Dug!
"Aww." Chika mengaduh kesakitan ketika dua bola voli mengenai kepala belakangnya secara bergantian. Kalian tahu tidak besar dan berat satu bola voli semana? Apalagi dua bola voli terkena kepala. Namun untungnya Chika tidak pingsan, walaupun bagian kepala belakangnya nyeri.
Semua murid menghampirinya dengan wajah panik termasuk Clarissa dan bertanya-tanya.
Kebanyakan bertanya tentang Kepalanya sakit gak? Mau diantar Uks? Dan Chika menggelengkan kepala cepat.
Alfia mengelus pundak Chika, padahal disini yang sakit kepala sekaligus berkata, "Makasih, Chika, udah lindungin gue. Tapi gue juga minta maaf, gara-gara gue Lo jadi kena sasarannya---" Alfia ingin melanjutkan kalimatnya membuat yang lainnya penasaran tapi ia langsung menggeleng. "Bukan siapa-siapa kok. Beneran Lo gak papa."
Pada saat itu muncullah dua kakak kelas yang sama pernah Felina dan Hany temui. Salah satu cowok berkata dengan keras membuat pandangan murid teralihkan sejenak. "Kasian banget ya, dia dikhianati sama sahabatnya sendiri dan akhirnya jadi bukan siapa-siapa lagi."
"Tapi dia gak papa kan?" Tanya salah satu cowok.
"Gak sih. Dia dilindungi sama seseorang dan salah seorangnya kayak merasa bersalah gitu."
"Terus minta maaf?"
"Kagaklah."
"Lho kok gitu?"
"Ya kan belum lebaran!''
Kemudian dua cowok yang tengah bergosip itu berbelok kanan dan menghilang dari pandangan mata. Kini semua murid 72 kembali fokus mendengar jawaban yang keluar dari mulut Chika. "Sama-sama. Gak usah minta maaf, ini bukan salah Lo."
Mendengar itu Felina dan Ajeng kembali berdiskusi lagi. "Ngomong-ngomong siapa sih yang ngelempar bolanya?" Tanya Ajeng berbisik-bisik.
"Menurut gue, kayaknya Melissa deh?" Tebak Felina demikian. Menurut Felina pemikirannya ini tepat, tapi anehnya tanpa alasan.
"Clarissa." Ucap Ajeng datar. "Bisa jadi bukan dia gimana?" Tanya Ajeng lagi, tidak sependapat.
"Makanya Lo diem. Kita lihat kelanjutan drama ini." Ucap Felina dan dituruti oleh Ajeng. Lalu keduanya menonton kejadian ini dengan serius, tidak ingin melewatkan satu pun.
Clarissa perlahan maju dengan wajah bersalahnya dan para murid bergeser. Entahlah kenapa ini sedikit mirip yang diceritakan oleh kedua kakak kelas tadi. "Chika." Panggilnya dengan hati-hati. Kehadirannya ini membuat sebagian murid tak percaya, Clarissa yang angkuh tidak memasang wajah angkuhnya. "Gue minta maaf. Tadinya gue mau lempar ke tempat yang kosong, eh tiba-tiba dua-duanya malah kena kepala Lo." Ucapnya berniat permintaan maaf.
"Gapapa. Gue maklumin." Jawab Chika.
"Wah, Chika baik banget ya."
"Iya. Dia gak marah sama sekali kena bola."
"Padahal itu gue yakin banget pasti kepalanya sakit."
"Clarissa ternyata baik ya. Wajahnya doang yang kelihatan songong."
"Kita kenalan yok."
Berbagai tanggapan dari para murid dengan terkagum-kagum.
Namun, Alfia berbeda. Alfia berpikir seakan permintaan maaf ini, ada rencana lain dari Clarissa.
Felina mengobrol kepada Ajeng. "Chika baik ya, tapi gue keselnya sama Kalissa." Ucapnya tak menyadari jika ia salah menyebutkan nama orang.
"Cla-ris-sa." Ajeng sengaja mengeja namanya agar Felina tak salah sebut lagi. "Fel, awalnya kan tadi bolanya mau kena kepala Alfia, tapi karena Chika jadi Alfia gak kena kan. Terus kenapa Alfia gak seneng kalo dia gak kena, malah jadi bersalah?" Ajeng menjadi lebih penasaran dari sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]
General Fiction"Persahabatan sejati kami tidak akan mudah hancur bila tak ada satu pengkhianat." Berawal dari Hany, Felina, Ajeng, Alfia, Luna dan Gifta memasuki SMP Winanta. Mereka menjadi sebuah sahabat sejati dan berjanji akan saling menjaga satu sama lain. Ala...
![Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/205211547-64-k671310.jpg)