Chapter 2

772 56 7
                                        

Luna terlonjak kaget ketika melihat seorang gadis yang berseragam sama dengannya sedang berdiri sambil tersenyum-senyum tak jelas. Luna memicingkan mata untuk mengetahui apakah benar gadis ini sosok hantu yang kurang belaian? Ralat, kurang kerjaan.

"Kenalin nama gue Ajeng." Gadis yang mengaku Ajeng mengulurkan tangan di depan Luna tanpa memudarkan senyumnya. Luna mengira gadis di depannya ini gila atau kurang waras sebab selalu tersenyum memamerkan giginya.

Luna membalas uluran Ajeng dengan tangan yang masih gemetar dan dingin. Pikirannya masih pada hantu, hantu dan hantu. Luna merapatkan semua doa-doa yang di hafalnya seperti doa mau makan dan tidur. Hanya itu saja doa yang ia hafal.

"Luna." Balas Luna. Ia sedikit lega karena telapak tangan Ajeng bisa di sentuh. Berarti Ajeng manusia.

"Hihihihi." Tawa Ajeng kembali meledak membuat Luna merinding setengah mati.

Luna melepas ulurannya dengan cepat dan menatap Ajeng takut. Tetapi, tak urung ia bertanya, "Lo manusia atau mbak kunti nyasar?" Luna berpikir mungkinkan Ajeng adalah setengah manusia dicampur dengan setengah mbak kunti yang lagi nongkrong di warteg sebelah.

"Belakang lo." Bukannya menjawab Ajeng malah mengalihkan pembicaraan. Setelah menghentikan tawa jahatnya dan menunjukkan sesuatu dari balik seragam Luna.

Luna menjadi tambah pusing. Ia ingin meminum obat untuk menghilangkan pusing yang telah menghinggap di kepalanya. Lalu ia menatap cermin yang tak jauh dari sini dan membalikkan badannya, melihat ada apa dibalik punggungnya.

"Belakang gue ada a---"

Luna membelabakkan matanya ketika melihat secarik kertas bertuliskan 'PERMISI! ANAKNYA MBAK KUNTI MAU LEWAT!!' tertempel di punggungnya menggunakan kertas ukuran A4.

What the hell? Pantas saja di sekeliling koridor ini tak ada orang yang lewat dihadapannya dan sebab tulisan ini membuat semua orang mengira bahwa ia adalah anaknya mbak kunti beneran.

Luna meremas kertas itu erat-erat membentuk sebuah gumpalan. "DASAR SAMPAH MASYARAKAT! SIAPA YANG BERANI NGEPRANK GUE KAYAK GINI? AWAS AJA LO KALO GUE TAU BAKAL GUE BEJEK-BEJEK TUH MUKA BIAR JADI HANCUR LEBUR. TERUS HABIS ITU GUE JADIIN MAKANAN BUAT MALIKA. Tapi... Lumayan juga sih kalo ketahuan orangnya bisa dapat makanan Malika gratis, hehe." Teriak Luna tambah gesrek.

Ajeng menutup telinganya mendengar suara nge-rap Luna seperti Lisa Blackpink. Mending sih kalo suaranya bagus, yang ada ini mirip banget dengan suara toa.

"Jadi disini siapa dong yang anaknya mbak kunti?" Tanya Ajeng.

"Mbak kuntinya itu---" Ucapan Luna terpotong karena ada seseorang yang mendahului perkataannya.

"Permisi, mohon maaf lantai ini akan segera di pel." Ujar Pak Edo, selaku petugas kebersihan itu menghampiri Ajeng dan Luna dengan membawa ember berwarna biru berisikan air.

Luna mengernyit heran akibat melihat sapu yang digenggam oleh Pak Edo. Lantas ia bertanya, "Loh, kok ngepelnya pake sapu?"

"Agar beda dari yang lainnya. Saya ini ingin membuat tutorial di youtube bagaimana cara mengepel lantai menggunakan sapu ijuk. Lumayankan kalo videonya viral." Jawab Pak Edo membuat Luna antusias sekali seperti anak kecil yang minta dibelikan balon.

"Kenapa gak bikin eksperimen cara membuat salju menggunakan air panas, Pak? Kalo masuk TV lumayan kali aja ada yang tertarik dan jadiin bapak sebagai TKW." Saran Luna. Ucapannya semakin lama semakin gesrek membuat virusnya dapat tertular begitu cepat seperti Pak Edo salah satu contohnya.

Pak Edo dan Luna sangat asik berbincang-bincang melupakan Ajeng yang seperti kambing conge. Kepalanya mendadak menjadi pening akibat mendengar suara obrolan tak bermutu yang secara live di depan matanya.

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang