Chapter 11

259 40 6
                                        

Felina sangat kesal sebab ponselnya disita oleh Pak Bohit selama tiga hari. Menurut Felina, tiga hari itu lamanya seperti tiga abad ia tidak akan memainkan ponselnya. Dan juga orang tuanya pasti akan memarahi selama satu hari dua malam, tapi diungkit-ungkitnya sampai setahun lho.

Sungguh menyebalkan. Felina tidak menyukainya!

"Ish... Gue sebel! Sebel! Sebel! Pokoknya sebel banget hari ini." Teriak Felina tiba-tiba membuat beberapa teman sekelasnya yang di dalam kelas menatapnya aneh. Sekarang sudah jam istirahat, jadi kelas ini lumayan sepi, sebagian murid sudah pergi menuju Kantin.

Kriuk... Kriuk... Kriuk...

Ajeng tidak memedulikan betapa frustasinya Felina, menurutnya sih itu sangat tidak penting, tidak berfaedah dan tidak berguna. Ajeng sibuk mengunyah keripik yang tadi ia beli di Kantin. Karena kepedesan juga, Ajeng menjadi malas untuk sekedar membuka suara.

Felina yang semakin kesal karena tidak ada respon dari siapapun, ia menggebrak meja sekencang-kencangnya sehingga menimbulkan suara bising seperti disini tempatnya sendiri.

BRAK!

"Sebeeeelll....." Teriak Felina lagi prustasi.

Hany yang sedang meminum susu ultra langsung menumpahkan susunya begitu saja karena terkejut. Walaupun hanya sedikit dan untungnya tidak mengenai baju seragamnya, tapi Hany sangat menyayangkan hal itu. Hany menatap sedih ke arah mejanya yang sedikit berlumuran dengan susu.

Lalu Hany menatap ke sang pelaku. "Felina!! Susu aku jadi tumpah 'kan." Ucap Hany dengan kesal, lalu ia mengambil sebuah buku dan merobek bagian tengah buku, kemudian ia membersihkan mejanya dengan selembar kertas tersebut sebelum kawanan semut berkumpul disini.

"Masih mending susu lo tumpah. Lah ponsel gue disita sama Pak Bohit! Nyesek, Han. Nyesek." Ucap Felina dengan wajah yang disedih-sedihkan, tangannya mengusap mata seperti orang menangis. Padahal jelas matanya masih kering, tidak berlinangan air mata.

"Lagian siapa suruh bawa hp ke Sekolah!! Mau jadi cabe-cabean, Hah?!" Sambar Gifta yang mendengar yang mendengar percakapan mereka di belakangnya.

Jleb!

Ucapan Gifta nge-jleb banget sampai ke ubun-ubun.

Tetapi, Felina tidak merespon apapun. Dia hanya diam membisu.

Kriuk... Kriuk...

Gifta menoleh ke belakang. "Ini lagi malah sibuk makan aja! Kagak nawarin lagi!" Ujarnya.

Orang yang disindir menyadarinya, lalu ia menyodorkan bungkusan keripiknya ke depan Gifta. "Lo mau keripik jablay?" Tanya Ajeng yang sudah berbaik hati menawarkan makanannya.

"What is that? Keripik jablay?" Ulang Gifta tak percaya dengan nama makanan ini. Ia malah membayangkan para jablay yang berdiri di pinggiran jalan.

"Kenapa? Ada yang aneh?" Tanya Ajeng bingung dengan pengulangan kalimat dari Gifta.

"Enggak kok, enggak aneh sama sekali. Gue bagi ya." Gifta memasukkan tangannya ke dalam bungkus keripik jablay milik Ajeng, ia cengengesan tak jelas. "Makasih, Jeng, keripik jablaynya."

Ajeng mengangguk. Ia merasa aneh melihat perubahan Gifta yang begitu cepat. Biasanya Gifta selalu judes dan bernada ketus.

Di meja pojok belakang saja, Luna dan Alfia sedang mengadakan konser menyanyi. Dengan galon sebagai pengganti gendang, sapu sebagai pengganti gitar. Gayanya juga sudah melebih seorang penyanyi profesional.

"SITI ROPEAH." Teriak Luna menyanyi lagu yang sedang viral di tiktok. Tangannya dengan lincah memukul galon menyamakan nada pada lagu.

"Oi... Oi... O." Alfia ikut meramaikan dengan memainkan gitar KW, mencari kunci di sapu tersebut.

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang