Sore ini sebuah mobil melaju dengan kecepatan rata-rata membelah keramaian jalanan di ibu kota Jakarta. Mobil tersebut milik Ajeng, ia menjemput sahabatnya terlebih dahulu dan sopir pribadinya yang menyetir mobil ini.
Didalam mobil Ajeng, sudah ada Felina, Hany dan Gifta, tersisa satu orang yaitu Alfia. Makanya mobil ini sedang dalam perjalanan rumah Alfia. Sampai menunggu ke tempat yang dituju, mereka memilih mengobrol ringan.
"Selama kalian hidup di dunia ini, pernah melakukan hal yang paling memalukan gak?" Gifta memulai pembicaraan kali ini. Gadis itu sedang gabut, maka menanyakan hal itu.
"Oh, gue pernah." Ucap Ajeng setelah diingat-ingat kembali. Lalu mereka memasang wajah serius menunggu cerita dari Ajeng.
"Dulu kayaknya gue masih kecil. Umur berapa ya... Em... Sekitaran umur sembilan tahun lah. Waktu itu gue ke Mall sama Mama dan kakak perempuan gue. Gue kan muter-muter lihat baju gak tau mereka ngikutin gue atau gak. Terusss... Gue baru nyadar dan manggil kakak gue lumayan jauh lah dari situ. Tapi anehnya, dia gak nengok. Nahh gue samperin tuh sambil marah-marah. Pas gue panggil lagi, dia nengok tapi ternyata bukan Kakak gue. Akhirnya gue lari sambil muterin seisi toko baju itu buat cari Mama sambil nangis-nangis. Asli sumpah, kalo gue inget kejadian itu malu banget." Cerita Ajeng yang diambilnya dari masa kecilnya, menurutnya super memalukan!
Tiap orang pasti memiliki suatu hal hal yang paling memalukan. Sekeras apapun kalian melupakan hal itu, maka kalian jadi tambah malu sendiri. Ada yang sama?
"Aku jadi ngantuk denger kamu ngedongeng." Ucap Hany yang sedari tadi memperhatikan kata-kata yang keluar dari mulut Ajeng, tak ada satupun yang ketinggalan.
"Wahh, kita sama, Jeng, paling memalukan yaitu salah orang. Bedanya kalo gue, waktu itu gue mau nelpon abang gue. Gak diangkat-angkat kan ya. Pas tersambung akhirnya gue marah-marah, maki-maki. Orang itu kan diem ya. Terus gue lihat nama yang gue telpon. Lo tau gak siapa?" Tanya Felina menggantung.
Serempak mereka menggeleng dengan masih memasang wajah serius.
"Dia GURU SD GUE. Aduh rasanya gue ingin nyebur empang tau, salah sambung. Pokoknya gue malu, malu, malu pake bangett...." Felina menepuk kepalanya sendiri berniat melupakan kejadian itu.
"Oh yang itu..." Hany mengangguk karena Felina pernah menceritakannya.
"Njir! Gue gak ngebayang kalo gue lihat lo berdua kayak gitu." Gifta menggelengkan kepala tak percaya.
"Sampai sekarang gue gak tau deh, orang yang gue panggil masih inget kejadian itu apa enggak." Ucap Ajeng.
"Maaf, non Ajeng, kita sudah sampai." Beritahu Pak Sopir membuat Ajeng tersadar ternyata mobil ini telah sampai di depan rumah sederhana Alfia. Alamat yang diberikan pun sama persis karena Alfia telah memberitahukannya.
"Oh, kita udah sampai toh." Ajeng melihat kembali layar ponselnya untuk menelpon Alfia, namun tak diangkat-angkat.
"Udahlah kita turun dulu aja." Gifta membuka pintu mobil terlebih dahulu, baru disusul oleh yang lainnya.
Ajeng memasukkan kembali ponsel ke dalam tas ransel yang ia bawa. Lalu ia berbicara kepada Pak Sopir. "Tunggu sebentar ya, Pak. Saya mau nyamperin sahabat saya dulu." Ucapnya.
"Baik, non."
***
Tok.. Tok..
Felina mengetok pintu kayu tersebut berulang-ulang seraya berkata, "Assalamualaikum. Alfia."
Namun tidak ada sahutan dari siapapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]
General Fiction"Persahabatan sejati kami tidak akan mudah hancur bila tak ada satu pengkhianat." Berawal dari Hany, Felina, Ajeng, Alfia, Luna dan Gifta memasuki SMP Winanta. Mereka menjadi sebuah sahabat sejati dan berjanji akan saling menjaga satu sama lain. Ala...
![Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/205211547-64-k671310.jpg)