk.

"Oke. Sekarang Lo terserah mau berteriak." Ucap Felina, ter-pak-sa daripada melihat Luna sepertinya sedang galau.

"HORE! AKHIRNYA GUE BISA TERIAK! AYO GUYS KITA KE KANTIN!" Luna paling bersemangat dan berjalan menuju pintu. Perubahan sifatnya sangat begitu cepat.

Felina mengedipkan matanya berkali-kali, mendengar teriakan Luna sudah sangat mirip dengan suara hujan petir tadi. "Nyesel gue, bolehin Luna teriak lagi."

"Lo sih! Kalo dimarahin sama orang gara-gara teriakan Luna, Lo mesti tanggung jawab." Ucap Ajeng dalam bentuk ancaman.

"Berisik Lo berdua!" Ucap Gifta dan langsung mendorong mejanya asal lalu berdiri. "Ayo ke Kantin!"

"Ya." Jawab Felina dan Ajeng singkat kemudian sedikit lagi mereka ingin keluar dari pintu ini.

"Alfia, kamu gak ke Kantin?" Suara Hany berhasil menghentikan mereka. Sedari tadi Alfia tidak ikut pembicaraan. Diamnya ini lebih aneh daripada Luna.

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang