"Ini semua gara-gara Lo!"
Clarissa justru menyalahkan Alfia, wajahnya memerah menahan emosi, tapi matanya mendung seperti ingin menangis. keduanya memilih berhenti sebentar untuk memeriksa keadaan di belakang, tidak ada siapa-siapa lagi.
Bagaimana ini dapat berpencar, entahlah Alfia dan Clarissa yang berjalan terlalu cepat sehingga Davina dan Destria tertinggal dibelakang, bisa jadi Davina dan Destria yang meninggalkannya. Tapi alasan kedua sedikit tidak masuk akal.
"Salahin gue aja terus." Cibir Alfia memutar bola matanya malas seakan tak peduli, walaupun aslinya ia sangat takut. Berjalan di wilayah hutan yang gelap gulita.
"Argh.. gimana bisa mereka gak ada dibelakang!" Clarissa jadi frustasi sendiri, sering menjerit dari tadi.
Alfia pikir Clarissa takut dengan suasana ini. Itu bagus!
"Tunggu aja dulu, kali aja mereka ketinggalan." Saran Alfia, namun tidak ada balasan dari Clarissa. Alfia tidak melihat wajah dia karena Alfia tengah menatap ke arah kiri.
"Bener nggak sih ini jalannya?" Tanya Alfia tapi tidak ada balasan lagi.
Karena penasaran akhirnya Alfia menengok ke kanan dan terkejut ketika Clarissa tidak ada. kemudian ia berbalik badan dan lebih terkejutnya ketika Clarissa yang berjalan lebih dulu, lebih gilanya lagi tanpa penerangan.
Alfia memilih menyusul Clarissa. "Emangnya lo berani jalan sendirian tanpa senter?" Tanya Alfia lalu mengarah kembali senternya ke pohon besar yang membuatnya penasaran setengah mati. Sedikit demi sedikit terlihat sesuatu warna--hitam kecil yang berada di pohon itu. Entah kenapa Alfia jadi merinding.
"Berani lah! Emangnya Lo-- penakut!" Balas Clarissa.
"Sama hantu?" Alfia menyipitkan matanya ketika melihat Clarissa yang ragu.
Ucapan Clarissa jadi terbata-bata. "Yaaa---beranilah."
Ketika melewati pohon besar itu, tiba-tiba aura berubah menjadi seram dan mencekam, suara burung hantu juga terdengar dan menyusul suara rumput yang bergoyang hingga bercampur aduk.
Kresek.. kresek..
"AAAAAAA......"
Tak bisa menahan diri, akhirnya Clarissa kabur lebih dulu, baru setelahnya Alfia ikutan berlari. Tentu saja larinya Clarissa lebih cepat sehingga hampir Alfia kehilangan jejaknya.
***
Sepuluh menit kemudian mereka berhenti dengan nafas yang terengah-engah, seperti habis dikejar oleh sosok hantu. Untungnya suara itu sudah menghilang.
"Sa, sadar nggak sih dari tadi kita gak nemuin panah penunjuk." Alfia masih fokus menatap ke depan untuk mencari arah sebab sedari tadi mereka berkeliling tidak menemukan panah penunjuk arah sesuai yang dikatakan oleh guru pembina.
Katanya sebelum melakukan jurit malam, di bagian batang pohon terdapat panah penunjuk arah, namun dari sekian banyak pohon yang telah dijumpai tidak menemukan apa-apa. Apakah kemungkinan Clarissa dan Alfia nyasar di sini?
Alfia pikir memang begitu.
"Dari tadi udah sadar!" Jawab Clarissa jutek sambil bersedekap dada mengikuti arah jalan yang dipilih oleh Alfia, walaupun malas dan ingin menyemprot antis nya.
Alfia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 12 kurang lima menit pantas saja suasananya mulai mengerikan.
Cahaya senter perlahan remang-remang dan dalam hitungan lima detik, senter mati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]
Fiksi Umum"Persahabatan sejati kami tidak akan mudah hancur bila tak ada satu pengkhianat." Berawal dari Hany, Felina, Ajeng, Alfia, Luna dan Gifta memasuki SMP Winanta. Mereka menjadi sebuah sahabat sejati dan berjanji akan saling menjaga satu sama lain. Ala...
![Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/205211547-64-k671310.jpg)