Chapter 52

99 38 6
                                        

Hari kelima.

Jum'at ini Alfia berangkat ke sekolah bersama dengan Sinta. Ketika melewati lapangan tak jarang banyak murid diam-diam mencibir, namun juga ada yang sudah bertaubat untuk tidak mencibir, mungkin karma.

Alfia berjalan mengikuti langkah Sinta dibelakangnya. Kadangkala Alfia terus membatin, ada perasaan takut yang menyelinap dalam dirinya hingga semalam Alfia hanya tidur kurang lebih 3 jam. Seakan ada sesuatu yang membuatnya susah tidur dan akhirnya ia mimisan lagi.

Sedari tadi Sinta hanya memasang wajah datar, tidak sadar dengan apa yang tengah terjadi, dan akhirnya Alfia bisa bernapas lega, karena ada jaminan tidak ada adegan melabrak seperti yang Alfia bayangkan.

Waktu kemarin Alfia ke kantor guru, ia ditanya berbagai runtutan pertanyaan mengenai masalah bullying dan berita hoax, entahlah siapa yang sudah membocorkannya ke guru-guru. Awalnya Alfia bingung memilih jawaban tepat yang tak berbelit-belit, tapi ia kalah karena tidak punya bukti yang nyata. Hingga akhirnya Sinta dipanggil ke Sekolah oleh wali kelasnya. Lain sebagainya Alfia kurang tahu sebab ia tidak terlalu paham pembicaraan Sinta dan wali kelasnya lewat telepon semalam.

Bagaimanapun akhirnya Alfia ikhlas dikeluarkan dari Sekolah oleh kepala sekolah itu sendiri ataupun Sinta yang memintanya untuk keluar dari Sekolah ini, Alfia akan menerima keputusan tersebut.

Seburuk-buruknya hidup Alfia selama ini, ia mulai sadar bahwa hati dan otaknya butuh istirahat walaupun hanya sesaat. Ia tak tega ketika hati dan otaknya selalu tersakiti hampir tiap hari tanpa ia sadari.

Alfia menatap gedung sekolah dengan wajah tersenyum tulus. "Smp Winanta, Smp yang dulunya gue incer sampai-sampai gue rela belajar, merangkum, les matematika malam-malam, berusaha dapat juara lomba nari biar masuk sekolahnya lewat jalur prestasi, pulang sekolah Sd gue belajar sama salah satu guru, dijam istirahat kelas 6 Sd mulai jarang banget ke Kantin demi belajar dan belajar. Emang sih hasilnya begitu memuaskan gue bisa dapet juara 2, tapi juara itu udah gak ada apa-apa lagi di mata gue. Sekarang Smp Winanta ini bukan sekolah idaman gue lagi." Batinnya membuat dadanya sesak dan hampir saja ia ceroboh ingin meneteskan air mata lagi.

Setelah sampai, bisa terlihat salah satu ruangan ada tulisan 'Ruang Kepala Sekolah' tepat di bagian atas kusen pintu kayu, dibawahnya ada tulisan Headmaster.

Sebelum masuk ke ruangan ini, Sinta mengetuk pintu terlebih dahulu sebagai kesopanan. Terdengar suara sahutan dari dalam, Sinta masuk lebih dulu. Sedangkan Alfia menghembus napas pelan, menguatkan hatinya untuk menerima keputusan apapun. Baru kemudian Alfia ikut masuk ke dalam.

Di dalam sudah ada Kepala sekolah, Pak Wawan yang duduk di kursi kebesarannya. Alfia baru sadar kalau ruangan ini ada AC satu dan kipas angin satu. Ah, pantas saja udaranya sangat dingin. Fyuh.

Sinta sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Pak Wawan. Alfia duduk di kursi yang disamping Sinta.

"Tunggu dulu ya, sebentar lagi Bu Mira akan datang kesini." Ujar Pak Wawan membuat Alfia makin tegang seperti sebentar lagi akan diinterogasi. Tak menyangka kalau wali kelasnya juga ikutan kesini.

"Baik, Pak." Jawab Bu Sinta. Wanita itu melirik anaknya dan langsung tahu apa yang tengah dipikirkan anaknya sekarang.

Tiga menit kemudian pintu kembali terbuka. Dan Bu Mira memunculkan diri sambil tersenyum sedikit menunduk. Lalu Bu Mira duduk di kursinya yang telah disediakan.

"Baik. Karena semuanya sudah berada disini, saya akan mulai bertanya. Apakah anak ibu pernah membunuh orang dan pernah mendorong seorang siswi ke jurang?" Tanya Pak Wawan membuat atmosfer kali ini tiba-tiba berubah seketika.

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang