Chapter 21

223 43 0
                                        

"Fel, kamu beneran nulis ini? Tolong jawab jujur." Tanya Hany dengan aura dingin.

Alfia menganga terkejut sehingga mulutnya menganga lebar-lebar, hampir saja seekor lalat masuk ke dalam mulutnya. Namun gadis itu ada rasa tak percaya. Menurutnya ia tak yakin bahwa Felina menulis di kertas itu.

Gadis yang tengah ditanyakan itu, mendadak ngeri melihat tatapan tajam dari Hany. Sangat mengejutkan melihat Hany yang bisa memasang ekspresi marah, berbanding terbalik dengan sifat aslinya yang lugu dan tidak mudah marah.

"Gu-gu-gue..." Tanpa sadar ucapannya terbata-bata akibat Alfia juga ikut-ikutan menatapnya tajam. Felina merasa, ia sedang diintrogasi habis-habisan.

"Gue gak nemu Ajengggg."

"Lunaaa! Bahasanya jangan nemu, Ajeng bukan barang!"

Jawaban yang hendak Felina keluarkan, teralihkan oleh kedatangan Gifta dan Luna yang ngos-ngosan seperti habis-habisan.

"Lo berdua emang kemana aja?" Tanya Alfia.

"Ke semua kamar mandi yang ada di Sekolah ini. Termasuk kamar mandi cowok juga kita periksa." Jawab Luna.

"Tapi anehnya dari semua kamar mandi yang kita selediki, Ajeng gak ada disana." Tambah Gifta, gayanya sudah mengikuti Luna seperti detektif.

Hany menepuk kepalanya. Memangnya hanya kamar mandi yang harus dicari?

"Ishh, kenapa kalian cuman cari di kamar mandi doang? Taman belakang, perpustakaan, ruang kompoter, gak kalian periksa? Kalo gak yaaaa, barangkali Ajeng ada di tempat sampah, selokan dan tempat lainnya yang pernah Ajeng datangi." Desis Hany, bersidekap dada.

"Boro-boro, Han, kita nyari kesana. Luna lihat cowok cakep dikit aja langsung diikutin!" Sindir Gifta sambil menatap sinis Luna.

Luna ingin menyambar ucapan Gifta, tetapi takdir tidak mengizinkan. Suara panjang yang berasal dari bel Sekolah membuatnya menggerutu sebal di dalam hati.

Akhirnya Luna, Gifta dan Alfia duduk di kursi masing-masing.

Guru yang mengajar memasuki kelas tersebut dan memberi salam yang kemudian dijawab oleh semua murid. Hany melirik Felina yang masih terdiam, lalu Hany kembali memfokuskan pandangannya ke depan.

Felina meneguk salivanya, ia mengalihkan pandangannya kepada kertas yang berada di dalam lacinya. 'Siapa yang nulis ini sih? Semuanya jadi salah paham, apalagi Ajeng. Ini lagi, Gifta sama Luna ditulis juga disini."

Beberapa menit pelajaran baru dimulai, tiba-tiba Ajeng memunculkan diri dari pintu. "Maaf, bu, saya terlambat karena tadi saya ke kamar mandi dulu." Ucap Ajeng.

"Yasudah silahkan kamu duduk di tempatmu dan perhatikan papan tulis." Suruh Bu Karina. "Kebiasaan ya, setiap dipelajaran saya pasti ada yang terlambat masuk. Saya paling sebel kalo lagi ngejelasin, ada yang ngeberhentiin." Dumalnya membuat seluruh murid terdiam.

"Huh, padahal gue udah cari di seluruh kamar mandi, kagak ada Ajeng. Terus Ajeng ke kamar mandi mana?" Gumam Luna masih menyelidiki kasus ini. Kedua jari ditopangkan di dagu untuk mencari tahu, di kamar mandi manakah yang Ajeng datangi?

Felina mengalihkan pandangannya ke belakan, tepat ke arah Ajeng. "Kalo gue boleh jujur, gue gak benci lo, Jeng.'

'Seandainya lo gak percaya tulisan ini?"

'Atau lo gak tau bentuk tulisan tangan gue gimana ya?'

***

Gifta mengambil kotak bekal dari dalam tas ransel. Jam istirahat kedua, ia tidak ke Kantin sebab ia telah dibawakan bekal dari rumah.

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang