Awan mendung menyelimuti kota Jakarta sejak pagi Selasa, disertai dengan hembusan angin yang lumayan kencang. Mungkin saja siang atau sore nanti diprediksi akan turun hujan. Kali ini Luna menggunakan angkutan umum sebagai sarana ke Sekolah, karena mobil milik Papanya dibawa ke luar kota untuk bertugas disana.
Sementara mobil milik Mamanya sudah tidak ada sejak Luna belum berangkat ke Sekolah. Biasalah punya Mama penggemar Travelling dan Shopping, suka pergi kemana-mana, sampai-sampai anaknya sendiri kagak diurus. Untung aja Caca sudah mau ke Sekolah tanpa diantar Mamanya.
Angkot berhenti, menaikkan penumpang yang sama berseragam sekolah, namun dari beberapa mereka ada yang bukan bersekolah di SMP Winanta. Luna hanya bengong saja, tidak terlalu memperhatikan mereka.
"Eh, Luna, tumben Lo naik angkot?" Suara seseorang yang sempat menyebut namanya membuat Luna menengok. Oh, si Chika. Hmm, akhirnya ada satu orang yang bisa diajak mengobrol
Luna langsung menyahut, "Gak tumben, soalnya gue pernah naik angkot lebih dari tiga kali." Tangannya Luna menopang dagunya sambil menatap Chika yang ia baru sadar kalau ia jarang berkomunikasi dengan Chika. "Kalo Lo? Berangkat sekolah selalu naik angkot atau gimana?" Gantian Luna bertanya.
"Seringnya sih naik angkot. Kalo nungguin angkotnya lama, gue milih jalan kaki, soalnya jarak rumah dan sekolah enggak terlalu jauh. Tapi kadang dianter pake motor." Jawab Chika berusaha menjelaskan. Lalu ia menatap ke luar dan nampak SMP Winanta yang kian mendekat.
Yaiyalah, sopirnya aja nyetir angkot enggak karuan. Makanya jadi terasa lebih cepat.
Semuanya yang menaiki angkot ini langsung turun secara bergantian, lalu membayar. Setelah itu semuanya memasuki gedung Sekolah Winanta yang masih sama, tidak ada perubahan sama sekali.
Luna dan Chika berjalan sejajar. "Eh, Lun, Lo tau gak kenapa Clarissa dikeluarin dari sekolah?" Tanyanya.
"Enggak tau." Jawab Luna enteng. "Semua orang kayaknya gak tau alesannya kenapa. Dan informasinya itu juga kayak sengaja ditutup-tutupin begitu."
Chika menyenggol lengan Luna dengan sengaja. "Ah, Lo gimana sih? Kan Lo best friend nya masa Lo gak tau alesannya?"
"Gue juga udah ngechat dan nelepon Clarissa, ehh malah di block. Kan aneh." Ungkap Luna yang memang betul seperti itu. Ia mencoba menelepon Clarissa hendak menanyai alasan mengapa dia dikeluarin dari sekolah, tau-taunya di block.
Namun tetap yang namanya Luna, tidak merasa curiga sedikitpun dengan tingkah Clarissa. Padahal kebenaran sudah di depan mata, tapi sayangnya Luna enggan membuka mata selebar-lebarnya.
Keduanya memasuki kelas. Namun ketika Chika ingin ke tempatnya, tiba-tiba ia dipanggil Luna yang sudah lebih dulu duduk di kursinya. "CHIKA SINI DULU DEH! LO DIPANGGIL GIFTA."
"Apalagi?" Tanya Chika malas lalu berbalik badan dan menghampiri Luna dan sampingnya Gifta yang tengah memandangnya. Chika menunda dulu untuk menaruh tas.
"Sebelum itu gue mau nawarin Lo!" Ujar Gifta sengaja menggantung.
"Nawarin apa?"
"Lo mau gabung Angelsquad gak? Soalnya dua orang udah keluar, jadi jumlahnya berkurang. Kali aja Lo mau ngegantiin mereka.”
Chika justru menggeleng sebagai jawaban. "Enggak ah." Raut wajah Luna dan Gifta langsung kecewa. "Hati dan sifat gue belum kayak Angel, jadi kayak percuma gituuu. Namanya Angel doang, tapi hatinya kayak Demon." Kritiknya, namun untungnya Gifta dan Luna tidak marah.
Ucapan Chika seperti menyindir, tapi sebenarnya Chika tidak ada niat pun untuk menyindir.
"Yah sayang bangettt." Luna memasang ekspresi kecewa. "Padahal Lo sejajar sama kita."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]
General Fiction"Persahabatan sejati kami tidak akan mudah hancur bila tak ada satu pengkhianat." Berawal dari Hany, Felina, Ajeng, Alfia, Luna dan Gifta memasuki SMP Winanta. Mereka menjadi sebuah sahabat sejati dan berjanji akan saling menjaga satu sama lain. Ala...
![Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/205211547-64-k671310.jpg)