Chapter 59

107 33 2
                                        

Dua hari telah berlalu dengan cepat. Namun tidak bagi Alfia. Dia mengira dua hari itu sangat lambat dan melelahkan. Karena ia terus-terusan menerima Bullyan dari hampir semua murid yang membencinya.

Kemarin ia dikerjai oleh teman-temannya, mereka  menghancurkan barang kerajinan telah ia buat susah payah demi mengumpulkan tugas seni budaya, tapi Alfia hanya pasrah dan akhirnya ia dihukum kembali.

Kemarin juga sepulang sekolah, ia dilempari telur-telur busuk, tapi untungnya Ajeng dan Hany datang ngomel-ngomel, walupun bajunya sudah terkena telur-telur tersebut.

Dan kini Alfia harus mencabuti kembali kertas-kertas yang ada tulisan olokan namanya dengan pergerakan cepat, Alfia muak melihat kertas itu lagi.

Ingin rasanya dia mengadu kepada guru. Namun dia pengecut untuk bilang seperti itu, yang ada semua orang semakin membenci dan membully fisik maupun verbal (kata-kata).

Dan saat Alfia berjalan, ia teringat kembali pesan dari Ara lewat WhatsApp. That's really shocking. You know why? Alfia tahu pasti kalian akan terkejut juga.

Flashback on

Kuas, palet, talenan kayu, cat akrilik dan gambar rancangan tersebar dimana-mana di atas lantai. Memang lebih enak mengerjakannya di lantai daripada di atas meja. Tugas ini akan dikumpulkan besok, tugasnya yaitu melukis ragam hias dari bahan kayu.

Hampir satu jam-an Alfia menyelesaikannya hingga selesai. Memang Alfia bukan jagonya melukis, jadi kalau sekalinya melukis ia butuh waktu yang sangat lama. Tidak seperti Ajeng, sepuluh menit aja selesai, paling lamanya dua puluh menit lebih.

Talenan kayu yang terdapat pola geometris yang telah diwarnai dengan perpaduan warna merah, biru dan kuning itu ditaruh di atas meja belajar, guna menunggu kering cat tersebut. Lalu dengan telaten Alfia membereskan semua peralatannya, dan mengepel lantai yang terdapat sedikit cat akrilik akibat tumpah.

Setelah semuanya sudah beres, Alfia langsung rebahan di atas kasurnya yang empuk, merilekskan tubuhnya yang pegal akibat ia sering menunduk saat mengerjakan tugasnya.

Lalu dia mengambil ponselnya yang tergeletak di sampingnya. Dan muncul satu notifikasi pada layar ponsel, sebuah nomor asing.

Langsung saja Alfia membuka pesan tersebut dan ia langsung terkejut setelah membacanya.

+62*********
Hai Alfia, aku Ara.
Aku lupa menyampaikan satu pesan waktu itu.
Ternyata adiknya Iva satu sekolah denganmu.
Memang sulit menemukannya karena Iva sendiri juga tidak memberitahu namanya.
Aku hanya bisa bilang, semoga kamu bisa menyelesaikan amanah dari Iva.
Sampai jumpa😊

Alfia langsung terdiam membaca deretan kalimat tersebut dan tiba-tiba tangannya menjadi dingin. Dalam hatinya terus perang argumen tentang adiknya Iva. Dan yang paling penting, siapa namanya?

Namun sebelum berpikir tentang itu hingga terlalu jauh, Alfia membalas pesan dari Ara.

Me:
Hai juga Kak.
Makasih Kak Ara udah kasih infonya☺️.
Ya, semoga aku bisa menyelesaikan amanah ini.

Kemudian Alfia menaruh ponselnya dan merenung. Selama beberapa bulan bersekolah di SMP Winanta, Alfia tidak menemukan satu orang yang wajahnya mirip dengan Iva. Atau mungkin Alfia melupakan ciri-cirinya?

"Kayaknya adiknya Iva, diantara kelas 7 dan 8. Yang dipermasalahkan, adiknya itu cewek atau cowok?”

Nah pertanyaan itu yang lebih membingungkan dari namanya.

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang