Chapter 62

124 33 4
                                        

Sesuai kesepakatan Ajeng dan Hany yang telah ditentukan, akhirnya keduanya memutuskan untuk mengajak Felina, Gifta dan Luna untuk ke rumah sakit karena mereka terus-terusan memaksa dan memohon, padahal tadinya Ajeng sudah menolak.

Kelimanya berjalan melewati koridor rumah sakit. Luna berjalan paling depan seakan dia yang paling mengerti dimana ruangan Alfia dirawat. Itu benar-benar membuat Ajeng semakin kesal dengan sifat kesoktahuan Luna, namun Ajeng berusaha diam.

Mereka terlihat santai dan nampak tidak bersalah. Mereka justru menunjukkan sifat akrabnya yang telah lama hilang, namun jangan harap Ajeng dan Hany bisa menanggapinya.

Sejujurnya Ajeng sangat gerah memperbolehkan mereka kesini. Dan Ajeng juga takut Alfia akan marah ketika mengajak mereka kesini.

Ajeng sengaja mendahului langkah mereka lalu dia membuka pintu dimana itu adalah ruangan Alfia dirawat. Setelah terbuka ternyata Alfia masih tertidur pulas, tetap pada posisinya yang kemarin.

Ajeng segera berlari menghampiri Alfia dan tiba-tiba ia menangis. "Hiks, Alfia, hiks, Lo kenapa suka banget tidur lama-lama? Beberapa kali gue kesini dan bangunin Lo, tapi Lo gak pernah mau buka mata, hiks. Apa perlu gue siram Lo pake air seember atau teriakin kebakaran kayak waktu itu baru Lo bangun?, hiks."

"Emang Lo lagi mimpi apaan sih? Kayaknya Lo lebih seneng sama mimpi ya daripada kehidupan asli Lo yang ini." Ajeng mengusap matanya yang sudah berlinangan air mata. Ia melihat Alfia yang tidak melakukan pergerakan apa-apa.

"Lo tau gak sih, Al?" Ajeng bertanya kembali, meskipun tidak dijawab oleh Alfia. "Mereka datang kesini. Gue harap Lo gak akan marah sama gue karena telah bawa mereka kesini." Kemudian Ajeng tersenyum kecut. Tetap tidak ada perubahan dari Alfia. Dia hanya diam.

Perlahan Ajeng memundurkan badannya. Karena mereka memasuki ruangan ini dan langsung terkejut melihat kondisi Alfia. Mereka berjalan lambat dan langsung memeluk Alfia. Setelah itu disusul oleh Hany yang terakhir memasuki ruangan ini lalu dia berdiri disamping Ajeng.

"Maafin gue, Al, hiks hiks. Selama ini gue jahat banget ngata-ngatain Lo dan yang lainnya. Kata pembunuh yang pernah gue ucapin, gue yakin itu pasti sangat menyakitkan. Maafffff, Al. Maaafffffff banget. Seharusnya kita support Lo untuk semangat hidup, eh tau-taunya kita yang jatuhin Lo sendiri. Hiks. Gue mohon, Al. Ini semuanya salah gue. Gue yang ngehasut semuanya buat gak ada satupun orang yang berteman sama Lo." Luna menangis duluan dalam keadaan menunduk.

"Dulu gue pernah bilang seneng banget Lo masuk rumah sakit. Tapi---tapi sekarang giliran gue lihat keadaan Lo yang--yang. Hiks." Luna mengusap air matanya dan melanjutkan ucapannya lagi. "Gue sedih lihat Lo disini dan nyeseeeeeel banget karena pernah ninggalin Lo dalam keadaan menangis."

"Maaf, gue sangat munafik, tapi sekarang gue udah sadar siapa yang bersalah. Dan gue percaya sama Lo, Al, gue mohon Lo mau nerima kita kembali sahabatan seperti dulu." Pinta Luna seenak jidatnya setelah apa yang dilakukannya dulu. Secepat itukan dia melupakan?

Ajeng mendengar ucapan Luna langsung mengeluarkan lidahnya, menganggap remeh. Dia tidak suka kepada orang yang dulunya jahat, sekarang nangis-nangis, minta maaf, dan minta seperti dulu lagi. Jika ini diposisi kalian, apa yang akan kalian lakukan?

Kalau Ajeng tidak akan mau dan memilih menjauh daripada berteman sama orang munafik. Ajeng memang baik, namun ketika melihat orang berbuat jahat, jangan harap mendapatkan maaf dari Ajeng. Berteman pun apalagi.

Kalau Hany mungkin dia cepat luluh ketika seseorang datang minta maaf dengan wajah menyesal apalagi sambil menangis. Dia memang orang yang mudah memaafkan, dan yang Ajeng takutkan ketika dewasa nanti, Hany akan dimanfaatkan oleh orang-orang diluaran sana.

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang