"Gifta Dei Valent!!!"
Gifta merasa namanya dipanggil pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara lalu menaikkan kedua alisnya seolah olah memberi isyarat 'Ada apa?'
"Panas-panas begini, kok wajah lo mendung sih?" Tanya Felina penasaran. Karena hari ini sepertinya Gifta sedang gelisah dan sedih terlihat dari kantung matanya yang hitam seperti mata panda. Pagi ini aja Gifta sudah melamun.
"Mana gue belum sedia payung lagi." Ucap Ajeng.
"Gue juga belum sedia pilus garuda." Tambah Luna.
Pletak!
Alfia menjitak kening Luna cukup keras. "Jangan lawak mulu, Lun." Ujarnya menahan kesal.
"Gifta kenapa?" Tanya Hany. Ada yang tak beres dengan Gifta hari ini.
"Gapapa." Gifta menggelengkan kepalanya cepat, berbanding terbalik dengan isi hatinya. Ia tak ingin menceritakan masalah yang sedang dialaminya.
"Lo gak bisa bohong dari kita kelihatan dari wajah lo. Kalau ada masalah cerita aja, jangan dipendam sendiri. Kita kan sahabat lo."
Ucap Ajeng bijak.
"Orang tua gue berantem." Ucap Gifta jujur. Matanya sudah meneteskan air mata tetapi langsung diusap oleh telapak tangannya. Ia tidak ingin terlihat lemah, sekalipun didepan sahabatnya.
Mereka sontak kaget. Tak tahu bahwa dibalik kejudesan Gifta terdapat sejuta kesedihan yang sengaja ditutupi.
Flashback on
"Assalamualaikum." Gifta memasuki rumahnya sehabis pulang dari Mall bersama dengan sahabat barunya. Ia tersenyum miris mendengar keributan orangtuanya berasal dari ruang tamu.
Sejujurnya, Gifta belum meminta izin kepada orangtuanya ke Mall. Gimana mau izin kalau mereka saja tak berada di rumah?
Gifta juga tak yakin apakah mereka akan mengkhawatirkannya.
"Gifta, darimana saja kamu pulang hampir maghrib?! Kenapa gak minta izin dulu sama Papa?!" Bentak Papanya.
"Kamu gak boleh ngomong kasar sama Gifta, Mas!!" Ucap Mamanya membela Gifta. Ia tak terima anak semata wayangnya dibentak.
Gifta tak memperdulikan pertanyaan itu. Ia tetap melangkahkan kaki dan tak menengok ke Papanya.
"Anak kurang ajar! Diajak ngomong itu jawab! Apa gunanya Papa ngajarin kamu sopan santun?! Kalo kamu sendiri saja gak sopan sama orang tua sendiri. Mau jadi apa kamu di masa depan! Hah?!"
"Mas!!" Bentak Mamanya.
Gifta tertawa sinis seraya menatap Papa dan Mamanya.
Cukup sudah!
Kesabarannya telah habis!
Gifta sangat muak dengan semuanya!
Selama ini ia hanya diam dan mampu menutup telinganya agar tidak terdengar suara makian dari Papanya. Tapi, ini sudah kelewat batas dan rasanya sakit sekali orang yang paling dikagumi nyatanya tidak bisa mendidiknya dengan baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]
General Fiction"Persahabatan sejati kami tidak akan mudah hancur bila tak ada satu pengkhianat." Berawal dari Hany, Felina, Ajeng, Alfia, Luna dan Gifta memasuki SMP Winanta. Mereka menjadi sebuah sahabat sejati dan berjanji akan saling menjaga satu sama lain. Ala...
![Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/205211547-64-k671310.jpg)